Skip to content

Ramai-ramai Melawan Arus Dewi Sartika

3 Juni 2015

lawan arus di trotoar1

SEORANG pengendara sepeda motor beradu sorot pandang. Nyaris mereka baku hantam andai salah satu diantara mereka tidak ada yang mengalah. Kejadian suatu siang pada Mei 2015 itu dipicu oleh pelanggaran lalu lintas jalan, melawan arus.

Pengendara yang sedang dalam arus lalu lintas jalan yang sebenarnya tiba-tiba dikagetkan oleh pesepeda motor yang melawan arus. Sang pelawan arus muncul tiba-tiba dari balik mobil yang parkir di sisi Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur.

Melawan arus menjadi pemandangan sehari-hari di beberapa sudut kota Jakarta. Tujuan para pelaku melawan arus tersebut mudah ditebak, yakni memangkas waktu tempuh. Ngggak percaya, coba aja tanya diri sendiri ketika mempraktikan aksi jarah menjarah di jalan raya itu.

Salah satu sudut kota Jakarta yang belakangan ini rajin menjadi ajang melawan arus kendaraan adalah di dekat Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta Timur. Lokasi persisnya adalah dari arah Jl Dewi Sartika mengarah ke Cililitan Besar atau Condet, Jakarta Timur. Kendaraan yang dari arah PGC menuju pertigaan Jambul, Jl Dewi Sartika harus ekstra waspada. Lengah sekejap saja bisa terjadi benturan.

Para pengendara jalan yang melawan arus adalah pesepeda motor. Sepintas mereka melakukan hal itu lantaran enggan mengikuti rampu putaran yang disediakan di depan PGC. Untuk memutar ke Cililitan Besar, para pengendara harus antre bisa belasan bahkan puluhan menit. Maklum, putaran di depan PGC padat dengan kendaraan yang hendak ke Kramat Jati via Jl Raya Bogor. Atau, kendaraan yang hendak menuju Halim Perdana Kusuma dan seterusnya.

Lokasi berputar itu secara jarak tempuh tidak terlalu jauh. Taksiran saya, berkisar 300-500 meter dari lokasi menerabas untuk melawan arus. Praktis dengan begitu mudah disimpulkan bahwa melawan arus sebagai alternatif memangkas waktu tempuh.

Aksi jarah menjarah itu tak mengenal waktu. Sepenglihatan saya, aksi melawan arus itu terjadi pada pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Tentu saja puncaknya adalah pada sore hari ketika arus kendaraan kian membludak. Maklum, perempatan di depan PGC merupakan salah satu simpul para urban atau warga Jakarta yang tinggal di pinggiran kota. Inilah salah atu titik kemacetan terparah di kawasan Jakarta Timur.

Kembali lagi soal melawan arus. Pertanyaan yang timbul adalah sudah demikian parahkan mentalitas pengendara kita sehingga toleransi demikian tergerus? Pertanyaan lanjutannya, demikian rendahkah kesadaran berkendara yang aman dan selamat di jalan raya Jakarta?

Mereka begitu berani mempertaruhkan keselamatan dan kenyamanan orang lain demi kepentingan sesaat. Persoalan memangkas waktu menjadi demikian prioritas. Kota Jakarta menjadi kota yang tergesa-gesa. Semua serba ingin cepat. Mulai dari mencari duit hingga mencari jabatan. Jalan pintas menjadi andalan. Tidak peduli bahwa kelakuannya itu telah melanggar aturan.

Saat ini mendarah daging, suka tidak suka, kecelakaan lalu lintas jalan masih tinggi di Ibu Pertiwi. Mayoritas kecelakaan lalu lintas jalan, yakni sekitar 42% dipicu oleh perilaku melanggar aturan. Perilagu ugal-ugalan di jalan. Tiap hari, 70-an jiwa melayang akibat kecelakaan di jalan.

Semestinya, bila merujuk fakta data itu kelakuan mentaati aturan adalah ikhtiar dalam mereduksi potensi terjadinya kecelakaan di jalan. Setidaknya menjadi upaya untuk memangkas fatalitas. Tak perlu mencicipi ganasnya kecelakaan barulah mentaati aturan di jalan. Iya kan? (edo rusyanto)

Iklan
10 Komentar leave one →
  1. 3 Juni 2015 06:20

    Salah satunya juga ketidak tegasan dlm penegakkan hukum

    • 3 Juni 2015 11:38

      setuju dengan yg ini.

  2. 3 Juni 2015 06:21

    Reblogged this on KLONING BLOG.

  3. 3 Juni 2015 08:43

    di Jalan Ciledug Raya sudah lama, Om. kalau pagi, arah ke Blok M menggila makan arah sebaliknya 😦

    • 3 Juni 2015 11:38

      mempertaruhkan keselamatan diri dan orang lain demi kepentingan sesaat?

  4. Andra permalink
    3 Juni 2015 13:33

    Ini sudah soal mental dan pola pikir ya? Sebab walaupun ada aparat, mereka hanya patuh pada saat aparat hadir. Selebihnya kembali lagi sesuka udel mereka.

    • 3 Juni 2015 14:04

      mentalitas jalan pintas persisnya yah?

  5. rahman permalink
    4 Juni 2015 08:36

    Di depan PGC itu seandainya tidak banyak angkot yang seenak udelnya asal parkir atau ngejogrok sembarangan, menurut saya lebih praktis memutar arah di Lampu Merah PGC. Alhasil akibat ulah kendaraan umum yg slalu buat ibukota smerawut itu juga bisa saya simpulkan menjadi dasar pengendara berpikir untuk memangkas waktu. Nungguin Angkot-angkot itu ? =)) bisa naik darah. Apalagi kalau bawa anak/istri di kendaraan roda dua kita.

    • 4 Juni 2015 14:15

      disinilah yg saya maksud Negara wajib melindungi keselamatan para pengguna jalan. Penertiban angkot yang ngetem sembarangan menjadi domain Negara via pemda (dishub). Kita berharap Negar menyadari hal ini. salam.

Trackbacks

  1. Lawan Arus Berakhir dengan Penutupan Beton | Edo Rusyanto's Traffic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: