Lanjut ke konten

Arisan di Jalan Raya

6 Maret 2015

laka mobil dan motor_tmcpolda

MAUT di jalan raya tak pernah memilih. Dia juga datang tak perlu membuat janji. Bila kamu menduga dia hanya untuk orang tertentu, rasanya itu keliru.

Mari lihat di sekitar kita. Mari tengok jalan raya kita, mari baca karya para pewarta. Setiap hari, kecelakaan lalu lintas jalan hadir bagai tak pernah merasa jemu. Tiga ratusan kasus yang terjadi setiap hari, seperti kita membuka keran di wastafel. Mengalir dan mengalir. Bahkan, alirannya bisa sampai jauh.

Siapa pun bisa memeluk petaka jalan raya. Apalagi bagi dia yang memilih untuk membangunkan sang jagal jalan raya dari tidurnya. Menantang dengan lantang lewat kecongkakan, kelalaian, hingga perilaku dungu. Sudah tahu keliru, masih terus ditiru. Seakan tak berdosa berlindung dalam jargon kesalahan kolosal.

Sang jagal jalan raya hadir karena ditantang oleh kita. Mayoritas nestapa di atas pekatnya aspal lantaran penglaju yang ugal-ugalan. Mereka beringas bak serigala kota melahap mangsa. Kalau sudah begitu patut dipertanyakan apakah seperti itu isi ajaran di dalam ruang-ruang keluarga.

Tiap hari, tujuh puluhan jiwa melayang sia-sia. Para penglaju meregang nyawa digerus kelamnya petaka jalan raya. Tak perlu lagi bicara soal siapa pelaku dan siapa korban. Mereka sama-sama masuk dalam deretan duka anak negeri. Deretan kelam yang kerap dianggap sambil lalu sebelum merasakan sendiri getirnya aspal jalan raya. Mereka berteriak ketika taring jagal jalan raya mencabik sekujur tubuh, tapi mereka diam saat sang jagal memilih orang di luar sana.

Tumbangnya putera-puteri Ibu Pertiwi bak arisan di jalan raya. Semua hanya menunggu waktu, giliran siapa hari ini. Setiap nama kian cepat keluar ketika siempunya getol melibas segala tatakrama yang ada. Arisan kian cepat datang ketika bertingkah melabrak aturan, enggan toleran, hingga memamerkan keberanian semu pemuas dahaga nafsu serigala di dalam diri.

Betul kita tak tahu apa yang terjadi esok hari. Kita tak mampu menembus waktu, melihat teka-teki zaman. Apalagi mengatur jadwal keluar arisan. Tapi kita tahu, siapa menanam dia menuai. Siapa yang tak mengusik sang jagal jalan raya dari tidurnya, tak dilirik oleh tajamnya cengkeram sang jagal. Kita punya pilihan kawan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: