Skip to content

Drama di Flyover Kuningan Sisi Selatan

13 Juni 2015

fo kuningan macet 2015

IBARAT gadis centil metropolitan, wajah Jakarta terus berbedak dan bergincu. Kemolekan infrastruktur kota terus dibenahi. Warga diharapkan menjadi lebih nyaman dan para investor pun betah kongkow di kota yang berusia 488 tahun ini.

Salah satu yang menjadi perhatian pemerintah daerah DKI Jakarta adalah di sektor transportasi. Tahun 2015, pembenahan infrastruktur transportasi pun terjadi disana-sini. Tengoklah bagaimana gemuruh pembangunan MRT. Atau, kabar paling anyar adalah niat membangun LRT. Di tengah itu semua, laju pembangunan jalan layang non tol Ciledug-Mampang pun terus melaju. Begitu juga dengan yang satu ini, flyover Kuningan sisi selatan, Jakarta Selatan.

Jembatan layang atau flyover Kuningan selatan digulirkan mulai awal 2015 dan ditargetkan rampung pada Desember 2015. Perusahaan yang dipercaya membangun adalah PT Nindya Karya. Saat saya melitas, tampak para pekerja yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Sedangkan alat berat juga tampak dipergunakan untuk mendukung pembangunan jembatan.

Hari-hari selama pembangunan menyuguhkan dramatisnya lalu lintas kota. Tak usah ditanya soal peningkatan kemacetan, tensi antrean sudah barang tentu menjadi berlipat dua. Lumrah dalam pembenahan kota. Sang penguasa kota berkata, setelah jembatan jadi beban lalu lintas jalan menjadi berkurang.
Posisi flyover Kuningan sisi selatan menghubungkan arus kendaraan dari arah timur ke barat Jakarta yaitu dari Cawang, Jakarta Timur dan Pancoran, Jakarta Selatan menuju Semanggi, Jakarta Selatan hingga ke Slipi, Jakarta Barat. Inilah salah satu urat nadi lalu lintas Jakarta. Mereka yang dari kawasan urban menuju kawasan bisnis maupun pemerintahan. Tak heran jika pada jam sibuk penumpukan kendaraan bermotor luar biasa padat. Bisa dibayangkan bagaimana macetnya jika kemudian ditambah dengan aktifitas pembangunan jembatan?

Drama pun bermunculan. Mereka yang malas antre akhirnya merangsek busway yang merupakan jalur bus Trans Jakarta. Kendaraan bermotor yang merangsek busway bermacam-macam, mulai mobil pribadi, sepeda motor, angkutan umum hingga mobil dinas. Mulai dari kendaraan butut hingga mobil mewah.

Padahal, jelas-jelas ada rambu larangan memasuki busway. Rambu yang dipasang di mulut busway juga mempertegas bahwa jalur itu dikhususkan bagi bus Trans Jakarta.

Para pedagang asongan pun ikut meramaikan jalur bus Trans Jakarta. Mereka wira wiri mencari pembeli.

Di sisi kiri jalan, para pesepeda motor yang tidak sabar akhirnya meluber ke trotoar. Fasilitas untuk pedestrian itu pun hiruk pikuk dengan deru mesin si roda dua. Mereka berlomba-lomba memangkas waktu tempuh. Padahal, kalau dihitung-hitung jumlah waktu yang dikurangi tak seberapa. Begitu juga dengan yang didapat para penjarah busway.

Ngomong-ngomong sudah sedemikian parahkah tingkat disiplin para pengguna jalan kita? Sudah runtuhkah semangat toleransi kita?

Di sisi lain, aksi jarah menjarah fasilitas publik tadi sebenarnya terancam oleh sanksi amat serius. Baagaimana tidak, regulasi yang ada menyatakan, para pelanggar rambu dan marka jalan bisa dikenai sanksi denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, bisa dijerat pidana penjara maksimal dua bulan. Entah apakah sanksi itu diterapkan atau tidak. Namanya juga drama, pasti ada sutradaranya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: