Skip to content

Tak Ingin Melahirkan Predator

6 April 2015

kopdar kopcau di bandung

PREDATOR adalah pemangsa yang buas. Saat dikaitkan dengan jalan raya di Indonesia, wujudnya bisa berupa kecelakaan lalu lintas jalan. Bagaimana tidak, tiap hari, 70-an orang meninggal dunia lantaran kecelakaan di jalan.

Di luar faktor penyakit, kematian yang dipicu kecelakaan demikian mengerikan. Kematian akibat narkoba disebut-sebut merenggut 50 jiwa per hari. Sedangkan HIV/AIDS merenggut sekitar 15 jiwa per hari. Artinya, di Indonesia kecelakaan menjadi nomor wahid di luar faktor penyakit.

Ironisnya, mayoritas kecelakaan dipicu oleh faktor manusia yang berakar pada perilaku tidak tertib alias ugal-ugalan di jalan. Perilaku yang melabrak aturan, bahkan etika berkendara. Untuk faktor yang ini setidaknya menyumbang 56% kecelakaan yang terjadi di Indonesia.

“Saya hampir saja melahirkan predator di jalan, jika tidak terus menerus mengajarkan anak saya agar berkendara sepeda motor itu harus sesuai aturan yang ada,” papar Subadio, salah seorang pesepeda motor saat berbincang dengan saya di Bandung, baru-baru ini.

Perbincangan itu mencuat di dalam kopi darat (kopdar) komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau), di Bandung, Jumat, 3 April 2015. Komunitas Kopcau saat itu menggelar kopdar gabungan. Selain dihadiri anggota Kopcau dari Jakarta seperti Eko, Dito, dan Fatim, sudah barang tentu dihadiri para anggota Kopcau Bandung. Selain itu, hadir para aktifis keselamatan jalan (road safety) Bandung seperti Windu dari Save The Children, Black ‘Iwan’ Riders Kopcau Bandung, Ibrahim ketua RSA Bandung, dan Rizki relawan RSA Bandung. Hadir juga Luthfi dari Kopcau Jakarta bersama dua rekannya dari komunitas motor gede (moge) MIMO, Jakarta.

Keluarga menjadi pilar penting dalam mencetak pengguna jalan yang humanis. Para pengguna jalan yang menghargai keselamatan diri dan orang lain. Mereka yang senantiasa menggunakan akal sehat, selain ketrampilan berkendara. “Selain keluarga, sekolah juga punya andil besar,” kata Windu.

Karena itu, Windu bersama dengan tiga teman lainnya di Save The Children, Bandung gencar menggulirkan kampanye ke sekolah-sekolah di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat itu. Mereka tak hanya berempat, melainkan juga mengajak pihak lain seperti kalangan mahasiswa dan sudah pasti para relawan keselamatan jalan seperti yang tergabung di RSA Bandung. “Ada 30 sekolah yang kami sasar dalam program kali ini,” ujar dia.

Sekolah yang disasar adalah level sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Para siswa diberi penyuluhan soal keselamatan jalan seperti pengetahuan mengenai rambu dan marka hingga bagaimana cara menyeberang jalan yang aman dan selamat. Para guru dan kepala sekolah diajak membangun budaya aman dan selamat di sekolah. Membuat manajemen keselamatan sekolah. Selain tentu saja mengajak para guru dan kepala sekolah menjadi tauladan keselamatan jalan bagi para siswanya. “Kami juga coba membantu peralatan yang dibutuhkan, tentu saja sebatas kemampuan kami. Selain itu kami coba bantu menjembatani dengan pihak terkait,” kata Windu.

poster kopcau 21_anak enak
Upaya mencegah anak-anak menjadi predator di jalan raya juga dilakukan oleh Kopcau lewat poster-poster digital. Komunitas ini setidaknya telah menelorkan empat poster digital dan kartu pos bertema tentang anak-anak di bawah umur. Ajakan untuk mencegah anak-anak menjadi pelaku dan korban kecelakaan terus digulirkan.

“Kami juga berminat mencetak poster digital itu menjadi kaos. Lewat medium kaos diharapkan bisa memperluas kampanye keselamatan,” kata Windu.

Sontak hal itu direspons antusias oleh Kopcau. “Kami senang saja, nanti akan kami kirimkan materi posternya,” papar Eko, salah seorang pengurus Kopcau.

Ya. Memangkas potensi perilaku pemangsa sejak dini membutuhkan waktu panjang. Tidak serta merta satu dua kali pelatihan atau penyuluhan. Perlu terus digaungkan dan tentu saja mesti melibatkan para orang tua.

Sekalipun, di sisi lain, menyelamatkan anak-anak di bawah umur dari petaka jalan raya juga merupakan tindakan penting.

Fakta memperlihatkan bahwa pada 2013, anak-anak sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas jalan angkanya meningkat. Data Korlantas Polri menyebutkan, pada 2013, anak usia 5-15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan menjadi tujuh ribuan pelaku dari enam ribuan pelaku pada 2012. Artinya, angka itu setara dengan meningkat sekitar 10%. Padahal, di kelompok usia yang lain justeru terjadi kebalikannya.

Anak-anak usia 5-15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan kontribusinya sekitar 7,15% pada 2013. Dalam tiga tahun terakhir, kontribusi kelompok usia ini terus meningkat. Coba saja lihat pada 2011 yang baru 5,10% dan 2012 yang 5,12%. Lantas pertanyaannya, kenapa orang tua membiarkan ini terjadi?
Sementara itu, anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan pada 2013 tercatat sebanyak 26 ribuan anak. Kontribusinya sekitar 15% dari total korban kecelaan di Indonesia. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: