Lanjut ke konten

Adu Mulut Gara-gara Jalan Dipotong

4 Mei 2015

bentor medan 2015

LALU lintas jalan kota Medan ramai lancar malam itu. Aneka kendaraan bermotor wira-wiri. Di tengah keramaian itu mobil sewaan yang saya tumpangi merangkak perlahan mengikuti irama arus kendaraan.

Sang pengemudi bercerita bahwa letak hotel tempat kami menginap adalah kawasan bisnis dan perdagangan yang sibuk, yakni Jl Surabaya, Medan. Kawasan ini dipadati dengan beragam rumah toko (ruko) dan toko yang berjualan beragam barang. Jam operasional toko-toko itu mulai pagi hari hingga seusai Maghrib. Ketika kami melintas pada malam hari, terlihat pintu-pintu toko sudah tertutup rapat.

“Kalau siang dan pagi hari lebih macet di kawasan ini,” ujar sang sopir, Sabtu, 3 Mei 2015 malam.

Medan merupakan kota tersibuk kedua di Indonesia sehingga amat logis bila lalu lintas jalannya amat ramai. Kemacetan lalu lintas jalan amat mudah dijumpai. Maklum, kota berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa ini memiliki sekitar 5,5 juta kendaraan bermotor pada 2014. Kemacetan dan kepadatan lalu lintas jalan juga bukan mustahil membuat para pengguna jalannya mudah terkena stress. Praktis kondisi itu mudah memicu terjadinya gesekan. Nggak percaya?

“Woi! Apa? Apa?…” bentak sopir mobil sewaan kami kepada pengendara sepeda motor sambil matanya membelalak.

Kelakuan pengendara motor itu membuat emosi sang sopir meledak. Bagaimana tidak, saat kami melenggang menuju penginapan, tiba-tiba dari arah kiri muncul sepeda motor yang dikendarai dua orang. Sepeda motor itu memotong jalan kami untuk berbelok ke kanan jalan.

Dua pengendara motor yang tidak memakai helm itu pun tampak pucat karena bentakan sang sopir. Saking emosinya, sang sopir pun berniat mengejar pesepeda motor tadi. Emosinya meluap. Kami mencoba menenangkan sang pengemudi penduduk kota Medan itu. Akhirnya dia hanya membuntuti sang pesepeda motor. Adu otot pun terhindari.

Adu mulut hingga adu otot memang menjadi buah getir runyamnya lalu lintas jalan kota-kota di negara kita. Coba saja tengok di Jakarta. Bisa dibilang hampir tiap hari terjadi hal seperti itu. Bahkan, hal yang paling getir pun mudah dijumpai, yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Untuk urusan yang satu ini Sumatera Utara pun tak ketinggalan. Pada 2014, tiap hari lima orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Sumatera Utara dan sudah barang tentu Medan ikut menyumbang.

Ngomong-ngomong, adegan adu mulut pun nyaris kami jumpai manakala kami hendak menuju bandara Kuala Namu, Medan. Siang itu kami melenggang di sekitar kawasang Tanjung Morawa. Tiba-tiba, dari arah kiri muncul sepeda motor ditumpangi dua orang, mobil kami pun mengerem, nyaris mendadak. Belum selesai, tiba-tiba ada sepeda motor ditunggangi tiga orang yang berbelok ke kanan.

Ya. Ini Medan bung! (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 4 Mei 2015 16:40

    emang bikin serba salah sih.. ketika ngerem ga sampai si pemotor pasti menyalahkan si pemobil

  2. 8 Mei 2015 10:33

    Ya ini medan bung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: