Skip to content

Petaka di Balik Kabut

1 Maret 2015

jalan berkabutpuncak

LANGIT berwarna gelap, matahari bersembunyi. Sesekali terdengar lengkingan dibarengi cahaya di langit. Jemari-jemari langit mulai menjamah bumi siang itu.

Satu per satu kerumunan orang berpakaian serba hitam meninggalkan hijaunya rerumputan. Mereka menuju mobil yang siap membawa keluar dari tempat pemakaman umum. Tinggal Erviant berdua dengan Ryanda.

Keduanya masih memandang jejeran batu nisan yang ada dihadapannya. Sesekali tampiasan air hujan menerpa wajah, lolos dari lingkaran payung hitam yang menaungi kedua sahabat itu.

“Mari kita pulang. Hujan semakin deras,” ujar Erviant lirih kepada sahabatnya.

Ryanda masih belum mau beranjak. Kakinya masih terasa berat. Dia masih sulit menerima kenyataan. Di benaknya masih melintas bayangan canda si buah hati dan senyum isteri tercinta, hingga akhirnya tiba malam petaka.

* * *

“Mas, kayaknya kita gak usah pulang sekarang. Cuaca buruk datang malam ini,” sergah Ratih kepada Ryanda ketika jarum jam menunjukan jam sembilan malam.

Mereka hari itu menghadiri syukuran pertunangan adik Ratih. Acara digelar di rumah mertua Ryanda di dekat Cipanas, Cianjur. Hawa pegunungan nan sejuk di sekitar rumah orang tua Ratih selalu membawa kerinduan bagi Ryanda untuk datang lagi dan datang lagi. Setidaknya satu kali dalam sebulan dia bersama keluarga menyempatkan diri untuk berkunjung. Hitung-hitung keluar dari rutinitas kota Jakarta yang panas. Dalam kondisi normal hanya butuh waktu tidak lebih dari tiga jam ke pinggiran Jakarta.

Acara syukuran sudah rampung seusai Isya. Sebagian kerabat Ratih juga sudah berpamitan. Ryanda memutuskan hal serupa.

“Gak apa-apa, kita pulang sekarang saja. Hanya hujan biasa kok,” jawab dia sekenanya. Cuaca seperti itu bukan kali pertama dilewati, ucapnya dalam hati.

Mobil Ryanda meluncur menelusuri aspal yang mulai basah diguyur hujan. Lalu lintas jalan masih cukup ramai. Tak jarang dia berpapasan dengan mobil-mobil turun dari arah puncak. Hujan kian lebat dengan kabut pekat. Satu dua mobil yang berpapasan tampak memakai lampu kabut berwarna kuning.

Kelokan demi kelokan dilalui dengan lancar. Tanjakan dan turunan dilahap sempurna dengan kecepatan sedang.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok sepeda motor yang mendahuluinya dari sisi kiri di sebuah kelokan. Kuda besi itu muncul tiba-tiba, keluar dari area blind spot. Tak ada lampu isyarat atau bunyi-bunyian sebagai isyarat hendak mendahului.

“Apa susahnya memberi isyarat untuk berpindah lajur. Tidak lebih dari dua detik jari menggeser tombol untuk menyalakan lampu sign,” gumam Ryanda dalam hati.

Petaka tiba ketika sekonyong-konyong sebuah mobil multi purpose vehicle muncul dari arah depan. Mobil berwarna putih itu mendahului truk yang ada di depannya. Sang pengemudi kaget karena saat bersamaan muncul kuda besi dari arah depan. Mobil putih itu membanting setir ke kanan jalan, masuk ke jalur berlawanan. Saat itulah mobil Ryanda muncul. Brakkk!!!

* * *

Perjuangan memulihkan luka tak berlangsung lama. Upaya yang dilakukan para dokter sudah cukup maksimal. Ratih dan si buah hati yang baru saja duduk dibangku kelas satu sekolah dasar kembali kepada Sang Maha Pencipta.

Petaka jalan raya selalu membawa duka. Ryanda kehilangan dua orang terkasih dalam seketika. Tak ada luka yang lebih perih dibanding kehilangan dua orang tercinta yang terjadi di depan mata. Kepedihan serupa menimpa tujuh puluhan keluarga di Indonesia yang dicerabut setiap hari oleh sang jagal jalan raya. Entah sampai kapan taring sang maut di jalan raya bisa ditumpulkan.

Duka Ryanda bagian dari tujuh puluhan korban kecelakaan yang meregang nyawa setiap hari di jalan raya. Boleh jadi diantara mereka yang tumbang di atas aspal adalah pilar ekonomi keluarga. Tempat bergantung hidup seluruh keluarga. Bukan tak mungkin ekonomi keluarga luluh lantak akibat petaka jalan raya. Masa depan anak-anak bangsa pun kian dikelilingi kabut. Harapan untuk mendapat secercah cahaya menyinari masa depan butuh perjuangan nan keras.

Siang itu jemari langit kian ramai menjamah bumi. Ryanda dan Erviant akhirnya melangkahkan kaki keluar dari tempat pemakaman umum, walau terasa berat. Bumi seperti berduka, langit tampak murung seirama hati Ryanda yang tersayat-sayat sembilu.

“Kau harus tabah sahabatku,” seru Erviant seraya menutup pintu mobil.

Titik-titik air berebutan menerpa kaca mobil. Erviant memacu perlahan mobil keluaran tahun dua ribu dua belas. Aspal hitam yang dilintasi tak sedikit yang tergenang oleh air yang turun dari langit.

Ryanda yang duduk disampingnya hanya menghela nafas. Dia masih menerawang. Sepanjang perjalanan tak banyak perbincangan yang keluar dari mulut dua sahabat itu. Erviant mencoba menghibur.

Cipayung, awal Maret 2015

(edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 1 Maret 2015 16:39

    Hati hati kalau jalan gan

  2. amir permalink
    3 Maret 2015 13:09

    asli tersentuh membaca roman traffic story ini,,, hati2 ya agan2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: