Skip to content

Menghapus Getir Musim Mudik

28 Juni 2015

mudik laka 2014_viva

Musim mudik Lebaran menjadi salah satu momentum pergerakan orang yang cukup besar di Indonesia. Lalu lintas pergerakan orang dari kota ke desa atau dari kota ke kota begitu mencolok. Mayoritas perjalanan menggunakan transportasi darat, tak pelak kemacetan kendaraan bermotor tampak disana-sini.

Pada 2014, sekitar 36 juta orang bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan dalam rentang musim mudik, yakni H-7, H+7 serta H1 dan H2 Lebaran. Masa puncak terjadi antara H-4 dan H-3 Lebaran. Tahun itu, tak kurang dari empat juta sepeda motor wira wiri. Belum lagi mobil pribadi yang sedikitnya mencapai sekitar 1,5 juta kendaraan. Penumpukan kendaraan dan antrean panjang menjadi pemandangan rutin pada masa puncak arus mudik.

Kesabaran para pengguna jalan demikian diuji mengingat kemacetan lalu lintas jalan terjadi dimana-mana. Keletihan saat berkendara, terutama ketika terjebak dalam kemacetan hingga berjam-jam, dapat mempengaruhi konsentrasi mengemudi. Hanya dengan rasa sabar dan istirahat yang memadai kemampuan berkonsentrasi masih bisa tetap terjaga.

Kesemua itu bisa terlunasi saat bertemu sanak keluarga di kampung halaman. Inilah obat spiritual yang mujarab sekaligus menumbuhkan keceriaan yang mampu menghilangkan segala kepenatan.

Ironisnya, fakta di sekitar kita memperlihatkan adanya kegetiran pada musim mudik Lebaran. Ajang silaturrahim yang semestinya diisi dengan keceriaan dan kehangatan cinta kasih keluarga terusik oleh kehadiran petaka di jalan raya. Kecelakaan lalu lintas jalan pada musim mudik pun memporakporandakan rajutan silaturrahim.

Pada musim mudik Lebaran 2014, yakni rentang H-7, H+7, serta H1 dan H2 Lebaran, menurut data Korps Lalu Lintas Mabes Polri (Korlantas Polri), rata-rata setiap hari terjadi 191 kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Kecelakaan tersebut rata-rata merenggut 41 korban jiwa. Sedangkan mereka yang menderita luka berat sebanyak 65 orang per hari dan 252 orang menderita luka ringan per hari. Inilah duka anak negeri di jalan raya.

Selama rentang 16 hari musim mudik tahun 2014 angka kecelakaan bisa ditekan sekitar 17%, sedangkan fatalitas menyusut 18%. Tentu ini tidak hadir dengan sekonyong-konyong. Ada upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stake holder) keselamatan jalan.

Lebih Serius

Sekalipun bila dibandingkan periode sama setahun sebelumnya terjadi penurunan, angka fatalitas kecelakaan selama periode mudik bikin kita bergidik. Bayangkan, tiap hari, 41 jiwa meregang nyawa. Mayoritas dari korban kecelakaan adalah dari kalangan usia produktif. Karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan keselamatan jalan untuk lebih serius dalam melindungi warga negara di jalan raya.

mudik_kecepatan kendaraan
Apalagi tahun ini jumlah pemudik ditaksir bakal meningkat sekitar 2% dibandingkan tahun 2014. Khusus yang menggunakan angkutan jalan, pada 2015, menurut data kementerian perhubungan (kemenhub) mencapai sebanyak 4.918.964 orang. Sedangkan jumlah mobil pribadi yang dipakai mudik Lebaran ditaksir sebanyak 1.686.369 unit dan sepeda motor 2.022.343 unit.

Para pemangku kepentingan keselamatan jalan seperti Kepolisian RI, kemenhub, kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), kementerian kesehatan (kemenkes) hingga pemerintah daerah dari tahun ke tahun menempatkan musim mudik sebagai perhatian utama. Mereka menggulirkan beragam program untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan para pengguna moda transportasi, terutama bagi para pengguna angkutan jalan.

Saat musim mudik Lebaran para pemangku kepentingan keselamatan jalan menggelontorkan anggaran masing-masing. Anggaran untuk mempermulus program masing-masing itu demikian menopang setiap langkah yang telah dibuat. Anggaran menjadi pelumas mesin keterpaduan dan keseriusan mereka.

Terkait dengan keselamatan pengguna jalan, hasilnya tergolong manis. Selama rentang 16 hari musim mudik tahun 2014 angka kecelakaan bisa ditekan sekitar 17%, sedangkan fatalitas menyusut 18%. Korban kecelakaan yang menderita luka ringan bisa diperkecil 16%, bahkan korban luka berat mampu dipangkas hingga 20%.

Hal yang tak bisa diabaikan begitu saja adalah hadirnya para kalangan swasta dalam meramaikan musim mudik. Sejumlah perusahaan besar dan menengah ramai-ramai membuat program mudik bersama, bahkan ada juga yang membuat program balik bersama. Para pemudik diangkut dengan bus, sedangkan sepeda motornya diangkut dengan truk. Program ini ikut menekan jumlah pengguna jalan yang memakai kendaraan sepeda motor. Hasilnya, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor merosot 15%.

Tentu saja di sisi lain, kesadaran para pengendara terkait keselamatan jalan perlahan-lahan mulai meningkat. Hal ini tak bisa dilepaskan dari peran gerakan publik untuk menyebarluaskan pentingnya berkendara yang aman dan selamat di jalan raya. Gerakan moral yang digulirkan komunitas, lembaga swada masyarakat maupun kalangan swasta ikut mewarnai torehan demi torehan yang dicapai pemerintah di jalan raya.

Keberhasilan menekan fatalitas kecelakaan lalu lintas pada musim mudik Lebaran semestinya bisa menjadi pembelajaran bagi pemerintah. Sebagai ilustrasi. Sepanjang rentang 2014, setiap harinya jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan mencapai 70-an orang. Namun, pada rentang area musim mudik anjlok menjadi 41 orang per hari. Artinya, pada rentang 16 hari musim mudik Lebaran pemerintah bisa memangkas hingga 40-an%. Kenapa?

Jawabannya adalah pada musim mudik Lebaran para pemangku kepentingan keselamatan jalan demikian bersatu padu. Mereka serius melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya masing-masing. Ketika semua tupoksi bersatupadu jadilah harmoni yang indah. Fatalitas bisa dipangkas.

Keterpaduan dengan membuang ego sektoral menjadi kata kunci dalam mencapai target penurunan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Bila skema dan praktik selama musim mudik Lebaran bisa diimplementasikan dalam keseharian, bukan mustahil target pemerintah menurunkan fatalitas kecelakaan sebesar 50% sepanjang 2011-2020 bisa dapat dipercepat perwujudannya. (edo rusyanto)

*artikel ini dimuat di koran Sinar Harapan, Jakarta, edisi Kamis, 25 Juni 2015

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: