Skip to content

Bang Ucok Sehari Bisa Jual 8 Ribu Durian

3 Mei 2015

20150502_222712_resized

KOTA Medan bak tak pernah tertidur. Ibu kota provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu terus berdenyut sejak matahari terbit hingga matahari tenggelam. Wajar, inilah salah satu kota tersibuk yang ada di Indonesia.

Ekonomi, bisnis, hingga pariwisata kota berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa ini terus berdenyut sepanjang waktu. Salah satu sudut yang terus melek sepanjang hari adalah di kawasan Jl Wahid Hasyim, Medan, persisnya di kedai Duren Bang Ucok.

“Kami buka 24 jam. Kami siap melayani para tamu yang ingin makan duren atau membeli duren yang sudah dikemas,” papar Syafii, salah seorang pekerja di kedai tersebut saat berbincang dengan saya di Medan, Sabtu, 2 Mei 2015 malam.

Saat itu, pemandangan ramainya para tamu demikian mencolok. Para tamu datang silih berganti. Mereka umumnya rombongan, termasuk rombongan wisatawan yang sedang bermalam di kota Medan. Hal itu terlihat dari mobil yang mengantar mereka ke kedai. Ada yang memakai mobil hotel tempat mereka menginap. Ada yang memakai mobil sewaan dan ada yang memakai minibus pariwisata.

“Kalau tamu dari Medan banyak yang pakai mobil pribadi, tapi ada juga yang pakai sepeda motor,” katanya.

Harga Durian

Kedai duren Bang Ucok cukup luas. Di sisi memasuki kedai tersedia tempat parkir untuk kendaraan bermotor, seperti motor dan mobil. Di bagian lain juga terdapat sejumlah taksi yang mengetem di sisi kiri kedai. Namun, terlihat beberapa sepeda motor yang justeru nangkring parkir di atas trotoar jalan.

Kursi-kursi berwarna cerah tertata rapi. Di bagian depan kedai para pekerja yang memilih dan membuka duren sibuk melayani para tamu. Sedangkan di bagian lain kedai terdapat layanan aneka minuman jus. Para tamu bisa memesan minuman segar selain air minum dalam kemasan (AMDK) yang sudah tersedia di meja saat menyantap durian.

Di dinding dekat kasir terpampang sejumlah kliping media cetak yang pernah menulis kedai tersebut. Selain sejumlah kliping soal kedai ada sebuah foto yang cukup menarik perhatian. Foto itu memperlihatkan sang pemilik Ucok Durian, yakni Zainal Abidin Chaniago sedang bersalaman dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mantan presiden Indonesia itu datang ke kedai Ucok Durian pada 27 Maret 2014 sekitar pukul 21.00 WIB. SBY ditemani sejumlah jajaran pejabat di kabinetnya dan tentu saja tidak ketinggalan para anggota keluarganya. Sontak kedatangan SBY membuat suasana kedai menjadi sumringah dan bisa disebut membawa berkah karena kedai menjadi kian tenar.

Para tamu yang datang, terutama para penyuka durian bakal punya pengalaman tersendiri. Durian yang disajikan bakal menggoyang lidah dengan rasa yang menggoda. Kedai Ucok Durian yang pertamakali buka di kawasan Jl Iskandar Muda, Medan ini memang telah menjadi icon pariwisata kuliner di Medan. Rasanya tak lengkap berwisata ke Medan bila tak singgah ke kedai ini.
Pada Sabtu malam itu ada pemandangan yang agak berbeda. Setidaknya agak berbeda bagi saya. Ceritanya begini. Para tamu yang hendak makan durian ditolak secara halus oleh para pekerja di kedai. Mereka menyarankan agar para tamu datang saja keesokan harinya.

“Karena duren kami yang bagus sudah habis malam ini. Tinggal yang kurang bagus. Kami tidak ingin mengecewakan konsumen,” papar Syafii.

Dia menambahkan, duren-duren yang terlihat menumpuk malam itu sudah hasil sortiran yang masuk kategori tidak bagus. Maksudnya, jika disantap langsung di kedai malam itu rasanya tidak semanis yang biasanya. Karena itu, Syafii menyarankan agar para tamu datang keesokan harinya. Termasuk bagi mereka yang ingin membeli durian untuk dibawa pulang ke kota asal.

“Duren yang ada ini kurang bagus sehingga kami jual untuk dibuat dodol atau makanan olahan lainnya,” papar pria muda itu.

Saya lihat sejumlah durian sedang dikuliti dan ditumpuk dalam satu wadah besar. Lalu, durian itu ditimbang untuk dijual kepada pembeli yang memang ingin membuat makanan olahan. “Harganya Rp 50 ribu per kilogram,” papar dia tentang durian tersebut.

Syafii menjelaskan, durian yang dijualnya malam itu dibanderol Rp 50 ribu per buah. Alasannya, kata dia, saat ini bukan sedang musim durian. “Berbeda kalau saat sedang musim duren, yaitu Juli sampai Oktober, harga bisa turun menjadi Rp 30 ribu per buah,” paparnya, seraya mengepulkan asap rokok.

Menurut dia, saat tidak musim durian berbuah di Medan, pihaknya mendatangkan durian dari berbagai kota di Sumatera. Sedangkan saat musim durian, pihaknya mendatangkan durian dari Medan dan sekitarnya. “Kali ini kami mendatangkan duren dari Padang dan Bengkulu,” katanya.

Ngomong-ngomong, berapa buah yang terjual per malam?

“Kalau sedang sepi yang terjual sekitar 3.000 buah, sedangkan kalau sedang ramai bisa mencapai 8.000buah,” ujarnya.

Mau mencoba? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: