Skip to content

Membandingkan SNI Motor dan Mobil

26 Mei 2015

sni motor helm jaket

PERNAH dengar joke ini?

Kalau motor itu daging membungkus besi. Sedangkan mobil, besi membungkus daging.

Joke itu sebenarnya bermakna amat serius. Pengendara sepeda motor lebih berisiko dibandingkan pengendara mobil. Sang penunggang sepeda motor berisiko berbenturan langsung dengan obyek benturan. Sedangkan pengendara mobil lebih aman karena terlindungi kerangka mobil.

Karena itu, korban kecelakaan lalu lintas jalan banyak yang berasal dari kalangan penunggang si kuda besi. Fatalitas kecelakaan lebih banyak dipikul oleh para pengendara sepeda motor. Disinilah pentingnya kesadaran para pengendara sepeda motor untuk melindungi dirinya dari risiko kecelakaan. Salah satu caranya adalah lewat cara berkendara yang aman dan selamat. Inti dari cara berkendara ini adalah memiliki ketrampilan mumpuni dan sudi toleran serta taat pada aturan di jalan.

Lantas, bagaimana dengan peran Negara alias pemerintah?

Salah satu instrumen pemerintah adalah dengan membuat regulasi yang mengatur produksi kendaraan bermotor. Pemerintah mengatur agar para produsen memenuhi standar-standar terkait keselamatan berkendara.

Karena itu, lahirlah Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk bagian-bagian sepeda motor dan mobil. Selain itu, SNI terkait helm, serta jaket dan sarung tangan kulit.

Inilah SNI bagi sepeda motor dan SNI bagi mobil.

A. SNI Sepeda Motor

1. Ban sepeda motor diatur dengan SNI 06‐0101‐2002.

2. Karet pegangan setang (grip handle) sepeda motor diatur lewat SNI 06‐7031‐2004.

3. Minyak pelumas motor bensin diatur dengan SNI 06 7069.202005.

4. Pelek kendaraan bermotor roda dua diatur denganSNI 4658:2008.

5. Kaca spion motor diatur lewat SNI 2770.2‐2009.

6. Aki diatur dengan SNI 0038 : 2009.

Masih terkait dengan sepeda motor, pemerintah juga mengeluarkan SNI untuk helm pesepeda motor, yakni lewat SNI 1811:2007. Lalu, SNI 06‐0486‐1989 untuk jaket kulit. Dan, SNI 06‐0250‐1989 untuk sarung tangan kulit.

sni mobil

B. SNI Mobil

1. Ban mobil penumpang diatur lewat SNI 06‐0098‐2002.

2. Kaca pengaman diperkeras untuk kendaraan bermotor diatur dengan SNI 15‐0048‐2005.

3. Kaca pengaman berlapis (laminated glass) untuk kendaraan bermotor diatur dengan SNI 15‐1326‐2005.

4. Lampu utama untuk kendaraan bermotor roda empat atau lebih diatur oleh SNI 7405:2008.

5. Kaca spion diatur dengan SNI 2770.1:2009.

6. Aki untuk kendaraan bermotor roda empat atau lebih diatur oleh SNI 0038‐2009.

7. Penghapus kaca (wiper) untuk kendaraan bermotor diatur oleh SNI 7520:2009.

SNI terkait motor dan mobil itu saya kutip dari makalah Dewi Odjar Ratna Komala, deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Makalah bertajuk “Standar Keamanan Berkendara” itu dilansir pada 2013.

Dia pernah mengatakan, standar tidak akan menghentikan maut. Tapi, tegasnya, dengan standar kita bisa mengurangi risiko kecelakaan.

Ya. Semua standar-standar itu hanyalah instrumen untuk kita semua berkendara lebih aman lagi. Sekalipun demikian, kuncinya tetap ada di para pengendara itu sendiri, yakni berkendara yang aman dan selamat. Titik. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 26 Mei 2015 06:13

    Reblogged this on KLONING BLOG.

  2. Dian Mas Putra permalink
    26 Mei 2015 09:40

    mohon maaf, tapi kenyataannya :
    Banyak terjadi laka lantas disebabkan ulah pengendara mobil yang “iseng” dan mengakibatkan pengendara motor terjatuh bahkan tewas. Misalkan :
    – motor mau mendahului dari sisi kiri dengan safety (motor sudah beri sign dan klakson pendek), begitu motor dapat sisi kiri langsung digeber dan dipepet oleh mobil. Yang salah siapa? Motor?
    – Kejadiannya sama dengan point yang di atas, hanya saja si motor ingin mendahului dari sisi kanan (tentu saja karena sisi kiri tidak memungkinkan untuk maneuver menyalip). Tapi dengan rasa tidak bersalahnya, sang mobil malah mepet kanan dan langsung menghajar si motor dari sisi kiri, sehingga si motor terpental dan sukses dihantam mobil lain dari sisi sebrang (Alm sahabat kami : bro Achmad Fauzan / HCST Surabaya yang crash di Jembrana).
    – Motor mau belok kanan (tentu saja sudah berikan sign kanan), lalu dengan tiba2 ada mobil yang maksa potong lewat jalur kanan. Yang salah siapa? Motor lagi?
    – Motor melaju konstan di sisi kiri jalan, begitu melihat ada mobil di belakang ingin mendahului, si motor berinisiatif pasang sign kiri dan segera mlipir kiri. Tapi apa yang didapat? Mobil pun melaju kencang seakan akan ingin menabrak motor dari belakang. Yangs alah siapa? Motor lagi?

  3. 27 Mei 2015 08:18

    Reblogged this on Suetoclub's Blog and commented:
    different

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: