Skip to content

Sopir Truk pun Tak Sudi Melibas APILL Ini

2 Juni 2015

malam di jakarta

ARUS lalu lintas jalan sangat ramai di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Perempatan jalan yang menghubungkan pusat keramaian di Pasar Rebo dengan Jakarta Selatan dipadati beragam kendaraan. Maklum, inilah salah satu sumbu bagi para urban untuk menuju Bogor, Depok, Bekasi, dan sekitarnya.

Menjelang perempatan jalan, malam itu arus kendaraan ramai lancar. Persis di depan pabrik susu, arus kendaraan kian padat karena bertemu dengan mobil-mobil yang keluar dari jalan tol JORR. Jalan tol itu terhubung dengan tol Jagorawi, tol Jakarta-Cikampek, bahkan hingga ke tol Bandara Soekarno-Hatta. Praktis arus kendaraannya cukup ramai, tak terkecuali malam itu.

Di dekat pabrik itu ada lampu merah yang letaknya sebelum perempatan jalan. Fungsi alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) itu untuk mengatur kendaraan yang dari arah Jl TB Simatupang, JORR, hingga yang datang dari arah Jl Raya Bogor. Posisinya yang tak jauh dari lampu merah selanjutnya di perempatan jalan kerap menjadi bulan-bulanan para pengendara yang ugal-ugalan. Barangkali mereka berpikir tak terlalu signifikan keberadaan sang lampu merah yang satu ini. Barangkali.

Dari kejauhan saya melihat lampu sudah berwarna kuning dan beberapa detik lagi akan berubah menjadi merah. Laju sepeda motor pun saya perlambat. Benar saja, tak lebih dari lima detik, lampu berubah menjadi merah. Tapi, para pengendara jalan yang ada di belakang saya dengan rakusnya melibas lampu merah itu. Tak peduli sepeda motor, mobil pribadi, hingga angkutan umum, mereka beramai-ramai melibas lampu merah. Entah apa yang ada di benak mereka pada malam menjelang pukul 24.00 itu. Pastinya, penjarahan berjamaah menjadi ritual pada malam itu.

Selang waktu sekitar 10 detik, tiba-tiba disamping saya berhenti sebuah truk pengangkut barang. Ukuran truk tidak terlalu besar. Light truck berhenti persis sejajar dengan si kuda besi. Saya buka kaca helm dan memberi acungan jempol kepada sang sopir. Dia mengangguk.

“Saya takut ditabrak kalau nerobos lampu merah,” ujar sang sopir memecah konsentrasi saya.

Sempat kaget juga mendengar ucapan sang pengemudi yang saya taksir berusia sekitar tigapuluhan tahun.

“Iya, pernah kejadian disini tabrakan,” jawab saya menimpali.

Saya sambung dengan pertanyaan pembunuh waktu. “Mau kemana bang?”

“Mau ke Bantar Gebang, Bekasi,” jawabnya.

Lampu pun berubah menjadi hijau. Truk itu bergerak lurus ke arah terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Sedangkan saya berbelok ke kanan melintas ke Jl Raya Bogor ke arah Ciracas.

Sempat terlintas di pikiran saya, andai semua pengguna jalan seperti sang pengemudi truk tadi. Lalu linta jalan yang humanis bakal mudah terwujud. Tak perlu lagi ada 300-an kecelakaan terjadi setiap hari. Tak perlu lagi ada 70-an jiwa melayang sia-sia akibat kecelakaan di jalan.

Oh ya, seingat saya, pelanggaran terhadap marka dan rambu jalan tergolong yang mendapat sanksi cukup tinggi. Sanksi pidana kurungan maksimal dua bulan atau denda maksimal Rp 500 ribu. Entah kapan sanksi seperti itu diterapkan di Bumi Pertiwi. (edo rusyanto)

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. 2 Juni 2015 06:01

    Itu cuma mitos… Mereka gak akan nrobos lampu merah klo ada polisi yg jaga…

  2. 2 Juni 2015 13:19

    duhhh serem juga ya

  3. 18 Oktober 2015 04:00

    seharusnya semua pengguna menghormati kesepakatan lewat APIL itu termasuk para penguasanya.biasanya mentang aparat jalan seenaknya,satu aparat berbuat demikian ribuan masyarakat mencotohnya,

  4. 7 Februari 2016 12:51

    Mari kita kembalikan hal itu ke diri kita sendiri. Pengendara truk tahu, dalam kondisi ditabrak atau menabrak, kendaraan lain akan menjadi korban. Yang akhirnya dia disalahkan.
    Dalam kondisi seperti itu. Hanya orang yang pernah melihat suatu kejadian tragis yang mengerti fungsi APILL. Entah itu polisi atau sipil.

  5. 7 Februari 2016 12:52

    .

  6. 7 Februari 2016 12:52

    Mari kita kembalikan hal itu ke diri kita sendiri. Pengendara truk tahu, dalam kondisi ditabrak atau menabrak, kendaraan lain akan menjadi korban. Yang akhirnya dia disalahkan.
    Dalam kondisi seperti itu. Hanya orang yang pernah melihat suatu kejadian tragis yang mengerti fungsi APILL. Entah itu polisi atau sipil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: