Skip to content

Di Tangerang, 76% Korban Tewas Adalah Pesepeda Motor

11 Mei 2015

komuter motor bodetabek ke jkt 2011

JALAN raya Tangerang, Banten tergolong masih mencekam bagi pesepeda motor. Kesimpulan itu sah-sah saja mencuat manakala melihat data yang ada saat ini. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, sekitar 76% korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan tahun 2014 adalah dari kalangan pesepeda motor.

Data itu juga menyebutkan bahwa setiap enam hari satu pesepeda motor merengang nyawa di jalan raya. Di sisi lain, setiap hari tiga pesepeda motor menderita luka-luka akibat kecelakaan di jalan. Inilah salah satu fakta sisi kelam dari lalu lintas jalan kita.

Tangerang yang mencakup Kota Tangerang, Kabupateng Tangerang, dan Tangerang Selatan memang terus bertumbuh. Di tiga wilayah ini sedikitnya ada enam juga penduduk dengan lebih dari setengah juta sepeda motor dan lebih dari 150 ribu mobil. Pertumbuhan ekonomi terus bergulir dan mobilitas warga kian meningkat.

Karena itu, para pengguna jalan dituntut ekstra waspada. Lengah sedikit bisa fatal akibatnya. Fakta memperlihatkan bahwa sekitar 79% kecelakaan di Tangerang dipicu oleh pengendara yang lengah. Disinilah kita yakin bahwa berkendara adalah pekerjaan penuh waktu alias full time job. Rasanya amat riskan bila berkendara disambi dengan aktifitas lain yang bisa merusak konsentrasi.

Data-data di atas adalah kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi di Tangerang. Bisa jadi yang menjadi korban atau pelaku adalah warga kota tersebut. Namun, bukan mustahil warga menjadi korban atau pelaku kecelakaan di luar Tangerang. Misalnya, di Jakarta.

Maklum, kalau merujuk jumlah perjalanan warga Tangerang yang menuju Jakarta, amat mungkin ada celah terlibat dalam kecelakaan. Survey memperlihatkan bahwa lebih dari setengah juta orang memanfaatkan sepeda motor untuk wira-wiri dari Tangerang ke Jakarta. Sedangkan yang menggunakan mobil pribadi sekitar 308 ribu orang dan angkutan umum sekitar 258 ribu orang. Angka-angka ini amat mungkin jumlahnya membengkak mengingat survey itu digelar pada 2011.

Melihat data-data di atas, menjadi amat masuk akal ketika kita berkendara konsentrasi terus dijaga. Kewaspadaan yang tinggi memperkecil celah terjadi kecelakaan yang dipicu aspek lengah. Walau, bakal lebih afdol bila para penegak hukum di jalan raya mampu bertindak tegas, konsiten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Tindakan seperti itu mempersempit celah terjadinya kecelakaan yang dipicu oleh aspek tidak tertib. Oh ya, pada 2014, aspek tidak tertib menyumbang 21% kecelakaan di Tangerang.

Di sisi lain, penggunaan angkutan umum sudah semestinya kian menjadi primadona transportasi warga kota. Untuk urusan yang ini, peran pemerintah daerah dituntut untuk lebih serius dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang bertumpu pada angkutan publik. Banyak harapan mencuat untuk angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, ramah lingkungan, dan terintegrasi. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: