Skip to content

Truk Batu Membawa Kisah Pilu

17 April 2015

S/W Ver: 85.98.90R

INI kisah truk pengangkut batu yang berujung pilu. Ironisnya, kepiluan justeru bersandar di bahu pesepeda motor yang tidak tahu menahu.

Sore baru saja mau bergulir menuju malam. Truk pengangkut batu yang dikemudikan Bahruna, sebut saja begitu, perlahan menelusuri permukaan aspal. Lalu lintas jalan tidak begitu ramai saat itu.

Selaku pengemudi, indikator keberhasilan Bahruna adalah mampu mengantar muatan tepat waktu. Syukur-syukur bisa lebih awal, “bonus” tambahan pun bisa keluar dari sang juragan. Tak besar, tapi “bonus” tadi bagi Bahruna bisa sedikit melonggarkan pengeluaran sehari-hari.

Di sebuah ruas jalan yang tidak terlalu ramai, dia melihat ada sepeda motor skutik di bagian depan. Setelah mengamati situasi, baik dari arah depan maupun belakang, Bahruna memutuskan untuk mendahului motor itu. Ancang-ancang pun dibuat, lalu truk melenggang.

Tapi, cerita menjadi lain dan kisah pilu pun dimulai. Bagian depan truk menyenggol setang kanan motor. Sang pesepeda motor menggelosor. Darah berceceran di atas aspal, sedangkan sepeda motor terpental ke bagian kiri jalan. Warga bahu membahu menolong sang korban. Nasib bercerita lain, perempuan pesepeda motor skutik tadi menghembuskan nafas terakhir sebelum tim medis rumah sakit memberikan pertolongan.

Kisah selanjutnya bergeser ke ranah pengadilan. Bahruna pun menjadi pesakitan dan dijerat pasal 310 ayat (4) Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Bunyi pasal ini cukup membuat buku kuduk berdiri. Coba saja simak. Pengemudi yang lalai kemudian menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia bakal diganjar penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Setelah hampir sekitar tujuh bulan menjalani persidangan, Bahruna kena pidana penjara enam bulan. Namun, hakim memberinya percobaan selama delapan bulan dan Bahruna pun tak perlu meringkuk di balik jeruji penjara.

Di bagian lain, Bahruna pun mengutarakan permintaan maafnya pada keluarga korban. Tidak ada seorang pun yang ingin terjebak dalam kecelakaan, apalagi posisinya sebagai pelaku. Keluarga korban dan Bahruna pun berdamai. Bahkan, keluarga korban berjanji tidak akan menuntut sang penabrak. Sebagai salah satu wujud rasa duka, Bahruna pun menyerahkan uang bela sungkawa.

Mendahului yang Aman

Kasus kecelakaan yang melibatkan truk ternyata komposisinya meningkat pada 2014. Bila pada 2013 sumbangannya sekitar 13,1%, tahun 2014 naik tipis menjadi sekitar 13,4%. Setiap hari rata-rata ada empat truk yang terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Tapi, kasus itu untuk di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek).

Terkait dengan kasus Bahruna, masalah teknis mendahului menjadi kunci persoalan. Saya pernah menulis beberapa artikel terkait bagaimana mendahului yang aman. Selain itu, tentu saja artikel mengenai kasus-kasus kecelakaan yang dipicu oleh masalah mendahului.

Nah, sekadar menyegarkan ingatan kita, aturan soal mendahului itu sebenarnya sudah amat lengkap ada di dalam regulasi kita. Coba saja lihat di UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ, khususnya di pasal 108 ayat (2). Pasal itu menyebutkan bahwa penggunaan jalur jalan sebelah kanan hanya dapat dilakukan jika; a. pengemudi bermaksud akan melewati kendaraan di depannya; atau b. diperintahkan oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk digunakan sementara sebagai jalur kiri.

Sementara itu, terkait cara melewati kendaraan di depan kita, pasal 109 ayat (1) menegaskan, pengemudi kendaraan bermotor yang akan melewati kendaraan lain harus menggunakan lajur atau jalur jalan sebelah kanan dari kendaraan yang akan dilewati, mempunyai jarak pandang yang bebas, dan tersedia ruang yang cukup.

Lalu, ayat (2) menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu, pengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan lajur jalan sebelah kiri dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.

Dan, ayat (3) menyebutkan bahwa jika kendaraan yang akan dilewati telah memberi isyarat akan menggunakan lajur atau jalur jalan sebelah kanan, pengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang melewati kendaraan tersebut.

Apa yang dimaksud dengan keadaan tertentu? Penjelasan untuk pasal 109 ayat (2) menguraikan, yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” adalah jika lajur sebelah kanan atau paling kanan dalam keadaan macet, antara lain akibat kecelakaan lalu lintas, pohon tumbang, jalan berlubang, genangan air, Kendaraan mogok, antrean mengubah arah, atau kendaraan bermaksud berbelok kiri.

Kecelakaan saat mendahului kerap kali berwujud adu kambing. Tabrakan depan dengan depan atau adu kambing sering terjadi di Indonesia. Pada 2013, tabrak depan dengan depan kendaraan menjadi penyumbang terbesar dari Sembilan jenis kecelakaan lalu lintas jalan, yakni 23,46%. Angka itu setara dengan 64 kasus kecelakaan setiap harinya. Bukan mustahil kecelakaan jenis itu terjadi saat hendak mendahului. (edo rusyanto)

Iklan
4 Komentar leave one →
  1. 17 April 2015 01:11

    Bikin ngeri deket kendaraan gede . Blind spot nya gede . Sang pengemudi pun harus punya indra ke 7 wew . Memang lho pernah dibuat kan visual blind spot dimana aja . Bener aja ga keliatan semua yang masuk blind spot zone . Ngeri

  2. Dian Mas Putra permalink
    17 April 2015 10:34

    seperti yang sudah pernah saya bilang…
    pengendara motor, pejalan kaki itu tidak ada harganya di jalan raya…
    saya rasa percuma juga menerapkan safety riding di jalan raya, karena banyak pengguna lain yang berpotensi mencelakakan orang lain.

    sang pengguna roda 4 atau lebih cenderung arogan, jika menabrak pengguna jalan lain mesti dipastikan sampai benar2 mati korbannya…
    kalau korban masih hidup ya digilas lagi sampai benar2 mati…
    kenapa?
    karena bila korban mengalami cacat seumur hidup tentu saja tanggungan si penabrak makin besar…
    lain halnya jika korban meninggal, cukup beri santunan 10-20juta sudah beres masalahnya…
    penjara 6 tahun atau denda 12 juta…
    kalau saya pribadi, mending pilih denda 12 juta…

    sorry, no offense…
    saya setiap hari berkendara motor, sudah menerapkan safety riding…
    namun ada saja pengendara roda 4 atau lebih yang begitu arogannya mengintimidasi bahkan hampir mencelakai saya di jalan.

    sudah tidak terhitung, berapa kaca mobil yang pecah akibat saya lempar dengan ketapel besi…
    dengan memecahkan kaca belakang mobil, saya hanya memberi peringatan saja untuk lebih berhati2 dalam berkendara.

    namun jika sampai sang pengendara mobil lalai dan menabrak orang sampai meninggal, saya / kami tidak akan segan2 untuk menghajar pengendara mobil sampai benar2 meninggal…

  3. 19 April 2015 17:49

    @Dian Mas Putra gak ada beda dong ente dengan poenabrak.

    • Dian Mas Putra permalink
      21 April 2015 10:40

      kalau itu terjadi kepada diri anda bagaimana bro?
      sekali dua kali mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau sering di intimidasi oleh pengendara R4 sampai hampir celaka bagaimana?
      Ga usah sok bijak dengan bilang : kalau ditampar pipi kanan, kasih pipi kiri buat ditampar lagi…
      Selagi sempat, kalau ditampar pipi kanan ya balas tampar lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: