Skip to content

Belajar dari Kecelakaan Tikungan Maut

4 Maret 2015

Cipularang_Jembatan 5

KITA para pesepeda motor termasuk rentan menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan. Lihat saja, komposisi kendaraan yang terlibat kecelakaan didominasi oleh kendaraan roda dua alias si kuda besi. Ironisnya, ketika kita menjadi korban kecelakaan, derita yang dipikul bisa amat memilukan.

Dalam posisi yang rentan itu mau tidak mau, suka tidak suka, kita para pesepeda motor mesti ekstra waspada. Konsentrasi saat berkendara menjadi harga mati. Itulah bagian dari ikhtiar selain sudi toleran dan mentaati aturan. Ikhtiar, lalu selebihnya serahkan pada yang Maha Kuasa.

Apa yang menimpa Sudiatimo, kita sapa saja begitu, menjadi satu dari ratusan ribu kasus kecelakaan yang terjadi setiap tahun di Indonesia. Pesepeda motor ini menghembuskan nafas terakhir manakala tunggangannya diseruduk mobil di sebuah tikungan jalan. Inilah satu lagi fakta bahwa pesepeda motor menjadi obyek kecelakaan di jalan.

Ketika itu, Dradan, sebut saja begitu, mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Ketika memasuki tikungan jalan dia melaju tak lebih dari 60 kilometer per jam (kpj). Namun, lantaran mengerem mendadak, mobilnya melintir dan pada saat bersamaan muncul sepeda motor dari arah berlawanan. Tabrakan tak terhindarkan sore itu. Sudiatimo cedera dan akhirnya meregang nyawa, sedangkan penumpang yang diboncenginya terluka. Demikian juga dengan Dradan, dia mengalami cedera tidak serius.

Dradan diseret ke pengadilan. Dia dijerat pasal 310 ayat 4, UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Setelah melalui proses persidangan selama kurang lebih empat bulan, pria muda itu divonis hukuman penjara empat bulan. Putusan itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta hakim menghukum Dradan selama lima bulan penjara.

Selang dua hari setelah putusan majelis hakim, Dradan dilepaskan dari penjara. Maklum, selama proses persidangan dia meringkuk di balik jeruji penjara. Hampir empat bulan Dradan mendekam dipenjara. Putusan majelis hakim hampir setara dengan lama Dradan di dalam tahanan.

Oh ya, substansi pasal 310 ayat 4 menyatakan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dan mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Ancaman sanksi dan realita putusan majelis hakim tak selamanya pararel. Dalam kasus kecelakaan Dradan, dia divonis empat bulan penjara, untuk hal itu tentu saja majelis hakim punya pertimbangan tersendiri.

Di sisi lain, pesepeda motor yang menjadi korban amat mungkin meninggalkan duka nestapa berkepanjangan pada keluarga yang ditinggalkan. Sanksi bagi pelaku kecelakaan sudah pasti tak mengembalikan hidup sang korban. (edo rusyanto)

foto istimewa

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: