Skip to content

Vonis Buat Pelajar Penabrak Orang di Pinggir Jalan

28 April 2015

laka-lantas-sulsel-jazz

BARANGKALI Arief, bukan nama sebenarnya, tak pernah menduga siang itu merupakan nongkrong terakhirnya di pinggir jalan. Siapa yang menduga siang nan cerah pada 2009 itu ada ‘predator’ menyeruduknya. Brakkk!!!

Pelajar bersepeda motor, Aryad, kita sebut saja begitu, siang itu melenggang dengan percaya diri. Tak ada tanda-tanda istimewa bakal terjadi kisah kelam. Dia melaju dengan kecepatan sekitar 60 kilometer per jam (kpj).

Entah ada obyek memikat di kiri jalan yang mengalihkan perhatian Aryad mengendalikan si kuda besi. Pastinya, sejak dia menengok obyek di kiri jalan, sang kuda besi tak terkendali dan menabrak Arief yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Tak ada yang mendengar deritan rem atau klakson dari tunggangan Aryad.

Warga sekitar pun berdatangan. Mereka mencoba menolong Arief yang terkapar bersimbah darah akibat tabrakan sepeda motor. Nasib berkata lain, nyawa Arief tak bisa tertolong oleh dokter yang menanganinya di puskesmas. Dia dimakamkana pada hari yang sama ketika sang jagal jalan raya mendekat.

Lewat pengadilan yang berlangsung selama empat bulan, majelis hakim akhirnya memvonis Aryad dengan pidana selama empat bulan penjara dengan masa percobaan selama delapan bulan. Memang dia tidak mesti menghuni pengapnya di balik jeruji besi penjara, tapi tetap saja vonis itu bisa berdampak pada psikologi Aryad. Kecelakaan memang berdampak luas.

Oh ya, hakim menilai bahwa hal yang meringankan terdakwa adalah perilakunya yang sopan dalam menjalani sidang. Dan, telah terjadi perdamaian antara terdakwa dengan keluarga korban.

Meruyaknya Pelajar

Pada 2014, menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya jumlah anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan melonjak 11,11%. Tahun itu, setiap lima hari ada satu anak di bawah umur yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Mereka masih berstatus pelajar.

Barangkali masih ada yang ingat bagaimana anak seorang artis kondang yang memicu kecelakaan di jalan tol. Kejadian pada Minggu dinihari 8 September 2013 itu menimbulkan tujuh korban tewas dan beberapa korban luka berat. Sang pelaku yang masih anak di bawah umur ini mengemudi mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Buntut dari kecelakaan di Km 8+200 Tol Jagorawi, Jakarta Timur itu sang pelaku dituntut satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun plus denda Rp 50 juta atau subsider tiga bulan kerja sosial. Pelaku dituduh bersalah melanggar pasal 310 ayat 1, 3, dan 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun, akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur memvonis bebas pelaku karena dianggap masih di bawah umur. Vonis pada Selasa, 16 Juli 2014 itu mengembalikan pelaku kepada orang tuanya.

Kembali soal pelaku kecelakaan anak di bawah umur di wilayah Polda Metro Jaya. Pada 2014, kontribusinya meningkat dari 1,46% menjadi 1,72%. Saat itu, jumlah total pelaku kecelakaan tercatat sebanyak 4.644.

Melihat data tersebut bisa saja ditarik keseimpulan bahwa anak-anak di bawah umur yang berkendara di jalan raya rentan terlibat kecelakaan. Ironisnya, rentan menjadi pelaku kecelakaan seperti kasus anak artis kondang di atas.

Anak-anak di bawah umur memang masih menjadi tanggung jawab orang tua. Para orang tua mesti mati-matian memproteksi sang anak agar tidak menjadi pelaku kecelakaan di jalan. Barangkali salah satu caranya adalah dengan tidak mengizinkan mereka wira-wiri di jalan raya sambil mengemudi. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: