Lanjut ke konten

Gelora Safety Riding di Kampus ITS Surabaya

9 Maret 2015

IMG_20150307_101259

SUASANA kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya masih lengang, Sabtu, 7 Maret 2015 pagi. Jarum jam masih menunjukan pukul 08.45 WIB ketika saya menjejakan kaki di kampus yang terletak di Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur itu. Sabtu pagi jadwal perkuliahan libur, tak heran jika suasana kampus yang memiliki luas 180 hektare itu tampak lengang.

“Tapi, hari ini ada tujuh kegiatan yang digelar di kampus kami,” papar Yudha Prasetyawan, dosen sekaigus Sekretaris Pusat Inkubator Industri (BKIBV) ITS saat berbincang dengan saya, Sabtu pagi.

Salah satu dari tujuh kegiatan itu adalah ‘Seminar Safety Riding’ yang digelar mahasiswa ITS. Seminar ini menjadi rangkaian roadshow buku ‘Menghapus Jejak Roda’ yang saya tulis pada 2014. Roadshow ini rangkaian dari kegiatan serupa yang sudah digelar pada 2014. tahun lalu, roadshow digelar di UPN Veteran Jakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dan Politeknik Pajajaran, Bandung.

“Kami harap mahasiswa dapat tercerahkan dari seminar ini. Masalah safety riding sudah menjadi masalah harga diri bangsa,” ujar Ahmad Rusdiansyah, Dr.Eng, CSCP, kepala Badan Koordinasi, Pengendalian dan Komunikasi Program (BKPKP) ITS Surabaya saat membuka seminar.

Dia menekankan bahwa sudah banyak kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi hingga saat ini. Catatan Kepolisian Polda Jawa Timur memperlihatkan bahwa setiap hari di wilayah ini tercatat 13 orang tewas akibat kecelakaan. Ahmad menegaskan, masalah harga diri bangsa itu tercermin lewat ketaatan pada aturan saat di jalan raya. “Aturan yang baik terkait dengan keselamatan diri sendiri dan orang lain,” paparnya.

20150307_103020_resized

Pernyataan itu sekaligus membuka jalan untuk saya memaparkan bagaimana pentingnya peran mahasiswa dalam memangkas potensi kecelakaan lalu lintas jalan dan fatalitasnya. Apalagi, sepanjang empat tahun, 2010-2013, tercatat tak kurang dari 36 ribu mahasiswa yang menjadi korban kecelakaan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 24 ribu ditetapkan sebagai pelaku kecelakaan alias orang yang memicu terjadinya kecelakaan.

Tentu hal ini bukan persoalan yang sederhana. Indonesia mencatat, setiap hari sekitar 73 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan dan sekitar 18% di antaranya terjadi di Jawa Timur. Inilah angka kematian tertinggi dari 34 provinsi yang ada di Indonesia saat ini.

Teknik dan Pelaku Kecelakaan

Seminar yang dihadiri 150-an mahasiswa teknik ITS Surabaya ini bergulir dengan hangat. Sekaliun kupasannya soal serius, komunikasi yang dibangun tetap cair dengan canda yang tetap dalam rel logika para intelektual muda.

Kupasan terkait buku ‘Menghapus Jejak Roda’ menempatkan mahasiswa agar sudi menjadi penggerak sekaligus pendobrak lahirnya lalu lintas jalan yang humanis. Mahasiswa menjadi agen penggerak pentingnya berlalulintas jalan yang aman dan selamat. Mahasiswa mampu menjadi kelompok yang memangkas mentalitats jalan pintas. Mental seperti itu mencari pembenaran dan jalan pintas untuk kepentingan diri sendiri saat berlalulintas jalan. Walau, dalam tanya jawab di seminar kali mencuat bagaimana sejumlah indikasi masih suburnya mentalitas jalan pintas.

“Pak polisi mestinya tidak menutup jalan yang untuk putar balik karena putarannya menjadi jauh,” sergah seorang mahasiswa.

Dia mengkritisi kenapa polisi menutup putaran jalan yang menuju kampus ITS di Sukolilo. Buntutnya, kata dia, ada yang melawan arus, ada yang melintas di atas taman, hingga ada yang nekat mengangkat penutup jalan agar bisa melintas.

Sontak hal itu mendapat respons dari Aiptu Firmansyah, bintara Dikyasa Satlantas Polrestabes Surabaya yang hadir sebagai salah satu pembicara. “Penutupan putaran itu sudah sesuai pertimbangan kami demi kelancaran arus lalu lintas jalan dan menghindari terjadinya kecelakaan,” sergah dia.

Indikasi lain dilontarkan oleh beberapa mahasiswa soal perolehan surat izin mengemudi (SIM) yang harus lewat jalan pintas. “Saya terpaksa membayar Rp 400 ribu untuk mendapatkan SIM,” sergah seorang mahasiswi berhijab.

cover buku 2014

Dalam diskusi juga mencuat bagaimana seputar masalah teknis berkendara yang aman dan selamat. “Bagaimana menghitung jarak aman saat berkendara,” tanya seorang mahasiswa.

Atau, “Bagaimana pengereman yang aman dan selamat?” tanya mahasiswa lainnya.

Terkait kedua hal itu, Johanes Lucky, senior analyst Training Development PT Astra Honda Motor mengajak mahasiswa untuk memakai jarak aman dua detik. “Caranya, bisa menempatkan obyek tidak bergerak sebagai patokan. Misalnya, pohon. Ketika motor di depan melintasi pohon itu maka kita menghitung dari satu hingga dua, kita melintasi pohon itu dalam hitungan kedua setelah motor di depan kita melintas,” paparnya.

20150307_124328_resized
Sedangkan soal pengereman yang aman dan selamat, Johanes menuturkan, pengereman yang efektif di sepeda motor adalah dengan dominan rem depan. Porsinya, kata dia, 60 rem depan dan 40 rem belakang.

Di sisi lain, mahasiswa juga mempertanyakan bagaimana solusi yang disodorkan para produsen sepeda motor terkait dengan keselamatan jalan. Saat ini, kata mahasiswa itu, pemerintah mempunyai program penyediaan angkutan umum massal yang diharapkan juga mengurangi potensi kecelakaan dalam penggunaan kendaraan pribadi. Maklum, mayoritas kecelakaan melibatkan sepeda motor sebagai salah satu jenis kendaraan pribadi. “Bagaimana solusinya agar industri tetap bertumbuh dan angkutan umum juga berjalan dengan baik,” tanya mahasiswa tersebut.

Dalam kacamata Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) yang menjadi salah satu pembicara, sepeda motor masih menjadi alternatif transportatsi. Peran industri dalam soal keselamatan jalan salah satunya adalah dengan memproduksi sepeda motor yang memenuhi standar keselamatan. Selain itu, katanya, para produsen juga gencar melakuan sosialisasi dan pelatihan safety riding. “Soal transportasi umum, itu peran pemerintah, kami dukung dan berharap dapat terwujud dengan baik. Sedangkan kami industri menyumbang pendapatana negara dan menyerap tenaga kerja,” katanya.

20150307_090940_resized

Seminar kali ini berlangsung sepanjang empat jam, dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Setelah melalui serangkaian paparan dan tanya jawab, seminar ditutup dengan makan siang bersama.

Persis sekitar pukul 14.03 WIB saya beranjak dari kampus yang telah menghasilkan mobil listrik dan robot itu. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 9 Maret 2015 09:42

    Reblogged this on Suetoclub's Blog and commented:
    “Menghapus jejak roda”

  2. 7 Mei 2015 06:27

    sy belum dpt sertifikat dan buku2nya sampai sekarang ini…panitia acara jg sdh sy hubungi tp blm ada balasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: