Lanjut ke konten

Semua Bisa Terlambat

15 Maret 2015

jalan menurun

ALARM terdengar nyaring. Suaranya merambat ke seluruh kamar. Dylano membuka mata dan menggapai ponsel sumber bunyi alarm.

“Wah, sudah jam delapan. Terlambat deh gue,” gumam dia dalam hati.

Pagi itu dia janji menjemput Sista sekaligus mengantar sang pujaan hatinya itu mencari kado ulang tahun buat sang kakak. Sista amat perhatian kepada Vita, kakak perempuannya. Selaku bungsu dua bersaudara, Sista amat menyayangi sang kakak yang tahun ini memasuki usia 23 tahun.

“Pokoknya aku pingin ngasih kado istimewa buat kak Vita. Kamu anterin aku yah,” rajuk Sista kepada Dylano saat mereka menikmati seafood di salah satu sudut Jakarta, malam sebelumnya.

Seperti biasa Dylano tak kuasa menolak. Nyaris dua tahun mereka memadu kasih, kemanjaan Sista menjadi salah satu yang membuat hubungan mereka ngeri-ngeri sedap. Saat pertengkaran terjadi gara-gara salah faham, rajukan Sista meluluhkan hati Dylano. Apalagi ditambah sorot matanya yang bening, jadilah dia bertekuk lutut di sudut kerling wanita.

Usai mandi dan sarapan sekenanya, Dylano meluncur dengan si kuda besinya. Motor bermesin 250cc itu selalu setia menemani ke kampus, pacaran, hingga touring keluar kota. Kecintaannya menunggang roda dua sudah berlangsung sejak kelas tiga es em a. Waktu itu orang tuanya menganggap dia sudah berusia cukup untuk memiliki surat izin mengemudi alias SIM.

“Kalau naik motor sudah punya SIM, papah jadi agak tenang. Meski udah jago bawa motornya, kalau nggak punya SIM sama aja bohong,” ujar papahnya saat mengantarkan untuk membuat SIM lima tahun lalu.

Faktanya memang agak mengejutkan bahwa sekitar 56% pelaku kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia tidak memiliki SIM. Ironisnya, sebagian dari mereka adalah anak-anak di bawah umur.

“Tuh kan telat lagi,” seloroh Sista, saat Dylano duduk di teras rumahnya.

“Iya, maaf. Kan kamu yang ngajarin jangan nerobos lampu merah, apalagi sampe ngelawan arus.”

“Tapi, kamu bangun kesiangan kan?”

“Iyah.”

“Ya udah, yuk berangkat, takut keburu hujan. Kamu bawa helm dua kan?”

* * *

Teman-teman di kampus menyebut Dylano sebagai ‘Tuan Telat’. Gara-garanya apalagi kalau bukan karena sering datang terlambat saat janjian. Pernah suatu ketika mereka bertanding futsal dan akhirnya kalah tipis lantaran Dylano datang telat. Padahal, di tim futsal mereka, Dylano pemain andalan. Sontekan dan stamina tubuhnya paling bagus. Sebagai penyerang andalan dia sering mencetak gol dan menjadi penentu kemenangan.

“Woi, telat lagi luh. Udah ditungguin tuh ama Bu Shari. Hari ini lu kan janjian jam satu. Sekarang udah jam dua,” kata Rudy, teman akrabnya di kampus.

Bu Shari adalah dosen killer. Sebenarnya lebih tepat orangnya tegas. Usianya empat puluh tahunan dan meraih gelar doktor dari kampus kondang di Negeri Paman Sam. Siang itu Dylano janji ketemuan dengan sang dosen pembimbing skripsinya itu.

Perlahan dia mengetuk pintu ruangan Bu Shari. Terdengar suara untuk memintanya masuk. Dylano pun melangkah masuk. Ruang kerja itu cukup rapih dan bersih. Tampak setumpuk berkas di atas meja berwarna hitam di sudut ruangan. Udara sejuk mengalir dari pendingin ruangan.

“Silakan duduk. Kenapa terlambat? Saya paling nggak suka orang terlambat, menyepelekan waktu,” berondong Bu Shari, sesaat setelah Dylano duduk di kursi empuk di hadapan sang dosen.

Belum sempat Dylano menjawab, mengalir lagi berondongan pernyataan campur pertanyaan.

“Saya kan sering bilang, kunci keberhasilan itu salah satunya adalah disiplin. Kalau kamu saat kuliah saja sudah tidak disiplin, bagaimana nanti masuk ke dunia kerja? Persaingan sangat ketat di luar sana. Tidak hanya membutuhkan orang pintar, tapi juga butuh orang yang disiplin.”

“Ya….bu,” jawab Dylano.

“Kamu mau cari alasan apa lagi kali ini?”

“Tidak ada bu. Faktanya saya memang terlambat. Satu jam.”

“Lantas, kenapa terlambat?”

Suasana hening. Dylano menghela nafas. Dia mesti memilih kalimat yang pas dan masuk akal. Pikirannya mengembara mesti dari mana dulu menceritakan pengalaman yang dialaminya pagi tadi. Pengalaman pertamakali menghadapi kecelakaan lalu lintas jalan. Ketika itu dia sedang menuju ke kampus ketika tiba-tiba muncul ibu-ibu muda bersepeda motor skutik. Dia tak sendiri, di bagian depan motornya berdiri seorang bocah berusia sekitar enam tahun.

Kehadiran yang tiba-tiba dari gang di pinggir jalan membuat pesepeda motor di depan Dylano panik. Dia banting stir ke kanan. Namun, dari arah berlawanan datang mobil angkutan kota. Dan, brakkk!!!

Sang pesepemotor tadi terluka. Dia terjerembab di kolong mobil angkutan kota. Darah mengucur dari kepalanya. Bagian tubuh lain yang terluka terlihat di bagian kaki dan tangan. Warga pun berkerumun.

Dylano menghentikan sepeda motornya. Dia coba membantu. Langkah awal dia mencoba menghubungi kantor polisi setempat, lalu disambung menghubungi ambulance rumah sakit terdekat. Dia juga sempat memotret kendaraan yang terlibat kecelakaan untuk memberitahu pihak kepolisian lewat jejaring media sosial, twitter.

Sedangkan warga yang lain mencoba mengangkat sang korban ke pinggir jalan. Pesepeda motor tadi tampak masih sadar. Ada yang bertanya soal tempat tinggal sang korban. Tapi, ada yang berinisiatif menghubungi kerabat sang korban melalui ponsel. Daftar panggilan terakhir di ponsel korban dihubungi oleh seorang warga.

Sang sopir angkutan kota terlihat panik. Dia dikerumuni warga dan diminta ikut bertanggung jawab. Sedangkan petugas yang dinanti tak datang jua. Akhirnya Dylano berinisiatif meminta sang sopir mengantar korban ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan segera agar tidak lebih fatal lagi kondisinya.

“Lalu kamu ikut mengantar ke rumah sakit?” tanya Bu Shari.

“Iya bu. Saya coba membantu sebisanya. Tapi persoalan belum selesai karena pihak rumah sakit meminta uang jaminan sebelum memberi pertolongan,” jawabnya.

“Siapa yang membayar?”

“Kebetulan saya ada uang sedikit. Saya bilang ke petugas rumah sakit, ini sekadar uang muka, tak lebih dari satu juta rupiah. Jika ada kekurangan nanti akan dibayar oleh keluarga korban. Terpenting, korban ditolong terlebih dahulu.”

Suasana kembali hening. Masing-masing mengembara dengan jalan pikirannya sendiri. (edo rusyanto)

Cibubur, minggu kedua Maret 2015

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: