Skip to content

Melihat Bayangan Hilang di Pontianak

22 Maret 2015

tugu khatulistiwa edo

RATUSAN wisatawan domestik dan asing berbondong-bondong. Mereka duduk rapih di ruang terbuka di tepi Sungai Kapuas, Batulayang Siantan, Pontianak Timur, Kalimantan Barat (Kalbar). Ada apa?

Suara merdu penyanyi Melayu menemani rombongan wisatawan berkumpul di titik yang ditentukan. Usai lantunan lagu, para dara-dara ayu melenggok dengan tarian kipas. Para dara dari Sanggar Andari itu menghipnotis para wisatawan. Sebagian menikmati tarian sambil memotret dengan kamera saku, kamera ponsel hingga kamera profesional.

Inilah rangkaian dari sajian acara Titik Kulminasi Matahari.

“Sesaat lagi kita akan menyaksikan titik kulminasi. Persisnya pukul 11.50 WIB,” ujar pria pembawa acara berpakaian adat Teluk Belanga yang berpeci hitam itu Sabtu, 21 Maret 2015 pagi.

Mulyanto, sang pembawa acara saat itu menjelaskan soal titik kulminasi matahari yang menyedot perhatian para wisatawan. Titik Kulminasi Matahari, kata dia, posisi matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Fenomena yang kerap dapat disaksikan dengan kasat mata adalah lenyapnya bayang-bayang saat matahari berada tepat di atas kepala. Selain itu, ujarnya, wisatawan bisa menjajal mendirikan telur ayam. “Siapa yang mau mencoba mendirikan telur. Tadi saya lihat ada yang berhasil,” papar dia.

Alhasil, banyak wisatawan yang mencoba menjajal fenomena itu tentu termasuk saya, ikutan menjajal. Walau, gagal mendirikan telur berwarna coklat itu.

Tapi, untuk menyaksikan ‘lenyapnya’ bayangan dalam hitungan berkisar 1-2 detik, saya sempat menyaksikan sendiri. Bayangan saya sempat hilang.

tugu khatulistiwa dan pemekaran

Fenomena unik tersebut, kata Mulyanto, terjadi setiap dua tahun sekali dalam kisaran tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Pantas saja, pada 21 Maret ini kawasan Tugu Khatulistiwa disesaki para pengunjung.

Daya Pikat

Lima tahun lalu saya sempat mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Tahun lalu, saya berkunjung lewat jalan darat. Waktu tempuh dari pusat kota sekitar 30 menit. Kali ini, saya ikut rombonan yang berkunjung menggunakan perahu lewat Sungai Kapuas. Pulangnya naik bus sewaan.

Tugu yang didirikan pada 1928 itu, menjadi titik nol sumbu khatulistiwa. Sebuah pemetaan bumi yang ditandai dengan iklim tropis. Ada musim kemarau dan musim hujan.

Tugu yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 40 menit dari Bandara Supadio, Pontianak itu, menjadi tujuan wisata pengetahuan yang memikat. Tahun 1990, Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.

perahu pontianak1

Seperti dicatat wikipedia, bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan Evenaar sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20′ OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur. Pada Maret 2005, Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) mengkoreksi posisi Tugu.

“Tugu Khatulistiwa merupakan destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan saat mereka berkunjung ke Pontianak,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Pontianak Hilfira Hamid, saat berbincang dengan saya, Sabtu siang.

Dalam catatan Pemda Pontianak, setiap tahunnya tak kurang dari 40 ribu wisatawan yang berkunjung ke Tugu tersebut. Kota yang berusia 244 tahun ini memang memiliki sejumlah obyek wisata lain di luar Tugu Khatulistiwa, namun kata Hilfira, kekhasan Tugu ini nyedot perhatian wisatawan.

Saking potensialnya Tugu Khatulistiwa dalam memikat wisatawan, mendorong pengusaha lokal, Rudy Logam untuk merogoh kocek untuk membedakinya lebih moncer. Kelak, kata dia, Tugu tersebut akan dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang. “Kami akan bangun restoran, hotel, hingga waterboom.
Targetnya semua bisa rampung pada 2018,” papar dia saat berjumpa dengan saya di kawasan Tugu.

edo mendirikan telor

Berapa kocek yang dirogoh? “Nilainya sekitar Rp 150 miliar. Dalam hitungan saya, investasi itu baru kembali modal dalam 20 tahun,” ujarnya.

Baiklah pak, semoga Tugu Khatulistiwa kian moncer selain sebagai obyek wisata tapi juga sarana edukasi. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: