Skip to content

Kerinduan Dari Anak Bangsa

12 April 2015

poster kopcau 34 thn 2015

PENYANYI Farid Hardja pernah mempopulerkan lagu bertajuk ‘Ini Rindu’. Salah satu baitnya melantukan untaian kalimat,…”Oh burung, nyanyikanlah. Katakan padanya, aku rindu…”

Lagu yang cukup kondang memasuki tahun 1990-an itu menceritakan seseorang yang rindu pada sang kekasih. Penyanyi asal kota Sukabumi, Jawa Barat itu mampu menyihir orang yang mendengar lagu ini untuk ikut bergoyang. Sang pendengar ikut larut dalam keriangan yang keluar dari nada lagu.

Kini, hampir dua puluh lima tahun setelah lagu itu diperkenalkan, keriangan lagu Farid Hardja seperti hidup kembali. Dia seperti mampu melihat perkembangan zaman. Kehadiraannya kali ini bak dejavu.

Burung yang diminta menyampaikan pesan rindu oleh Farid Hardja, kini oleh komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) diterjemahkan sebagai kicauan burung twittter. Kicauan di lini masa Kopcau melantun “rindu” pada sosok para penegak hukum di jalan yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Sosok yang demikian diharapkan mampu menegakkan aturan lalu lintas jalan yang selaras dengan akar dari tujuan aturan itu yakni mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Suatu kondisi lalu lintas jalan yang minim gesekan horizontal dan minim fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Kopcau melantunkan kerinduannya dalam poster digital yang disebarkan lewat burung twitter. Poster digital ke-34 milik Kopcau yang diluncurkan, Jumat, 10 April 2015 malam ini merupakan suatu pengharapan anak bangsa. “Itu rindu atau mimpi?” Celoteh seorang netizen mengomentari poster yang dibesut Kopcau.

Bahkan, ada yang mengomentari, “Kalau rindu berarti sebelumnya pernah ada. Kapan?”

Saya pun menyebut sosok polisi bernama Hoegeng yang dikenal cukup harum namanya. Kita semua berharap keharuman nama itu merebak pada kekinian.

Kerinduan yang logis dari Kopcau di tengah masih maraknya kecelakaan lalu lintas jalan. Sekadar menyegarkan ingatan kita, tiap hari rata-rata sedikitnya 300-an kecelakaan terjadi di Bumi Pertiwi. Buntut kasus itu merenggut sedikitnya 70-an jiwa anak bangsa per hari. Ironisnya, lebih dari separuh dipicu oleh perilaku tidak tertib alias melanggar aturan. Tak heran jika kepolisian kemudian melontarkan jargon, “kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan.”

Salah satu hal penting yang saya yakini mampu meredam pelanggaran adalah bila penegakkan hukum dilakukan secara tegas dan konsisten. Tentu saja, di sisi lain kesadaran para pengguna jalan juga kian meningkat. Kesadaran akan pentingnya mentaati aturan demi kenyamanan dan keselamatan sesama pengguna jalan. Semoga. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: