Skip to content

Ini Aturan Soal Berkendara Saat Mabuk

9 April 2015

S/W Ver: 85.98.90R

EMPAT kolega saya sedang asyik berbincang di sudut kedai kopi. Sesekali terdengar derai tawa. Topik perbincangan ternyata seputar malam gaul mereka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Saya pun nimbrung.

Tak perbincangan serius hingga akhirnya merembet ke masalah bagaimana risiko berkendara seusai menenggak minuman beralkohol. Seorang teman berseloroh bahwa berkendara mutlak berkonsentrasi. Mengonsumsi minuman berakohol bisa merusak konsentrasi. “Makanya gue pulang duluan, daripada mabok dan nggak bisa bawa motor,” seloroh seorang teman.

Ya. Mengemudi dalam kondisi mabuk lantaran menenggak minuman beralkohol berisiko tinggi. Petaka jalan raya akan mudah terjadi. Mengingat pada umumnya tingkat konsentrasi pengendara akan buyar saat alkohol menjalar di dalam tubuh.

Di Indonesia, pada 2013, setidaknya ada tiga kasus kecelakaan setiap hari yang dipicu oleh pengemudi yang terpengaruh oleh minuman beralkohol. Dari sembilan aspek di faktor manusia yang memicu kecelakaan, aspek mabuk menyumbang sekitar 1,3%.

Seabrek contoh kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh pengendara dalam kondisi mabuk. Silakan berselancar di dunia maya. Kita akan mendapati banyak kasus, mulai yang kategori ringan hingga kecelakaan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, lihat saja kasus kecelakaan Tugu Tani di Jakarta pada 22 Januari 2012. Sang pengemudi yang divonis 15 tahun penjara itu mengonsumsi minuman beralkohol sebelum kecelakaan terjadi. Emosi publik tercabik-cabik lantaran tragedi jalan raya itu merenggut sembilan korban jiwa dan tiga lainnya menderita luka berat. Para korban adalah pedestrian yang sedang melenggang di trotoar jalan.

Contoh lain adalah kasus kecelakaan metro mini yang merenggut 30-an korban jiwa di Jakarta pada 6 Maret 1994. Sang pengemudi divonis 15 tahun penjara.

Kejadian serupa ada di berbagai negara. Kasus demi kasus bermunculan di berbagai belahan dunia. Rasanya memang berkendara dalam kondisi mabuk membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Lantas apakah tidak ada regulasi yang mengatur soal larangan mengemudi dalam keadaan mabuk?

Ternyata ada. Simak saja Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dalam pasal 106 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Penjelasan mengenai penuh konsentrasi di pasal itu merinci bahwa yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.

Lazimnya sebuah aturan, seabrek sanksi sudah menanti. Coba saja lihat pasal 283, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Tapi tunggu dulu. Bagaimana jika ternyata saat mabuk lantas menimbulkan kecelakaan? Ternyata sanksinya lebih berat lagi.

UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ mencantumkan ancaman sanksi pidana penjara dan denda bagi para pelaku kecelakaan. Sang pelaku kecelakaan bisa diganjar sanksi karena kelalaian (pasal 310) atau kesengajaan (pasal 311). Bagi mereka yang divonis melakukan kelalaian, sanksi pidana penjara maksimalnya selama enam tahun atau sanksi denda yang maksimalnya Rp 12 juta.

Sedangkan bagi mereka yang divonis melakukan kesengajaan bisa dikenai penjara maksimal 12 tahun atau denda maksimal Rp 24 juta. Sanksi juga diberikan bagi mereka yang melakukan tabrak lari.

Di dalam pasal 312 disebutkan bahwa pelaku tabrak lari bisa dikenai pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

“Makanya gue coba netralisir tubuh dulu setelah minum alkohol supaya nggak mabok sambil bawa motor,” seloroh kolega saya.

Minuman beralkohol seperti bir, kata senator asal DKI Jakarta, Fahira Idris, bisa membuat kecanduan. “Kalau sudah kecanduan pasti mengalami gangguan psikologis yang berat sampai anosognosia atau lepas kontrol,” kata dia, baru-baru ini.

Lepas kontrol atau tidak berkonsentrasi inilah yang bisa membuat seorang pengemudi menjadi predator di jalan raya. Indonesia masih memiliki catatan kelam di jalan raya. Setiap hari, Indonesia kehilangan 70-an anak bangsa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: