Lanjut ke konten

Helm Penjaga Villa Puncak

5 Mei 2015

IMG-20150403-04392

MALAM merangkak menuju pagi. Dinginnya udara Puncak, Jawa Barat menari-nari di balik jaket. Lampu-lampu rumah seperti titik yang menyala bila dilihat dari atas gunung.

Ketika sebagian besar penduduk beristirahat tidur di kasur nan hangat, kami masih menelusuri lekukan aspal di kawasan Puncak. Kelokan demi kelokan dilalui. Jalan yang menanjak sesekali menyuguhkan kondisi menurun.

Jarum jam menunjuk ke angka dua lebih sepuluh menit saat kami tiba di warung sate di Cisarua, Bogor. Tampak empat pria dewasa penjaga warung yang memiliki tugas masing-masing. Ada yang mengipas sate, mengantarkan hidangan, hingga bagian kasir alias urusan bayar membayar.

Di bagian luar kedai sate itu tampak dua pria yang mengatur parkir kendaraan bermotor. Mereka membantu pengunjung untuk parkir dan saat keluar dari halaman kedai menuju jalan utama. Walau, halaman kedai sesungguhnya menempel dengan jalan aspal.

Para tukang parkir tak berseragam itu dengan tekun mengumpulkan serupiah demi serupiah dari para pengunjung yang jumlahnya kian menyusut menjelang pagi. Tak ada tarif resmi untuk jasa parkir disitu. Penjaga parkir menerima pemberian sukarela dari para pengunjung. Ada yang memberi seribu rupiah, dua ribu, atau lebih, untuk sekali parkir.

Tak membutuhkan waktu lama, pesanan kami sudah terhidang di atas meja makan. Sate kambing bersanding dengan sate ayam. Di bagian lain ada gulai kambing dan nasi hangat, serta sudah barang tentu minuman teh manis hangat. “Kalau saya minumnya air jeruk hangat saja,” ujar seorang kolega saya, Kamis, 30 April 2015 dinihari.

Seusai menyantap sate, kami pun melanjutkan perjalanan. Cibodas, Cianjur, Jawa Barat menjadi tujuan kali ini. Pemandangan dramatis dengan suhu rendah menemani perjalanan menelusuri tanjakan dan kelokan di Puncak. Di kanan dan kiri jalan sesekali terlihat pria muda dengan papan bertuliskan ‘villa’ atau ‘villa disewakan’. Mereka mengais rezeki dari para penyewa yang memang membutuhkan tempat menginap secara dadakan. Maksudnya, mereka menginap tanpa sebelumnya mencari hotel atau villa melainkan mencari secara langsung di lokasi.

Inilah salah satu potret bagaimana perjuangan untuk bertahan hidup yang memang memiliki beragam wujud. Banyak yang harus bekerja keras tanpa mengenal waktu. Bahkan, tak sedikit yang mengais rezeki dengan memikul risiko tinggi.

Risiko yang dipikul tak semata persoalan kerugian waktu dan materi, tapi hingga menyerempet bahaya. Di sisi lain, beban yang dipikul bisa membahayakan nyawa, termasuk di jalan raya.

Pemandangan mereka yang gigih berjuang dengan memikul risiko tak semata monopoli kota-kota besar. Kini, kesemua itu menjadi pemandangan di berbagai celah kehidupan masyarakat kita. Dalam keseharian, wujud mereka bisa berada di sektor formal maupun informal. Mereka tampak di pusat-pusat bisnis hingga ke kawasan-kawasan pemukiman.

Di kawasan wisata Puncak, ketika malam merangkak memasuki pagi kita kerap menjumpai bagaimana pria-pria muda belia hingga mereka yang dewasa dengan gigih menawarkan jasa penginapan. Berbekal sebuah papan penunjuk bertuliskan ‘villa’ dan senter bercahaya terang mereka dengan gigih menawarkan jasa. “Lumayanlah pak buat nambahin buat dapur,” kata seorang pria saat berbincang dengan saya soal pekerjaannya mencari penyewa villa suatu malam di kawasan Puncak.

Dia bercerita soal konsumennya yang pada umumnya datang dari kawasan Jakarta. Harga yang ditawarkan beragam, yakni berkisar Rp 300-700 ribu per malam. Rumah yang disewakan juga beragam, ada yang dua kamar dan tiga kamar, walau sebagian lainnya juga ada yang menawarkan jasa berupa kamar-kamar.

Saat itu, pria muda yang saya temui dengan gigih menawarkan villanya. Setelah tawar menawar akhirnya kami sepakat di harga Rp 350 ribu. Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Artinya, sesaat lagi matahari akan terbit. “Oh ya, check out-nya sore ya pak,” papar pria itu.

Pria muda yang memakai jaket tebal dan kupluk pelindung kepala dari rasa dingin mengantar kami sambil menunggang sepeda motor. “Kok nggak pake helm kang?” Tanya saya.

Barangkali itu adalah pertanyaan yang ‘aneh’ mengingat hampir semua para pria penjaja villa tidak memakai helm saat bersepeda motor. Mereka wira-wiri dari lokasi berdiri menjajakan villa hingga ke lokasi villa yang tak jarang jaraknya mencapai lebih dari satu kilometer. “Sudah biasa pak. Lagian jaraknya cuma dekat dan nggak ada yang nilang,” kata pria muda tadi.

Sebenarnya jawaban atas pertanyaan saya tadi sudah bisa ditebak. Alasan utama tidak memakai helm karena jarak bersepeda motornya dianggap cukup dekat. Dan, kalau pun tidak pakai helm mereka tidak digubris oleh petugas. Ya, karena memang nyaris tidak terlihat petugas polisi lalu lintas pada malam hingga dinihari itu.

“Lihat saja pak, itu mereka nggak pake helm. Malah, mereka bertiga satu motor,” kata dia lagi sambil menunjuk pesepeda motor lainnya.

Pria sang pengendara yang di bagian depan tidak memakai helm, begitu juga dua perempuan muda yang di belakangnya. Entah mereka menuju kemana. “Barangkali mereka ingin menemui tamu,” seloroh teman saya.

Tamu adalah istilah untuk para konsumen para pekerja seks komersial. Kawasan Puncak kerap diselimuti dengan isu-isu bisnis esek-esek. Kini, mereka menyambangi villa-villa para tamu. Entah benar atau tidak, seorang teman pernah berkata bahwa justeru kehadiran bisnis esek-esek di kawasan wisata menambah meriah kawasan tersebut. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: