Skip to content

Sopir Bus Pariwisata Ini Pun Pasrah

28 Mei 2015
Motorola RAZRV3x 85.98.90R 2009:04:12 13:44:37

Motorola
RAZRV3x
85.98.90R
2009:04:12 13:44:37

SUDUT kota Jakarta siang itu cukup ramai. Lalu lintas jalan padat, cenderung ramai lancar. Matahari menyengat. Suara knalpot kendaraan bermotor meraung-raung sambil mengeluarkan polusi udara.

Memasuki bulan Mei 2015 udara Jakarta terasa lebih panas. Kabarnya, Mei adalah memasuki musim panas. Suhu Jakarta bisa menyentuh 30-an derajat celcius. Bagi para pesepeda motor seperti saya, menghadapi sengatan matahari menjadi menu tambahan yang mesti disikapi dengan keriangan. Tanpa itu, situasi bisa bikin runyam. Sudah terik, debu beterbangan, asap meliuk-liuk, plus bisingnya suara mesin kendaraan jika tidak disikapi dengan riang, bisa-bisa stroke.

Nah, mendekati perempatan jalan di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), arus lalu lintas jalan memadat. Lampu pengatur lalu lintas jalan silih berganti berwarna hijau. Memberi kesempatan dari setiap arah untuk saling berhenti dan berjalan. Giliran dari arah saya berwarna merah. Kendaraan pun saling melambatkan pergerakan.

Pemandangan bar-bar mulai bermunculan. Satu persatu kendaraan merangsek maju seakan ingin paling depan. Jangan kan garis setop alias garis batas berhenti, zebra cross pun dijarah. Nafsu para pengendara seperti itu tampaknya sudah membuncah sehingga urusan kedisiplinan menjadi nomor kesekian yang penting dirinya bisa melesat paling depan. Kota yang sakit.

Tiba-tiba, dari arah belakang saya terdengar suara klakson cukup nyaring. Penasaran, saya menoleh ke belakang. Ternyata, sebuah bus pariwisata. Posisi saya yang persis di depan bus itu dapat dengan mudah melihat sang sopir bus.

Sang pengemudi bus tadi menunjuk-nunjuk saya. Dia menyuruh saya agar merangsek maju seperti yang lain agar berhenti di bawah tiang lampu merah alias merangsek garis setop dan zebra cross.

Lewat isyarat tangan saya tunjuk marka jalan yang ada depan dan menunjuk pedestrian. Kebetulan ada beberapa pedestrian sedang menyeberang jalan. Pas lah sudah.

Dialog lewat bahasa isyarat itu pun berhenti ketika sang sopir tadi akhirnya pasrah. Dia pun merentangkan kedua tangannya ke arah depan yang saya tafsirkan, “Terserah Anda atau ya, sudah. Terserah.”

Saya jadi ingat sebuah pertanyaan dari peserta pelatihan atau diskusi keselamatan jalan yang berujar, “Bagaimana cara memberi tahu para pengguna jalan yang melanggar aturan di jalan?”

Dalam menjawab pertanyaan seperti itu saya kerap menjawab dengan satu cara, yakni memberi contoh. Misal, ketika berhenti di lampu merah yang berhentilah di belakang garis setop. Walau, tak jarang diumpat oleh pengguna jalan yang lain. Ada yang melihat dengan nyinyir, ada yang mengumpat, bahkan ada yang dengan ekstrim menabrakkan bannya ke spakbor motor.

Tantangan memang tidak kecil untuk menyampaikan sesuatu yang benar. Risiko selalu ada. Pada bagian lain, saya selalu beranalogi, “Jika ingin memberi saran untuk tidak mabuk-mabukan, jangan memberi nasehat ketika seseorang justeru dalam kondisi mabuk. Nasehat pasti tak akan didengar.” (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 29 Mei 2015 06:35

    Wah, kedisiplinan dijalan memang harus di perhatikan setiap masyarakat, karena kebanyakan dari kita sudah tidak tau akan hal itu.

  2. 2 Juni 2015 01:11

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  3. 5 Juni 2015 13:47

    Setuju , tingkatkan kedisiplina lalintasnya bro dan membela kebenaran 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: