Skip to content

Masuk Busway Pria Ini Kehilangan Rp 20 Ribu

18 Mei 2015

busway motor 2a

PAGI baru saja merangkak. Matahari bersinar malu-malu menyapa jalan raya yang sudah sesak oleh kendaraan bermotor. Rozi melenggang naik sepeda motor menuju tempatnya berdagang di salah satu sudut pusat bisnis Jakarta.

Jakarta yang setiap hari dipadati tak kurang dari 20-an juta perjalanan, kerap membuat para pengguna jalannya menjadi permisif. Ingin disiplin, tapi sering tergoda untuk melanggar aturan demi memangkas waktu tempuh. Begitu juga dengan Rozi yang pagi itu melenggang dengan sepeda motor lawasnya.

Dari jauh Rozi melihat antrean kendaraan bermotor yang merayap di sekitar sudut pusat bisnis Jakarta Selatan. Di depannya sejumlah sepeda motor merangsek busway yang semestinya khusus untuk bus Trans Jakarta. Tanpa pikir panjang pria 30 tahunan itu pun ikut rombongan penjarah busway. “Biasanya kalau rame-rame nggak ditilang polisi,” paparnya.

Tapi pagi itu suasana berbeda. Rozi terperanjat karena melihat ada polisi lalu lintas yang sedang menilang pesepeda motor yang menjarah busway. Rozi buru-buru mencari celah untuk menghindar. “Kebetulan separatornya jarang-jarang sehingga saya bisa keluar dari busway,” katanya.

Tidak kena ditilang di busway, pria muda ini justeru kena tilang di jalur arteri. Dialog pun terjadi.

“Selamat pagi,” sergah sang petugas.

“Pagi pak,” jawab Rozi.

“Kamu tahu salahnya apa?” tanya petugas.

“Iya pak, tadi masuk busway. Tapi saya ikut-ikutan aja pak,” sahut Rozi.

Rozi bercerita, setelah melihat surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi (SIM), sang petugas memberi tahu soal denda atas pelanggaran masuk busway.

Ternyata, kata dia, sanksi dendanya gede, yakni Rp 500 ribu. Rozi mengaku minta ditilang aja. “Tapi, dia nanya kamu punya uang berapa. Saya bilang, cuma punya Rp 20 ribu, eh diambil juga. Saya bersyukur cuma kena Rp 20 ribu,” ujarnya.

Rozi mengaku sering melibas busway. Alasannya, kata dia, untuk menghindari kemacetan lalu lintas jalan Jakarta yang menggila. Dia memilih-milih saat merangsek busway dan seringnya beramai-ramai agar tidak ditilang.

Kalau melihat perundangan yang berlaku, para penjarah busway disemprit dengan tuduhan melanggar marka dan rambu jalan. Di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sanksinya berupa denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, pidana penjara maksimal dua bulan. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 18 Mei 2015 01:25

    Indonesia memang mantaaanbbb

  2. 19 Mei 2015 09:41

    Denda maksimal penerabas busway kayaknya udah melempem yah pak ?

  3. 20 Mei 2015 19:05

    BANYAK TIKUS TIKUS KECIL DIDALAM SELOKAN?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: