Skip to content

Tiga Jam Diguyur Hujan di Jalur Rajamandala

5 April 2015

cipanas malam dan berkabut

PAGI baru saja menggeliat. Matahari belum muncul di langit Jakarta Timur. Si kuda besi Byson sudah siap-siap ditunggangi.

Rencana pagi itu adalah menelusuri Jakarta-Bogor-Ciawi-Puncak-Cianjur-Padalarang-Cimahi-Bandung sekitar 166 kilometer (km) dengan menunggang si kuda besi alias sepeda motor. Touring santai kali ini saya bersama sejumlah teman-teman komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau). Selain touring, di Kota Kembang itu juga akan digelar kopi darat (kopdar) bersama anggota Kopcau yang ada di Bandung serta para aktifis keselamatan jalan (road safety) yang ada di ibu kota provinsi Jawa Barat tersebut.

Perjalanan pun dimulai dari Cibubur, Jakarta Timur melintasi Jl Raya Bogor. Suasana jalan tergolong ‘sepi’ maklum, hari Jumat, 3 April 2015 itu kalender berwarna merah alias libur. Sepeda motor bisa melaju 50-70 kilometer per jam (kpj) di atas permukaan aspal yang mayoritas dalam keadaan bagus. Apalagi, cuaca juga cukup cerah pagi itu. Ketersendatan hanya ditemui di pasar Cisalak dan pasar Cibinong, kabupaten Bogor. Selebihnya, cukup lancar hingga tiba di titik kumpul, yakni restoran siap saji ala barat, Mc Donald di tengah Kota Bogor.

Di restoran yang menyediakan sarapan ala barat itu masih belum terlihat anggota Kopcau. Jadilah saya memesan sarapan lebih dulu. Menunya, dua keping Hotcakes yang diolesi sirup manis berwarna keemasan plus segelas teh manis panas.

Tak lama berselang, berdatangan para anggota Kopcau, Dito, Eko, Fiyan, Fatim, Subadio, dan Yudi. Khusus Yudi, dia hanya ‘mengantar’. “Lagi banyak kerjaan eyang, jadi maaf nggak bisa ikut kali ini,” ujarnya, saat berbincang dengan saya, Jumat pagi.

Sekitar pukul 09.00 waktu Indonesia bagian barat (WIB) kami berangkat dengan rombongan sebanyak lima sepeda motor. Rute yang dipilih Bogor-Ciawi-Puncak-Cianjur-Padalarang-Bandung. Sepanjang Bogor-Ciawi perjalanan tergolong lancar, kecepatan berkisarr 50-60 kpj. Ketersendatan mulai ditemui saat memasuki perempatan Baranangsiang Bogor dan perempatan Ciawi. Maklum, disana merupakan tempat pertemuan dengan mobil-mobil yang keluar dari pintu tol. Selebihnya cukup lancar sehingga perjalan menjadi cukup lancar dengan didukung cuaca yang cerah. Apalagi, saat itu sedang terjadi pemberlakuan satu arah dari Puncak menuju Ciawi, praktis kami yang dari arah sebaliknya, lancar jaya.

Titik kumpul selanjutnya adalah stasiun pompa bensin umum (SPBU) sebelum memasuki kota Cianjur. Sedangkan makan siang dipilih di Karang Tengah, Cianjur seraya ibadah sholat Jumat bagi yang menjalankan.

rute jakarta bandung via cianjur

Rute Karang Tengah, Cianjur melintasi Rajamandala, Cipatat, hingga ke Padalarang cukup lancar, sedangkan cuaa mulai mendung. Kemacetan mulai mengular sesaat memasuki kota Cimahi. Rombongan mulai berkonsolidasi untuk mencari lokasi Hotel D’Best, Bandung yang terletak di Jl Otista, Bandung. Beruntung ada Rizki, relawan Road Safety Association (RSA) Bandung yang saat itu melihat saya di SPBU Cimahi. Jadilah perjalanan tak perlu diisi dengan acara ‘nyasar’ untuk mencari lokasi hotel yang ternyat berada di salah satu sudut pusat perdagangan yang ramai di Bandung.

Kemacetan yang cukup parah sepanjang Cimahi menuju lokasi hotel ternyata diakibatkan oleh adanya perbaikan jalan dan sejumlah lokasi pertigaan atau perempatan jalan. Hujan mulai rintik-rintik. Saking karut marutnya lalu lintas jalan di Cimahi, Fatim sempat ‘tiduran’ di aspal karena motor skutiknya tiba-tiba tumbang. “Kayaknya dia lelah,” kata Dito yang menyaksikan adegan ‘tiduran’ itu.

Diguyur Hujan

Touring santai kali ini diisi dengan kopdar yang membahas secara ringan, namun cukup antusias seputar road safety. Sebagai output perbincangan kali ini tentu saja digodok sejumlah kegiatan yang bisa digelar di Bandung dan sekitarnya.

kopcau di mc donald bogor

Selain tim Kopcau dari Jakarta, hadir juga para aktifis Bandung seperti Windu dari Save The Children, Black ‘Iwan’ Riders Kopcau Bandung, Ibra ketua RSA Bandung, Luthfi dari Kopcau dan dua rekan dari komunitas motor gede MIMO.

Nah, usai kopdar giliran mengisi perut untuk santap malam pun datang. “Bagaimana kalau kita menikmati kuliner di Bandung. Ada rumah makan Ampera dan nyi Imas yang di dekat hotel ini,” papar Ibra.

Lokasi Ampera tak jauh dari Hotel D’Best Bandung. Jalan kaki sekitar 15 menit. Di sepanjang jalan menuju kedai makan kondang itu terdapat para penjual batu akik di emperan toko. “Disini tempat bikin batu akik dan ramai dikunjungi pembeli,” ujar Blackriders.

Soal kuliner, Ibra memang dikenal aktif. Dia tahu titik-titik menu menggoda selera di sudut-sudut Bandung. “Siang ini, kita menjajal kuliner yang lain yah,” papar pria penunggang motor skutik itu pada keesokan harinya, Sabtu, 4 April 2015 siang.

Kami pun beriringan menunggang kuda besi menelusuri kepadatan lalu lintas jalan kota Bandung. Dari Jl Otista menuju Jl Moh Toha ternyata cukup padat arus lalu lintas jalannnya. Gerimis menemani kami hingga ke kedai Mie Akim. Semua itu menjadi lunas saat menyantap menu soto ayam dan teh manis hangat di kedai Mie Akim.

“Mie Akim saya halal karena memakai bahan baku ayam dan minyak Sania,” papar Sandi, pemilik kedai Mie Akim.

20150403_101105_resized
Dia bercerita, di Bandung ada tiga Mie Akim. Dua di antaranya dikelola oleh orang tua Sandi dan menyediakan menu non halal. Sedangkan Mie Akim yang dimilikinya menyediakan menu halal. Selain memakai ayam, kata dia, bahan baku lainnya adalah sapi dan udang. “Mie Akim milik orang tua saya dimulai sejak 1967 dari sebuah gerobak dorong. Sedangkan Mie Akim punya saya baru dimulai pada 2013,” paparnya.

Urusan kuliner sudah rampung, kini saatnya kembali ke Jakarta. Curah hujan masih cukup deras. Saya, Dito, dan Eko bergegas menuju Jakarta via Cimahi-Padalarang-Cianjur-Puncak-Bogor-Jakarta. Blackriders pun memandu kami keluar dari kota Bandung yang sore itu mulai digenangi air disana-sini.

Hujan tampaknya masih belum juga puas mengguyur bumi. Tak kurang dari satu jam kami diguyur hujan dari dalam kota Bandung hingga perbatasan Cimahi dengan Padalarang. Suasana dramatis pun mulai hadir ketika kami melintas di kawasan Cipatat yang jalannya berkelok, menanjak, dan menurun.

jalur karang tengah cianjur

Aksi dramatis bermunculan. Apalagi kalau bukan urusan salip menyalip. Barangkali lantaran tidak sabar menunggu antrean yang bisa mengular, tak sedikit sepeda motor yang nekat mendahului kendaraan di depannya. Tidak tanggung-tanggung, kendaraan yang didahului adalah truk berbadan panjang. Padahal, tak sedikit kondisi jalan yang berlubang dan bergelombang plus terdapat kerikil-kerikil. Maklum, ini adalah kawasan tambang batu kapur yang sibuk.

Ironisnya, aksi salip menyalip itu banyak yang tidak didahului dengan pemberian lampu isyarat maupun bunyi-bunyian sebagai permintaan untuk mendahului. Bahkan, urusan marka jalan menyambung yang maknanya tidak boleh dilintasi pun tidak dipedulikan. Garis menyambung warna putih tadi dilibas. Entah karena tidak tahu maknanya atau memang dianggap tidak penting.

Jangan kaget, dalam suasana diguyur hujan, kendaraan yang saling salip bukan hanya si kuda besi. Ada mobil penumpang pribadi, bahkan truk berbadan panjang. Lengkap sudah.

Hujan masih terus mengguyur hingga kami melintasi jembatan Rajamandala. Jembatan yang mulai beroperasi pada 1979 ini berdiri kokoh di atas Sungai Citarum. Jembatan Rajamandala menghubungkan Kabupaten Bandung Barat dengan Cianjur. Pada siang hari, lokasi ini menghadirkan pemandangan indah. Panjang totalnya yang mencapai 222 meter dengan ketinggian sekitar 30 meter, memberi pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Oh ya, jembatan ini juga pernah diberlakukan sebagai jembatan tol oleh Preseidn Soeharto. Pemberlakukan tol terjadi sepanjang 1979-2003. Pada masa awal pemberlakuan jalan tol, tarif bagi sepeda motor sebesar Rp 50, sedangkan mobil sebesar Rp 100 sekali lewat. Saat ini, jembatan tersebut sudah dikembalikan oleh PT Jasa Marga kepada Negara sehingga bukan lagi menjadi jembatan tol.

Aksi dramatis masih terus berlanjut hingga menjelang masuk kota Cianjur, bahkan ketika memasuki jalur menanjak ke arah Cipanas, Jawa Barat. Atraksi itu bahkan digulirkan di tengah kabut pekat yang menghalangi pandangan. Pastinya, perjalanan kami belum selesai. Jakarta masih tak kurang dari 100 kilometer dari kawasan Cianjur, Jawa Barat. Keputusan untuk rehat sejenak sambil santap malam di sate Maranggai Sari Asih, Cipanas menjadi pilihan tepat. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: