Skip to content

Belajar Solidaritas dari Pemuda Ini

26 Juni 2015

alex bantu motor

MALAM terus merangkak menuju pelukan pagi. Lalu lintas jalan Jakarta masih tampak ramai. Kota yang semakin renta memasuki 488 tahun ini seperti tak pernah lelah.

Kawasan pusat bisnis di Segitiga Emas Jakarta masih berdenyut. Satu, dua orang sisa dari mereka yang bergulat dengan pekerjaan sepanjang hari mulai meninggalkan gedung-gedung pencakar langit. Salah satu diantara mereka adalah saya.

Malam itu saya ada janji dengan sejumlah teman untuk membahas aksi simpatik kampanye keselamatan jalan bagi para pemudik. Pertemuan dengan sejumlah pegiat ditetapkan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Lokasi parkir sepeda motor tempat saya menyimpan si kuda besi mulai lengang. Maklum, jarum jam sedang berjalan perlahan menuju tengah malam, pertanda pagi akan segera hadir. Kolega saya, Arie menemani sisa malam. Pria muda yang tinggal di kawasan Tangerang Selatan, Banten ini sama-sama ingin memindahkan sepeda motor dari halaman parkir kantor menuju tempat parkir di rumah masing-masing.

Peristiwa yang tak diduga pun muncul. Sang kuda besi tak mau beringsut. Tak ada tanda-tanda kelistrikan yang berfungsi. Motor keluaran tahun 2005 itu tampaknya ngambek. Akhirnya, diputuskan untuk mendorong menuju lokasi terdekat yang bisa membantu.

Saya mencoba menghubungi seorang teman yang memang memiliki keahlian soal mesin sepeda motor. Beruntung dia belum pulang dari kantor. Pria yang sehari-hari berwiraswasta membuka bengkel di rumahnya itu pun berjanji akan membantu. Walau, masih membutuhkan waktu sekitar satu jam setelah menyelesaikan pekerjaan kantornya.

Syukurlah, tak berapa lama hadir kolega saya yang lain, Alex. Pria muda yang sehari-hari menunggang Suzuki Satria FU ini pun dengan senang hati membantu setelah kami menjelaskan persoalan yang dihadapi Arie. Dengan sigap dia mengeluarkan sejumlah peralatan kunci-kunci sepeda motor. Langkah awal dia periksa kelistrikan sepeda motor Suzuki Thunder milik Arie. Tak berapa lama, dia memastikan pengapian sepeda motor dalam kondisi tidak berfungsi.

“Dapat dipastikan ini masalah akinya. Lebih baik dicari penjual aki kita pasang sekarang,” ujar Alex.

Ada secercah harapan. Mengingat diagnosa Alex kemudian juga diamini teman pemilik bengkel yang kebetulan tak berapa lama tiba di lokasi tempat kami memeriksa kondisi Thunder.

Arie memutuskan membeli aki baru. Sepeda motor dititipkan lokasi parkir yang dekat dari tempat kami memeriksa kondisi motor itu. Kami pun berpisah.

Pertolongan Alex di tengah malam memberi fakta masih ada solidaritas sosial di kalangan masyarakat Jakarta. Kota yang disebut-sebut memiliki individualisme tinggi menyisakan orang-orang bernurani. Orang yang tak segan membantu orang di tengah malam menjelang pagi, ketika jutaan orang merebahkan diri di atas kasur untuk beristirahat. Alex mengajarkan kepada kita bahwa solidaritas itu masih ada. Dia tak segan tangannya kotor untuk membantu sesama pengguna sepeda motor. Tak banyak cingcong slogan lantang soal ‘brotherhood’. Tak perlu mempertontonkan ‘brotherood’ lewat stiker atau jargon di jaket, Alex menunjukan masih ada kepedulian di dalam diri kita dan tentu termasuk di dalam diri Anda. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 26 Juni 2015 04:16

    Juosss
    http://motomazine.com/2015/06/26/motogp-2015-semakin-matic-ada-yang-terbaru-di-desmosedici/

  2. 26 Juni 2015 10:40

    betul…
    brotherhood itu gak cuma sekedar stiker aja.

  3. 26 Juni 2015 16:08

    joss nan … punya temen kayak gitu bikin ati adem …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: