Skip to content

Semua Runyam Gara-gara Ngantuk

2 Maret 2015

ngantuk laka vivacoid

GARA-GARA ngantuk dan ketiduran seorang pengemudi mobil mesti berhadapan dengan pengadilan. Setelah melewati beberapakali persidangan, majelis hakim akhirnya mengganjar pengemudi tadi dengan hukuman penjara dua tiga bulan.

Peristiwa naas bermula ketika Eduardi, kita sebut saja begitu, mengemudikan mobil dari Jogjakarta ke Madura. Ketika memasuki kawasan yang sepi malam sudah memasuki dinihari. Rasa kantuk mulai menyerang Eduardi, sedangkan mobil melaju dalam kecepatan berkisar 70-90 kilometer per jam. Saat itu, selain dirinya yang mengemudi, ada tiga penumpang lainnya yang saat kejadian dalam kondisi terlelap. Namun, suasana berubah seketika. Mobil lepas kendali dan menabrak pesepeda motor.

Dua dari empat penumpang mobil mengalami luka-luka. Sedangkan sang pesepeda motor akhirnya meninggal dunia. Kecelakaan selalu membawa duka bagi mereka yang terlibat.

Ngantuk sambil berkendara bisa membuat semuanya menjadi runyam. Contoh kasus di atas adalah satu dari sekian banyak kecelakaan yang dipicu oleh aspek ngantuk. Tubuh pengemudi yang diserang rasa kantuk bakal merusak konsentrasi. Kemampuan mengemudi menjadi amat terganggu. Sang pengemudi tak mampu mengantisipasi situasi secara baik. Alih-alih mau mengontrol kendaraan yang terjadi kendaraan justeru lepas kendali.

Buntutnya bisa runyam. Kendaraan dapat mengalami kecelakaan tunggal. Dalam situasi yang buruk malah bisa menimbulkan kecelakaan tabrak depan belakang, tabrak depan dengan depan, hingga tabrak depan samping. Apapun jenis kecelakaannya, tabrakan membawa petaka.

Kesadaran pengemudi untuk tidak berkendara saat kantuk menyerang menjadi kata kunci. “Kalau saya biasanya tidur dulu satu setengah jam di Tegal kalau mengemudi sendiri dari Jakarta ke Semarang,” ujar Joko, seorang pengemudi angkutan bus sedang sewaan, saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Dia mengaku beristirahat tidur di mobil. Keselamatan para penumpang menjadi tanggung jawabnya. Karena itu, tambahnya, dia tak ingin semua terjebak dalam kecelakaan lalu lintas jalan.

Kesadaran seperti Joko tampaknya kini sudah semakin tumbuh. Faktanya, data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan bahwa kecelakaan yang dipicu aspek ngantuk anjlok 33% pada 2014. Tahun itu, setiap empat hari terjadi satu kasus kecelakaan yang dipicu aspek ngantuk.

Barangkali kesadaran terbangun karena para pengemudi kian menyadari risiko mengemudi saat mengantuk. Atau, mereka juga kian tahu tentang ancaman bagi pengemudi yang kedapatan mengantuk.

UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan seluruh pengemudi berkonsentrasi. Dalam penjelasan UU tersebut dijelaskan bahwa salah satu yang bisa merusak konsentrasi adalah mengantuk ketika mengemudi. Karena itu, seseorang dilarang mengemudi saat mengantuk. Para pelanggar aturan ini bisa dikenai sanksi pidana penjara maksimal tiga bulan. Atau, denda maksimal sebesar Rp 750 ribu. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: