Skip to content

Semakin Ngebut, Bisa Semakin Fatal

22 Mei 2015

kecepatan dan fatalitas

PESEPAKBOLA Benzema pernah mencicipi getirnya ngebut di jalan raya. Dua tahun lalu dia dimintai keterangan soal rekaman yang memperlihatkan dia ngebut di jalan raya. Dia melaju dengan kecepatan 216 km/jam, padahal batas kecepatan maksimal adalah 100 km/jam. Bahkan, pada 2019, dia diberitakan mengalami kecelakaan menabrak pohon saat kebut-kebutan di jalan.

Banyak juga contoh kasus kecelakaan yang dipicu oleh kendaraan yang melaju diatas batas kecepatan maksimum alias ngebut. Bukan semata merugikan sang pengendara yang ngebut, tapi juga merugikan orang lain termasuk keluarga sang korban kecelakaan.

Laman korlantas-irms menegaskan bahwa banyak orang cenderung kehilangan kontrol saat memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Hasilnya, kecelakaan lalu lintas sulit terhindari. Laman itu juga memperlihatkan grafis bahwa semakin ngebut, semakin tinggi pula peluang fatalitas kecelakaan yang bakal dipikul seseorang.

Di negara kita, setiap hari setidaknya ada 36 kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh aspek berkecepatan tinggi. Data Korlantas Polri tahun 2013 itu juga memperlihatkan bahwa kecelakaan akibat ngebut menyumbang sekitar 13% terhadap total kecelakaan di Indonesia.

Di dunia, seperti dikutip dari laporan WHO yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’, masalah ngebut juga menjadi biang kerok terjadinya kecelakaan di jalan. Bahkan, disebutkan bahwa pejalan kaki dan pesepeda menjadi kelompok paling berisiko cedera akibat pola berkendara yang berkecepatan tinggi. Tiap hari, rata-rata 747 pejalan kaki tewas atau 31 orang per jam. Sedangkan pesepeda yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di dunia, tiap hari sebanyak 169 jiwa. WHO menyebutkan kecelakaan lalu lintas jalan merenggut sekitar 1,24 juta jiwa di dunia.


Batas Kecepatan Maksimal

Kecepatan maksimum kendaraan bermotor di jalan raya diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Aturan rincinya tertuang di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

kecepatan dan pengereman_rtmc korlantas

Untuk di jalan bebas hambatan diatur juga batas kecepatan paling rendah, yakni 60 kilometer per jam (kpj). Sedangkan batas paling tinggi 100 kpj. Untuk jalan antarkota batas kecepatan paling tingginya adalah 80 kpj. Lalu, untuk di kawasan perkotaan kecepatan maksimal 50 kpj. Sedangkan di kawasan permukiman kecepatan paling tinggi adalah 30 kpj.

Ada catatan penting dalam aturan tersebut, yakni bahwa batas kecepatan paling tinggi dapat ditetapkan lebih rendah jika memenuhi tiga aspek. Aspek pertama yang menjadi dasar pertimbangan adalah frekuensi kecelakaan yang tinggi di lingkungan jalan yang bersangkutan. Kedua, perubahan kondisi permukaan jalan atau geometri jalan atau lingkungan sekitar jalan. Nah yang ketiga, ada usulan masyarakat melalui rapat forum lalu lintas dan angkutan jalan sesuai dengan tingkatan status jalan.

Oh ya, batas kecepatan maksimal maupun perubahan atas batas kecepatan harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas. (edo rusyanto)

sumber grafis dari sini

One Comment leave one →
  1. 8 Juni 2015 13:06

    yaampunn janagan ngebut-ngebut ngeri… , pentingkanlah keselamatan anda:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: