Skip to content

Mudahnya Menyepelekan Helm

14 April 2015

helm kartun michelin

SAAT ini kita masih dengan mudah menjumpai pesepeda motor yang tidak memakai helm pelindung kepala. Pemandangan seperti itu dianggap lumrah. Bahkan, dianggap selazim orang pergi ke toilet saat hendak buang hajat.

Pesepeda motor yang wira-wiri tanpa helm bukan lagi monopoli pelosok-pelosok negeri. Penampakan mereka yang tak melindungi isi kepalanya juga dengan mudah dijumpai di perkotaan. Ibarat kata, dimana saja, kapan saja, dan siapa saja bisa petantang-petenteng nunggang kuda besi dengan kepala apa adanya.

Soal siapa saja, kini kita juga tak jarang disuguhi pemandangan pelanggar aturan helm dari beragam kalangan. Tak bisa lagi kita berkata, “pelanggar aturan atau yang tidak memiliki kesadaran memakai helm adalah dari golongan tak berpendidikan.”

Faktanya, mereka yang dari kelompok berpendidikan sarjana dengan entengnya juga melenggang tanpa helm.

Para pelanggar aturan soal helm juga datang dari kalangan para penegak hukum atau aparat negara. Bahkan, dari kalangan pejabat seperti menteri. Bahkan, adegan serupa juga dipertontonkan oleh para calon presiden. Entah apakah karena mereka tidak tahu ada aturan wajib memakai helm atau ada alasan lain.

Ironisnya, disadari atau tidak, perilaku para pejabat tadi sedang mempertontonkan contoh yang keliru. Jangan heran kalau ada kalimat nyinyir, “menteri aja nggak pakai helm, apalagi masyarakat.” Atau, “polisi aja nggak pakai helm, apalagi cuma seorang hansip.”

Fatalnya, kalimat nyinyir tadi diperburuk oleh kalimat, “giliran pejabat dan petugas kok nggak ditilang?”

Jangan-jangan, hukum di negeri ini memang tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Oh ya, dari tadi kita ngomongin soal aturan helm, tapi belum kelihatan seperti apa sih aturan itu? Ini dia. Dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ditegaskan bahwa pengendara dan penumpang sepeda motor wajib memakai helm. Bahkan, helm yang dipakai pun diatur, yakni harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Untuk urusan sanksi, regulasi tersebut membidik sang pelanggar dengan sanksi pidana maksimal satu bulan. Atau, siap-siap dipentung dengan sanksi denda maksimal Rp 250 ribu.

Ada yang pernah kena sanksi tersebut? Pasti belum pernah. Sama, saya juga belum pernah. Fakta opini yang beredar, denda untuk pelanggaran tidak memakai helm bisa dalam bentuk “damai.” Itulah….Indonesia.

Menyepelekan Helm

Coba tanya kepada mereka yang tidak memakai helm saat bersepeda motor, pasti jawabannya beragam. Jawaban yang paling sering terdengar adalah; hanya jarak dekat. Lalu, ribet atau gerah kalau pakai helm. Ada juga jawaban, tidak punya helm.

Nah, soal alasan jarak dekat kadang kita lupa bahwa tingkat kekerasan aspal atau permukaan jalan hampir semuanya sama. Mau itu aspal di jalan raya atau aspal di jalan pemukiman. Kekuatan aspal yang berbenturan dengan kepala bisa menimbulkan derita yang berkepanjangan. Kalau derita sekejap ya, tahu sendiri seperti apa kan?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa mayoritas kematian pesepeda motor saat kecelakaan lalu lintas jalan dipicu oleh cedera di leher dan kepala. Seringan apapun tingkat benturan kepala dengan permukaan aspal bisa menimbulkan cedera yang mematikan. Kepala manusia menjadi instrumen tubuh yang penting karena disanalah bersemayam organ otak. Organ inilah yang mengendalikan tubuh. Bila cedera serius, bukan mustahil berujung pada kematian.

Kalau begitu, memakai helm adalah untuk melindungi isi kepala kita karena ada otak di dalamnya.

Bila kita mengutip data WHO terlihat bahwa di negara-negara tertinggal dan berkembang, cedera kepala diperkirakan berkontribusi sekitar 88% terhadap kematian pesepeda motor. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Eropa yang diperkirakan sekitar 75%.

WHO juga bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Kembali lagi soal menyepelekan helm pelindung kepala. Eloknya kita tak perlu mencicipi sendiri bagaimana getirnya kepala berbenturan langsung dengan permukaan jalan. Belajar dari pengalaman rasanya menjadi lebih bijak.

Nah, bagi para pejabat, petugas, aparat, para pendidik, hingga para tokoh informal, rasanya kita perlu memberi tauladan bagi masyarakat. Kini, kita kekeringan tauladan untuk banyak lini kehidupan masyarakat. Masa sih mau menambah lagi di persoalan keselamatan jalan. Apakah Anda lupa bahwa kita masih punya catatan kelam dengan hilangnya 70-an jiwa setiap hari akibat kecelakaan di jalan?

Salah satu upaya mengurangi fatalitas bagi para pengguna sepeda motor adalah dengan melindungi isi kepala. Jangan sampai kita dituduh bangsa tanpa isi kepala. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 14 April 2015 02:39

    Kalo belum jatuh gabakal deh yg namanya kapok ..

  2. 14 April 2015 22:05

    mungkin kepala mereka sudah lebih kuat dibanding aspal

  3. budiman permalink
    21 April 2015 02:22

    sepertinya janggal kalau pemerintah mewajibkan memakai helm demi keselamatan , sedangkan kecepatan motor tidak dibatasi malah skrg motor besar diperbolehkan oleh pemerintah, seharusnya seperti di vietnam kalau memang pemerintah memperhatikan keselamatan rakyat atau ada apa dengan peraturan sni helm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: