Skip to content

Andai ‘Eyes On The Road’ Meruyak Disini

26 April 2015

eyes on the road samsung

Eyes on the Road membuka mata kita bahwa urusan di jalan raya bukan persoalan sepele.
Bila dikaitkan dengan kemampuan mengemudi di jalan raya, tidak semua orang berkeahlian mumpuni. Level tiap orang dalam mengemudikan kendaraan berbeda-beda. Mulai dari yang biasa-biasa saja hingga mereka yang super mahir.

Ketika ada yang mempertontonkan keahlian menyetir sambil berponsel, kita seperti disuguhi sebuah nyali yang luar biasa. Bayangkan, mengendarai mobil atau sepeda motor sambil berponsel membutuhkan ketrampilan khusus dan nyali besar. Bagaimana tidak, alih-alih ingin tetap menjalin komunikasi sambil mengemudi, bisa berujung pada petaka jalan raya. Atau, minimal bisa menimbulkan antrean di belakang sang pengemudi yang sambil berponsel. Antrean yang tidak sepatutnya amatt mengganggu pengguna jalan yang lain.

Di Indonesia, setidaknya setiap hari terjadi satu kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh aktifitas berponsel. Dalam catatan Korlantas Polri, pada 2013, aktifitas berponsel dimasukkan dalam kategori faktor teknologi. Kondisi nyaris serupa terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, rerata terjadi dua kasus kecelakaan setiap harinya. Mengerikan.

Lantas, apa hubungannya dengan Eyes on the Road?

Saat pertamakali dipopulerkan pada akhir November 2013, Eyes on the Road cukup menyita perhatian. Saat itu, Singapura menjadi negara yang dipilih untuk mempopulerkan aplikasi yang satu ini.

Ya. Eyes on the Road merupakan aplikasi ponsel yang diperkenalkan oleh produsen ponsel Samsung. Aplikasi ini menjadi basis program “The Road Comes First”, yakni kampanye untuk menjadi pengemudi yang bertanggung jawab tanpa gangguan aktifitas berponsel. Singapura dipilih karena sekitar 83% pengemudi di negara itu mengaku menggunakan ponsel mereka saat mengemudi tanpa menggunakan kit hands-free. Sekitar 16% pengemudi mengalami kecelakaan atau nyaris kecelakaan akibat konsentrasi mengemudi yang terganggu oleh akitifitas berponsel.

Manajemen Samsung mengatakan, Eyes on the Road dirancang untuk membantu pengemudi menumbuhkan kebiasaan mengemudi tanpa gangguan dari ponsel mereka.

Para pengemudi cukup menghidupkan aplikasi Eyes on the Road ketika mengemudi dengan mengaktifkan modus Safe Drive. Setelah diaktifkan, aplikasi membungkam semua panggilan, pesan teks, dan pemberitahuan media sosial. Aplikasi ini juga menyediakan jawaban otomatis untuk panggilan suara maupun teks. Jawaban itu menegaskan bahwa orang yang dihubungi sedang mengemudi.Ketika tiba di tujuan, pengemudi dapat menonaktifkan aplikasi.

Andai Meruyak

Terbayang di pikiran saya andai aplikasi ini meruyak di kalangan para pengguna ponsel pintar (smartphone) di Indonesia. Mengutip laporan hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2015, saat ini terdapat sekitar 266 juta pengguna smartphone di Indonesia. Negara kita merupakan wilayah dengan pertumbuhan penjualan smartphone terbesar di Asia dengan pertumbuhan pasar sebesar 68% pada 2014.

Tak heran jika hampir setiap hari dengan mudah kita melihat para pengguna ponsel asyik mahsyuk dengan gadgetnya. Entah itu di tempat umum, di ruang kantor, hingga di ruang-ruang keluarga. Hidup seakan tak bisa terlepas dari ponsel. Sampai-sampai ada guyonan, “Ponsel mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Ironisnya jika gadget itu justeru tak bisa lepas ketika sang pemilik sedang berkendara. Pasti diantara kita pernah melihat para pengendara yang seperti itu. Tak hanya di kalangan pengemudi mobil, di kalangan pesepeda motor pun kita amat mudah menjumpai aksi berponsel sambil berkendara.

poster digital rsa_ponsel

Padahal, data Korlantas Polri menunjukkan pada 2013 aktifitas berponsel menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan di dalam faktor teknologi. Kepolisian tampaknya mulai mendata pemicu kecelakaan dari aspek teknologi, sekalipun kontribusinya masih di bawah 1% terhadap total kasus kecelakaan. Pada tahun-tahun sebelumnya faktor ini melebur di dalam faktor manusia.

Mengutip data tersebut, aktifitas berponsel ternyata memicu 97% kecelakaan yang disebabkan faktor teknologi. Aktifitas berponsel yang paling tinggi memicu kecelakaan adalah menerima panggilan telepon. Maksudnya, berkendara kendaraan bermotor sambil menerima panggilan telepon masuk, lalu berbincang sambil berkendara. Aspek ini menyumbang hampir 40% dari total faktor teknologi.

Aspek kedua terbesar, masih menurut data Korlantas, aktifitas menelepon sambil berkendara, yakni menyumbang sekitar 27%. Sedangkan mengirim dan menerima SMS masing-masing menyumbang sekitar 22% dan 8%. Sedangkan tiga aspek lainnya di faktor teknologi adalah menonton televisi (2,14%), menyetel tape/cd/radio (0,36%), dan melihat reklame LCD di pinggir jalan (0,36%).

Berponsel sambil berkendara tak semata soal ketrampilan. Substansi pesan yang diperbincangkan sangat mungkin mengganggu konsentrasi sang pengendara. Karena itu, negara mengatur soal konsentrasi secara detail di dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam pasal 106 UU tersebut ditegaskan bahwa para pengendara wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Aturan di pasal 106 itu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya. Hal-hal yang dianggap mengganggu perhatian itu adalah karena sakit, lelah, mengantuk,menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan. Bila itu terjadi bakal memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan.

Karena itu, mereka yang mengemudi sambil berponsel atau menonton televisi bisa kena semprit. Di pasal 283 UU itu ditegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi bisa dipenjara maksimal tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.
Tentu saja, jika lantaran tidak berkonsentrasi lalu menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan, sanksinya bisa bertambah. Apalagi, jika kecelakaan tersebut merenggut nyawa sang korban. Bisa-bisa dikenai pasal sengaja seperti tertuang di pasal 311. Pasal ini membidik sang pelaku kecelakaan dengan ancaman sanksi penjara maksimal 12 tahun dan denda maksimal Rp 24 juta. Ngeri kan?

Kembali soal Road on the Road. Andai para operator seluler dan para produsen ponsel sudi menggencarkan kampanye penggunaan aplikasi tersebut, rasanya bisa mengurangi potensi terjadinya kecelakaan. Tentu saja, semua tergantung kepada kesadaran sang pemilik ponsel. Karena itu, jika para operator gencar mengedukasi dengan menjelaskan risiko berponsel saat berkendara, semoga para pengemudi kesadarannya ikut terbangun. Kalau memakai pola Samsung dalam kampanyenya di Singapura, mudah-mudahan bisa merangsang para pengemudi menjadi lebih bertanggung jawab. Atau, barangkai perlu ada seruan dari pemerintah? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: