Skip to content

Mendengarkan House Music di P20

14 Juni 2015

kopaja p20 2015

SATU persatu penumpang angkutan bus mini, Kopaja P20 naik dan turun. Sang kondektur sibuk melayani penumpang. Sang pengemudi dengan cekatan berhenti dan matanya jeli melihat calon penumpang.

Sang pengemudi sesekali ngetem atau berhenti sesaat mencari penumpang, persisnya di mulut Jl HR Rasuna Said selepas kawasan Menteng ke arah Kuningan. Sesekali dia juga menahan laju bus dan berhenti di halte yang tersedia di lajur busway. Kopaja P20 yang menyediakan fasilitas pendingin udara alias air condition (AC) memang mendapat kesempatan sama dengan bus Trans Jakarta untuk melintas di busway sejak 28 Januari 2013. Selain P20, ada Kopaja rute lain yang mendapat fasilitas serupa yakni S13 (Ragunan-Grogol), P19 (Ragunan-Tanah Abang), dan S602 (Ragunan-Monas).

Sore itu di pertengahan Juni 2015 banyak para penumpang memanfaatkan jasa angkutan umum Kopaja P20 yang melintasi rute Senen, Jakarta Pusat – Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sepenglihatan saya, mayoritas penumpang tampak sebagai besar adalah karyawan swasta. Saya naik dari kawasan Jl Surabaya, Jakarta Pusat mengarah ke Lebak Bulus yang melintasi Kuningan.

Penumpang mulai berjejal ketika bus melintas di kawasan Segitiga Emas Jakarta, yakni kawasan Kuningan di bilangan Jl HR Rasuna Said. Ketika saya naik bus berkapasitas tempat duduk 14 orang itu masih tersisa empat tempat duduk kosong. Sedangkan penumpang yang berdiri tidak ada sama sekali sehingga fasilitas pegangan tangan yang berada di bagian atas Kopaja tidak tersentuh. Namun, saat melintas di Kuningan, bus mulai dijejali penumpang hingga untuk tempat berdiri pun sudah tak ada lagi. Mereka yang berdiri memanfaatkan pegangan tangan tadi agar tidak bergoyang atau jatuh.

Di tengah itu semua mengalun cukup keras suara musik bergenre house music dari pengeras suara. Seorang pria penumpang berpakaian rapih mendekati sang pengemudi. Tampaknya dia kurang nyaman dengan suara house music yang kondang pada awal-awal tahun 2000-an itu. Sang pengemudi pun mengecilkan volume sehingga suara yang keluar tidak sekeras sebelumnya. Namun, house music tetap saja terasa mengoyak-ngoyak telinga yang tidak berselera pada musik itu.

“Kenapa sih pak sopir memutar lagu beginian sore hari,” gerutu seorang perempuan muda yang berpakaian ala karyawati swasta.

Gerutuan penumpang yang duduk di sebelah saya itu pun ditimpali oleh penumpang lainnya.

“Iya, kalau musik seperti ini mestinya buat penyemangat saat berangkat kerja pagi, Ini kan sudah sore orang lelah sepulang kerja,” sergah seorang pria yang juga berpenampilan seperti karyawan swasta.

Gerutuan tinggal gerutuan. Suara musik terus mengalun. Ketika bus melaju mendekati perempatan Kuningan saya pun turun untuk melanjutkan perjalanan dengan angkutan yang lain mengarah ke pinggiran timur kota Jakarta. Entah, apakah musik masih terus mengalun hingga terminal tempat terakhir bus yang bertarif Rp 6.000 per penumpang itu. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 14 Juni 2015 06:48

    WKkwkwkwkk, orang lelah sensitif Bro,

    Demo Kamera BlackBox untuk Mobil https://youtu.be/d6EBbsSzSI8

  2. 14 Juni 2015 10:47

    Jeb ajeb ajeb ajeb ajeb jeb ajeb…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: