Skip to content

Rasanya, Ugal-ugalan di Jalan Bukan Kepribadian Kita

3 Maret 2015

motor jarah busway di jakarta globe

BERTUBI-TUBI saya menyaksikan sekaligus mengalami bagaimana “kejamnya” jalanan Ibu Kota Republik Indonesia. Pengguna jalan di Jakarta seperti sumbu pendek, mudah meledak. Tentu, perilaku ugal-ugalan itu milik sebagian dari jutaan pengguna jalan. Bukan seluruh pengguna jalan.

Sekalipun hanya sebagian dari pengguna jalan yang ugal-ugalan, tetap saja membuat kita menjadi prihatin sekaligus was-was. Bagaimana tidak. Coba tengok ketika puluhan atau ratusan sepeda motor luber hingga ke trotoar jalan. Para pedestrian pun tunggang langgang.

Atau, bagaimana para penunggang gerobak besi alias mobil, menjarah bahu jalan. Mereka ramai-ramai berlindung di balik alasan kemacetan. Berlindung di balik keterpaksaan.

Ada yang lebih ekstrim lagi. Aksi serobot jalur dan melawan arah pergerakan kendaraan. Untuk dua hal yang ini sudah tak sedikit memberi contoh bagaimana dampaknya. Mulai dari tabrakan di atas jalan layang non tol (JLNT) lantaran melawan arah, hingga bus yang terbalik karena saling serobot. Ugal-ugalan bisa berujung pada kecelakaan.

Lantas, apakah ugal-ugalan sudah menjadi kepribadian kita saat di jalan raya? Mari bertanya pada rumput yang bergoyang.

Faktanya, tiap hari terjadi empat kasus kecelakaan lalu lintas jalan akibat perilaku tidak tertib alias ugal-ugalan.

Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, ugal-ugalan menyumbang sekitar 24% terhadap total kecelakaan yang dipicu faktor manusia.

Perilaku tidak tertib menjadi penyumbang kedua terbesar di dalam faktor manusia yang memicu kecelakaan. Pada 2014, di Jakarta dan sekitarnya, aspek teratas dalam menyumbang kecelakaan adalah lengah dalam berkendara.

Aspek tidak tertib saat berkendara ternyata anjlok sekitar 34% pada 2014. Setahun sebelumnya, perilaku ugal-ugalan menyebabkan tujuh kasus kecelakaan per hari. Artinya?

Ya. Ugal-ugalan di jalan mencatat penurunan. Mulai banyak yang menyadari pentingnya sudi toleran dan taat aturan di jalan. Di sisi lain, semoga kian banyak pengemudi yang memiliki kepribadian tunggal. Maksudnya, ketika di rumah dan di kantor bersikap santun, maka ketika di jalan juga bertingkah toleran dan taat aturan. Kepribadian yang sama. Jangan sampai sebaliknya. Repot.

Bisa jadi kini banyak pengguna jalan yang kian menyadari pentingnya kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Bukan hanya dirinya, tapi juga keselamatan orang lain. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 4 Maret 2015 05:30

    Definisi ugal-ugalannya gimanakah?
    Karena kalau saya lihat dijalan “ugal-ugalan” seperti melawan arus, mengambil jalur dari arah sebaliknya bertambah parah saat “kepepet” contoh macet berat dimana banyak motor mengambil seluruh celah yang dianggap memungkinkan. Naik trotoir, naik busway, sodok-sodokan jadi bertambah parah saat macet berat.

    Ini mungkin ugal-ugalan karena alasan “kepepet” keadaan. Ini sebetulnya sangat alami dan natural, ketika orang dipepet ya semua cara bisa dianggap benar demi survive. Bukan berarti benar lho.

    Tapi ada juga definisi ugal-ugalan seperti kebut-kebutan, yang bukan dilakukan karena kepepet tapi karena “pengen aja”.

    • 4 Maret 2015 08:44

      defenisinya sederhana aja kawan, ngelanggar aturan. kecuali, force majeur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: