Skip to content

340 Ribu Tewas Akibat Kecelakaan di Jalan

21 Maret 2015

laka berita koran1

PERNAHKAH terbayangkan dalam pikiran Anda seberapa ganas lalu lintas jalan di Indonesia? Lalu, apakah keramahtamahan orang timur tercermin di perilaku para pengguna jalan kita?

Dua pertanyaan tadi kerap melintas di benak saya. Dalam pengembaraan mencari jawaban atas dua pertanyaan itu berhenti pada data yang mencengangkan. Bagaimana tidak, dalam 20 tahun terakhir, yakni rentang 1995-2014, jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan mencapai lebih dari 340 ribu jiwa. Bayangkan, artinya, dalam rentang 20 tahun terakhir, tiap hari 46 orang tewas akibat kecelakaan.

Keganasan kecelakaan lalu lintas jalan begitu dengan mudah terjawab ketika melihat data itu. Indonesia yang bagian dari bangsa timur dikenal cukup ramah, murah senyum, dan bertoleransi tinggi justeru brutal di jalan raya. Dalam rentang tahun itu setiap hari setidaknya ada 120 kasus kecelakaan di jalan. Artinya, setiap jam ada lima kasus kecelakaan. Setiap kita nonton satu film di bioskop yang berdurasi 120 menit, ada 10 kasus kecelakaan.

Ironisnya, lebih dari separuh kecelakaan yang terjadi dipicu oleh faktor manusia. Pada tiga tahun terakhir aspek paling menonjol di faktor manusia adalah perilaku tidak tertib saat berkendara. Makna tidak tertib bisa diterjemahkan perilaku yang melanggar aturan alias ugal-ugalan di jalan. Pertanyaannya, kemana kepribadian yang ramah dan toleran itu?

Begitu mudahkah kita mengabaikan aturan yang ada? Atau, jangan-jangan juga ada aspek ketidaktahuan atas aturan yang berlaku?

Coba saja renungkan. Mayoritas pengguna jalan pasti faham betul bahwa saat lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah artinya adalah berhenti. Lalu, kenapa masih ada saja yang dengan enteng menerobos. Melenggang seakan tak memperhatikan hak pengguna jalan yang lain. Pada sisi lain, tindakan itu seperti tak menghiraukan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain. Padahal, Korlantas Polri sering mendengungkan bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan.

Contoh perilaku menerobos lampu merah tadi menunjukkan bahwa tahu saja tidak cukup. Pengetahuan mesti dilengkapi dengan sikap sudi toleran. Menghargai hak sesama pengguna jalan dan menghargai keselamatan sesama pengguna jalan.

Pertanyaannya, kenapa jika sudah tahu tapi masih melanggar aturan di jalan?

Dalam contoh kasus menerobos lampu merah tadi saya kerap mendapat tiga jawaban paling atas. Ketiganya itu adalah; terburu-buru, tidak ada petugas yang menjaga, dan ikut-ikutan.

Tapi, apa iya seperti itu akar persoalannya?

Ternyata, saya lebih cenderung setuju dengan pendapat bahwa mereka yang tahu aturan tapi menerobos lampu merah didorong oleh aspek lain. Apakah itu?

Ini dia. Mereka merasa belum dirugikan atas tindakan pelanggaran yang dilakukannya dengan sadar tersebut.
Apa hal yang bisa dianggap merugikan mereka?

Barangkali, ini barangkali. Pertama, ketika sang penerobos lampu merah itu kena sanksi denda maksimal Rp 500 ribu seperti diamanatkan oleh UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Kedua, kena sanksi pidana kurungan maksimal selama dua bulan seperti diamanatkan oleh UU yang sama. Ketiga, sang pelanggar belum pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan luka serius.

Di masyarakat kerap kita temui jargon bahwa kalau belum menjajal sendiri tidak percaya rasa cabai itu pedas. Tapi, apa iya mesti menjajal petaka jalan raya baru tobat dan sudi toleran dengan terus berkendara dengan tertib?

Disini rasanya tepat sekali pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: