Skip to content

Dirazia, Eh Batu Cincin Pindah Tangan

20 Maret 2015

operasi zebra 2014_a

DEMAM batu cincin meluas. Masyarakat seperti dihipnotis. Di kantor saya juga begitu. Banyak diantara kolega-kolega saya yang menggandruni batu.

“Saya pernah beli dua batu krypton yang dari meteor. Harganya Rp 2,5 juta satu unit,” seloroh seorang rekan saat kami berbincang di kantin kantor, pada suatu petang.

Dia bercerita, batu cincin bisa menjadi medium untuk berkomunikasi, selain tentu saja untuk dinikmati keindahannya. Pendapat itu diamini banyak kolega saya yang belakangan menggandrungi batu cincin. Sampai-sampai, ada yang membawa senter kecil ke kantor lengkap dengan kain untuk menggosok-gosok.

“Batu itu kan bisa ‘bertumbuh’. Dari kecil, terus membesar,” kata seorang rekan.

Nah, masih terkait soal batu cincin, seorang teman di kantor punya cerita unik. Bukan soal batu yang punya ‘kekuatan’ atau soal melambungnya harga batu setelah memenangi kontestasi. Keunikannya begini.

“Pagi itu saya naik motor. Di depan saya lihat ada razia. Saya pun berhenti dan menyerahkan surat-surat kendaraan dan SIM sesuai permintaan polisi yang menghentikan kami,” papar Ozan, begitu saja kita sapa.

Lazimnya razia, surat-surat tersebut pun diperiksa oleh petugas. Semua berjalan lancar. Tidak ada masalah karena memang Ozan merasa tidak melanggar rambu lalu lintas. Tapi, seusai memeriksa surat-surat, Ozan dikagetkan oleh pernyataan sang petugas.

“Wah cincin kamu bagus. Boleh untuk saya? Buat kenang-kenangan,” ucap Ozan menirukan ucapan sang petugas.

Sontak Ozan mengak kaget. Dia tidak menyangka sang petugas memintanya batu cincin. Padahal, katanya, cincin itu termasuk kesukaannya. Karena itu, batu cincin itu hampir setiap hari menemani jemarinya. “Itu batu mata sulaeman kesukaan saya,” paparnya.

Tapi, lanjut dia, permintaan sang petugas tadi sulit untuk ditolak. Walau dengan berat hati, Ozan akhirnya menyerahkan cincin tersebut. “Padahal, harganya bisa mencapai Rp 300 ribu kalau di pasaran,” ucapnya.

Razia rampung. Ozan pun melenggang bersama isteri dan anaknya yang balita. “Di dalam hati sih nggak iklas ngasihnya,” ucap dia.

Cerita belum selesai. “Ngomong-ngomong, saudara saya juga pernah diminta batu cincinya pas lagi ada razia. Tapi, saudara saya nggak ngasih,” seloroh Ozan.

Jadi keingatan slogan kepolisian yang 3 M, yakni ‘melindungi, mengayomi, dan melayani.’ (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 20 Maret 2015 09:02

    Wadyah… Polisi ne ngemis batu akik .. Lha kok dikasih ya.. Kyk orang kena hipnotis aja.. Lgsung dikasih 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: