Skip to content

Cukilan Malam di Emperan Toko

7 Maret 2015

malam di jakarta

MALAM baru mau memeluk pagi. Hujan masih deras mengguyur bumi. Lalu lalang kendaraan kian menipis, tak seramai menjelang malam, apalagi dibandingkan dengan pagi hari.

Tio merapatkan tubuh ke dinding rolling door toko tempatnya berteduh. Sebagian sepatu sport kumalnya sudah basah oleh percikan air hujan. Jaket bawaan dari dealer tempatnya kredit motor dikancingkan rapat-rapat untuk menepis rasa dingin yang mencoba menyusup ke balik jaket.

“Kapan berhenti nih hujan. Tadi prakiraan cuaca nggak bilang mau hujan ini malam,” gumam Tio dalam hati.

Memasuki Maret biasanya hujan semakin langka mengguyur. Hujan yang datang malam ini barangkali sisa-sisa dari musim penghujan. Tio pernah membaca di surat kabar bahwa akhir Februari merupakan puncak dari musim penghujan. Walau begitu, di cantolan sepeda motor skutiknya selalu tersedia jas hujan. Tetap saja, jika hujan deras menyerbu bumi, Tio memilih berteduh. Rasa dingin saat diguyur hujan, ditambah percikan air di bagian wajah kerap mengganggu pandangannya, mengganggu konsentrasi. Apalagi pada malam hari. Lengkap sudah alasan untuk memilih berteduh.

Jika adik iparnya tidak terlambat memberinya pinjaman uang untuk menebus obat di rumah sakit, Tio tak harus pulang larut malam. Uangnya tidak cukup untuk menebus obat. Penyakit anak bungsunya membutuhkan obat terus menerus. Kelainan jantung yang diidapnya sedari lahir membutuhkan perawatan dengan biaya tidak sedikit. Hari ini Tio mesti menebus obat, tapi baru dapat pinjaman pada malam hari. Dalam perjalanan sepulang menebus obat hujan turun dengan lebatnya. Tio memilih berteduh.

Dia pernah membaca tulisan yang mengulas soal kecelakaan lalu lintas jalan dan hujan. Indonesia mencatat bahwa kecelakaan yang dipicu oleh faktor alam banyak disumbang oleh aspek hujan. Setiap hari, sedikitnya satu kasus kecelakaan yang dipicu oleh hujan. Bagaimana tidak, ada seabrek alasan yang bisa bikin kecelakaan seperti kondisi jalan yang licin, pandangan yang terbatas, dan bagi pesepeda motor ditambah lagi oleh kondisi fisik yang kedinginan. Makanya Tio tak memaksakan menunggang kuda besi saat hujan deras mengguyur bumi. Maklum, dia pernah mengalami getirnya petaka di jalan raya. Peristiwa itu terjadi persis di tengah hujan deras. Kuda besinya terperosok dan menyeretnya menginap di bangsal rumah sakit dua minggu.

Tanpa disadari Tio, sedari tadi sepasang mata menatapnya dengan tajam. Pandangan yang penuh selidik datang dari sudut emperan toko tempatnya berteduh. Sorotan tajam itu seperti serigala yang mengintai mangsa.

“Jam berapa pak?” Tanya sang perempuan muda kepada Tio.

“Jam dua belas lewat lima,” jawab Tio sekenanya.

“Pulang kerja pak?” Selidik perempuan tadi.

“Nggak. Saya baru nebus obat buat anak saya yang sakit.”

“Umur berapa pak?”

“Baru kelas dua es de. Sakit kelainan jantung. Daripada saya saya celaka dan obatnya nggak nyampe ke rumah malam ini, saya milih neduh dulu. Nanti kalau dah nggak deras baru jalan lagi.”

“Saya jadi ingat nenek saya.” Sergah sang perempuan muda seraya mengepulkan asap rokok.

“Bapak mau?” Sambung dia sambil menyodorkan rokok.

Tio menggeleng. Dia sudah berhenti merokok. Di usianya yang menjelang setengah abad, dia kini menanggung derita sesak nafas lantaran merokok sejak usia muda.

“Nenek saya meninggal gara-gara obat sakit jantungnya terlambat datang. Waktu itu abang saya nebus obat. Waktu pulang ke rumah motornya terhalang rombongan anak-anak motor yang menutup jalan. Abang saya marah. Anak-anak motor itu ngotot dan mereka mukulin abang saya. Dia luka-luka. Obatnya berjatuhan dan nenek saya nggak ketolong,” ucap perempuan itu lirih.

“Saya ngerti nak, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai.”

“Bapak lebih baik pulang sekarang. Bapak ada di waktu yang nggak tepat.”

Hujan sudah tidak deras. Tiba-tiba muncul dua sepeda motor skutik. Satu motor ditumpangi dua orang, satunya lagi sendirian. Mereka memarkirkan motor mengapit motor Tio. Pria yang menunggang motor sendirian menghampiri perempuan muda tadi. Keduanya berbisik-bisik. Sesekali melirik ke arah Tio.

“Cepetan bang. Mumpung sepi nih. Sekarang aja,”sergah pria muda berbadan kerempeng ke pria yang didekat perempuan muda tadi.

Pria yang dipanggil abang itu tampak ragu-ragu. Dia melangkah pelan mendekati Tio.
“Kelamaan nih. Keburu ada orang bang,” kata si kerempeng lagi.

“Banyak bacot lu. Ngomong sekali lagi, gua gampar luh,” sergah pria itu kehilangan sabarnya.

Dia pun berujar ke Tio, “Bapak lebih baik pulang sekarang. Hujannya lagian udah gak deres. Pulang pak, sebelum kami kehilangan kesabaran nih.”

Bau minuman keras menerpa ketika pria itu berujar. Tio kebingungan. Dia menatap perempuan muda tadi. Sorot mata sang perempuan muda dibarengi anggukan seperti berharap dia pergi. Tio pun bergegas.

Hujan menemani ketika Tio menghidupkan mesin motornya. Di belakangnya empat sosok anak muda menatap dengan beragam pikiran.

Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Maret 2015

(edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 7 Maret 2015 09:35

    cerita ini bersambung gak bang?

    • 7 Maret 2015 16:01

      sudah selesai 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: