Skip to content

Sssstt… Ahok Bikin Tim Ketertiban Berlalu Lintas

6 Mei 2015

mobil busway jakarta globe

KOTA Jakarta memang punya segudang persoalan. Salah satunya, soal kemacetan lalu lintas jalan beserta pernak-perniknya, termasuk masalah kecelakaan lalu lintas jalan.

Rasanya, siapa pun gubernurnya, bakal keteteran mengahadapi persoalan yang satu ini. Nah, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki T Purnama yang kondang disapa Ahok pun termasuk yang keteteran. Saking pusingnya menghadapi persoalan ketertiban berlalu lintas, sang Gubernur membuat Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan 5 (Lima) Tertib Jakarta. Pokja yang dibentuk pada 5 Februari 2015 itu salah satu satunya adalah Sub Pokja Tertib Berlalu Lintas. Kenapa mesti ada pokja ini?

Mari kita tengok sejenak wajah Jakarta saat ini. Kota berpenduduk tak kurang dari 9,5 juta jiwa ini memiliki tak kurang dari 12 juta kendaraan bermotor. Angka itu menggelembung bila ditambah dengan jumlah kendaraan di wilayah Polda Metro Jaya yang menaungi, Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Di wilayah Polda sedikitnya ada 16 juta kendaraan bermotor.

Boleh saja jumlah kendaraaannya banyak asal pengendarannya tertib. Tapi, sebaliknya bakal membuat pusing para pemangku kepentingan lalu lintas jalan.

Faktanya, kita dengan mudah melihat bagaimana kesemrawutan terjadi lantaran perilaku pengguna jalan yang senaknya saja. Mereka dengan gagah berani melabrak aturan yang ada demi kepentingan pribadi. Alasan berulah ugal-ugalan yang paling sering mencuat sebagai tameng adalah agar tidak terjebak kemacetan. Atau, buru-buru mencapai tujuan. Kloplah.

Salah satu buahnya adalah kecelakaan lalu lintas jalan. Pada 2014, Jakarta tiap hari harus menuai 16 kasus kecelakaan. Getirnya kecelakaan itu terlihat dari bertumbangannya dua orang setiap hari dan belasan lainnya luka-luka.

Oh ya, tiap hari tidak kurang dari 2.000-an kasus pelanggaran aturan di jalan raya. Mulai dari pengendara yang melanggar marka dan rambu, hingga pelanggaran aturan soal helm pelindung kepala. Itulah Jakarta.

Lantas, apa yang bisa diharapkan dari Sub Pokja Tertib Berlalu Lintas?

Oh ya, Sub Pokja itu diketuai oleh Kombes Pol Risyafudin Nursin yang merupakan Dirlantas Polda Metro Jaya. Sedangkan Benjamin Bukit yang juga Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta ditempatkan sebagai wakil ketua. Para anggota Sub Pokja mencakup para petinggi-petinggi di Ditlantas Polda Metro Jaya dan aparatur birokrasi Pemda DKI Jakarta.

motor jarah busway di jakarta globe

Semestinya tim tersebut bisa memberikan resep yang cespleng dalam mengatasi ketertiban berlalu lintas. Walau, bila secara teori sudah bagus, bila tidak didukung dengan implementasi yang bagus, hasilnya bisa tidak bagus. Lalu lintas jalan yang humanis masih sulit diwujudkan.

Ngomong-ngomong, menurut Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 224 tahun 2015 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Percepatan 5 (Lima) Tertib Jakarta, ada lima tugas Pokja tersebut. Surat tersebut ditandatangani oleh Gubernur pada 6 Februari 2015.

ini dia selengkapnya tugas Pokja 5 Tertib tersebut;

a. Memberikan masukan strategi Percepatan 5 (lirna) Tertib Jakarta (5TJ), yaitu Tertib Pedagang Kaki Lima, Tertib Hunian, Tertib Buang Sampah, Tertib Berlalu Lintas dan Tertib Berdemo;

b. Mengoordinasikan dan memberikan sosialisasi dan informasi tentang Percepatan 5 (lima) Tertib Jakarta (5T.1);

c. Turut serta membantu pendampingan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah/Unit kerja Perangkat Daerah (SKPD/UKPD) Provinsi DKI Jakarta dalam melaksanakan sosialisasi Percepatan 5 (lima) Tertib Jakarta (5TJ);

d. Melaksanakan monitoring dan evaluasi sosialisasi 5 (lima) Tertib Jakarta (5T.1) kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah/Unit Kerja Perangkat Daerah (SKPD/UKPD) Provinsi DKI Jakarta; dan

e. Membentuk sekretariat di Tingkat Provinsi DKI Jakarta.

Di balik itu semua rasanya kita juga butuh satu hal yang tak kalah penting, figur teladan. Para pemangku kepentingan, apalagi para pejabat di birokrasi dan kepolisian, bisa memberi contoh kepada para pengguna jalan. Ketertiban berlalu lintas tak hanya butuh perangkat aturan, tapi juga figur teladan. Ibarat kata, Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: