Lanjut ke konten

Ketika Motor Kian Menjamur di Kota Khatulistiwa

23 Maret 2015

anak motor pontianak

SEPANJANG mata memandang di jalan-jalan kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) kita dapat dengan begitu mudah menjumpai sepeda motor. Para penunggangnya pun amat beragam, ada anak-anak muda, perempuan dewasa, pria dewasa, hingga anak-anak di bawah umur. Kuda besi seakan menjadi idola untuk wira-wiri di Kota Khatulistiwa itu.

“Habis mau bagaimana lagi? Sekarang angkutan umum sulit. Naik sepeda motor lebih praktis,” papar Firda, mahasiswi salah satu universitas negeri di Pontianak, saat berbincang dengan saya, baru-baru ini.

Dia bercerita, dirinya sudah mengendarai sepeda motor sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP). Artinya, ketika masih di bawah umur dan praktis tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM), dia sudah wira-wiri di jalan raya. Sepeda motor mengantarnya ke sekolah maupun bermain. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga kini memasuki semester enam.

“Maraknya penggunaan kendaraan bermotor oleh anak sekolah dapat terjadi dikarenakan beberapa permasalahan yaitu salah satunya dikarenakan permasalahan orang tua yang kurang perhatian kepada anak,” tulis Sy Usmulyono, kabid Sosial Budaya BAPPEDA Kota Pontianak, dalam artikelnya yang bertajuk ‘Fenomena Penggunaan Kendaraan Bermotor Roda 2 Menuju Sekolah oleh Siswa di Kota Pontianak.’

Orang tua seperti itu, kata dia, memperbolehkan si anak membawa kendaraan bermotor ke sekolah tanpa mengindahkan peraturan yang melarang anak di bawah umur berkendara. Kondisi lainnya, tegas dia, dapat juga disebabkan, kelalaian pihak-pihak terkait lainnya seperti : kepolisian, sekolah dan instansi-instansi terkait dalam mensosialisasikan peraturan-peraturan lalu lintas beserta sanksi-sanksinya.

Selama empat hari bertandang ke Pontianak, saya juga dengan mudah melihat anak-anak di bawah umur yang berseliweran menunggang si kuda besi. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari populasi motor yang terus meningkat. Sedikitnya dalam setiap bulan kota berusia 244 tahun ini diguyur berkisar 3.000-4.000 sepeda motor. Jumlah motor mencapai sekitar 87% dari total populasi kendaraan bermotor yang pada 2011 saja mencapai sekitar 544 ribuan unit.

pontianak macet motor

“Kalau jumlah angkutan umumnya (oplet) makin kalah oleh motor. Soalnya orang dengan gampang bisa membeli motor. Cukup bayar uang muka Rp 500 ribu bisa kredit motor,” kata seorang bapak yang saya jumpai di salah satu sudut kota.

Penasaran dengan omongan sang bapak tadi, saat memasuki salah satu mal di kota berpenduduk 598 ribuan jiwa itu saya berbincang dengan seorang tenaga pemasar sepeda motor. Dia bercerita, dalam masa promosi untuk produk motor tertentu pihaknya memberi kemudahan konsumen dengan uang muka Rp 500 ribu. Motor skutik yang dia tawarkan itu dibanderol Rp 15,090 juta per unit. Dalam brosur disebutkan uang muka Rp 3,1 juta dengan tenor dan besaran cicilan beragam. Tenor paling sedikit 29 bulan dengan angsuran Rp 650 ribu. “Uang muka cukup Rp 500 ribu, tapi ini dalam masa promosi,” kata pria muda itu.

Melihat hal itu amat masuk akal jika jumlah sepeda motor terus meningkat di Ibu Kota Kalbar ini. Rentetannya, jumlah angkutan kota juga menyusut. “Itu karena pemerintahnya tidak peduli dengan angkutan umum,” kata seorang pengemudi kepada saya.

Bila kondisi itu ditambah lagi dengan orang tua yang permisif, jadilah anak-anak di bawah umur wira-wiri dengan kuda besi. Padahal, di sisi lain, berdasarkan data dari Pihak Kepolisian Resort Kota Pontianak, sampai September 2014 dari 4.616 jumlah pelanggaran peraturan lalu lintas yang melibatkan pelajar adalah sebesar 1.986 kasus. Ironisnya, dari 539 kejadian kecelakaan lalu lintas sebanyak 120 di antaranya melibatkan pelajar.

Terkait pencegahan kecelakaan lalu lintas jalan, Usmulyono mengusulkan agar kepolisian menegakkan hukum secara konsisten terkait larangan dan sanksi bagi anak / pelajar di bawah usia 17 tahun yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua.

Rasanya masuk akal mengingat kepolisian sering berujar bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan. Kita semua tahu, anak-anak di bawah umur yang berkendara di jalan raya merupakan salah satu bentuk pelanggaran aturan UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Betul kan pak polisi? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: