Skip to content

Tabrakan, Anak di Bawah Umur Dipidana Penjara 5 Bulan

2 April 2015

S/W Ver: 85.98.90R

KADANG kita merasa ada yang tidak adil manakala anak di bawah umur divonis pidana penjara. Di sisi lain, kita dibuat gamang manakala tahu bahwa sang anak di bawah umur itu divonis karena menabrak orang lain hingga tewas.

Hukum memang harus ditegakkan. Rasa keadilan masyarakat juga harus diakomodasi. Bahkan, harus ditegaskan bahwa hukuman yang diberikan bukanlah sebagai balas dendam. Hukuman yang diberikan lebih bertujuan untuk membina dan mendidik terdakwa agar tidak mengulangi perbuatannya. Selain itu, untuk memperbaiki tingkah lakunya di masyarakat.

Kondisi seperti itulah yang mencuat di tengah-tengah kasus Sangkian, kita sebut saja begitu. Anak berusia 16 tahun ini harus berhadapan dengan meja hijau. Pelajar sekolah menengah pertama (SMP) itu bahkan juga harus mendekam di balik jeruji besi saat menjalani proses peradilan.

Kasus Sangkian dimulai pada suatu sore. Saat itu, dia bersepeda motor bersama temannya. Laju si kuda besi sekitar 60 kilometer per jam (kpj). Semula semua aman-aman saja hingga akhirnya pada satu sudut kampung, Sangkian selaku pengendara menghadapi situasi kritis. Di hadapannya ada penyeberang jalan, tabrakan pun tak bisa terhindarkan. Sangkian dan temannya mental masuk ke sawah, sedangkan sang pedestrian terpental.

Pertolongan pun diberikan kepada sang pedestrian. Namun, luka-luka yang dideritanya bercerita lain. Sang pedestrian pun meninggal dunia.

Sebagai anak di bawah umur, tentu saja Sangkian trauma. Apa yang dideritanya, apa yang dijalaninya, memberi pengalaman pahit. Terlebih, manakala dia harus mendekam di balik jeruji besi sambil mengikuti persindangan demi persidangan. Dia divonis 10 bulan penjara sekaligus denda setengah juta rupiah.

Tak terima dengan keputusan hakim di tingkat pengadilan negeri, kasus pun bergulir ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, di tingkat pengadilan tinggi keputusan masih dianggap belum memenuhi rasa keadilan masyarakat. Kasus pun terus bergulir hingga ke Mahkamah Agung (MA) hingga akhirnya Sangkian divonis lima bulan pidana penjara dengan masa percobaan satu tahun. Sangkian tidak dipenjara, tapi dia dikenai denda setengah juta rupiah atau wajib pelatihan kerja selama tiga bulan.

Sekali lagi, semua situasi itu dilematis. Anak di bawah umur diizinkan berkendara, anak di bawah umur memicu kecelakaan sehingga korban meninggal dunia, dan anak di bawah umur divonis pidana penjara. Pilihan harus dibuat. Keputusan harus diambil. Eloknya, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Selaku orang tua, kerap kita disodori situasi dilematis. Salah satunya, pilihan angkutan umum yang tak memadai menempatkan sepeda motor sebagai alternatif utama. Ironisnya, sang jagal jalan raya tak pernah seramah yang kita kira. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 2 April 2015 11:47

    dan kasus atunya jelas jelas aniaya malah rehab 2 taun . “HUKUM” .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: