Skip to content

Jangan Tiru yang Keliru (Lagi)

30 Maret 2015

busway motor 2a

SUATU siang di Jakarta. Lampu pengatur lalu lintas jalan masih berwarna merah. Tiba-tiba satu pesepeda motor melenggang, menerabas. Selang satu detik, dua pesepeda motor lainnya mengikuti. Entah apa yang ada di benak mereka.

Masih di Jakarta. Lalu lintas jalan padat merayap, sedangkan di busway tampak lengang. Tak ayal sebuah mobil melabrak jalur yang kosong itu dengan memotong median jalan. Tak perlu berlama-lama, di belakangnya mengekor mobil yang lain dan tentu saja sejumlah pesepeda motor ikut mengekor.

Ada yang bilang, begitulah potret sebagian pengguna jalan kita. Suka ikut-ikutan.

Tapi, tunggu dulu. Aksi libas melibas aturan di jalan bukan monopoli milik para pengguna jalan dari kalangan sipil. Pernah saya menyaksikan petugas yang dengan entengnya menerobos lampu merah, atau bercokol di atas zebra cross saat menunggu lampu merah. Entah apakah mereka sedang bertugas atau tidak.

Ibarat dikomando, aksi petugas tadi pun langsung ditiru. Jadilah, pelanggaran berjamaah. Mereka meniru yang keliru.

Khusus untuk petugas, semestinya menjadi figur panutan. Masyarakat rindu pada petugas yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Terkait kredibelitas fondasinya adalah sosok yang menjunjung tinggi aturan yang ada sekaligus bertanggung jawab. Disinilah akar dari kewibawaan sang petugas, selain tentu saja menegakkan aturan secara tegas dan konsisten. Saat itu tak ada, kewibawaan hukum akan runtuh. Dan, ketika itulah pelanggaran demi melanggaran terus bermunculan.

Padahal, di sisi lain kita kerap mendengar bahwa kecelakaan senantiasa diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Tak heran kita kesulitan memangkas fatalitas secara drastis bila kondisi lalu lintas jalannya karut marut. Pelanggaran dianggap sebagai hal lumrah.

Oh ya, tiga jawaban teratas dari pertanyaan, “kenapa melanggar aturan di jalan” adalah; terburu-buru, tidak ada petugas, dan ikut-ikutan. Apapun itu alasannya, saya termasuk yang yakin bahwa alasan mendasarnya adalah mereka belum merasa dirugikan oleh tindakan melanggar aturan itu.

Semua berawal dari ikut-ikutan, lama-lama menjadi kebiasaan. Bukan mustahil kesemua itu ujungnya berhenti pada kecelakaan lalu lintas jalan. Mungkin hari ini, esok hari, lusa, atau pekan depan. Hanya menunggu waktu. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: