Skip to content

Berita Begal Brutal

26 Februari 2015

begal motor berita viva

BERITA kebrutalan begal kian meruyak. Mencekam.

Begal yang beroperasi di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) mengincar pesepeda motor. Dari berita yang beredar, kasus pembegalan terjadi memasuki tengah malam hingga dinihari. Korban yang melawan berujung dengan bersimbah darah, meregang nyawa.

Kepolisian tak tinggal diam. Razia digencarkan, tentu termasuk operasi pemberantasan. Tapi, ibarat jamur di musim penghujan, begal muncul di beragam titik. Teror pun menyebar. Rasa takut meruyak.

“Gue sekarang ganti jalur yang lebih rame kalau pulang malem,” ujar seorang pesepeda motor saat berbincang dengan saya, di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2015 petang.

Bak gayung bersambut, reaksi masyarakat pun mencuat. Ada yang berunjuk rasa mempertanyakan sejauhmana taring para penegak hukum. Bahkan, ada yang main hakim sendiri. Begal yang tertangkap diamuk massa hingga ada yang meluapkan kegeraman dengan aksi pembakaran.

“Saya jadi ngeri pulang malam,” tutur perempuan pekerja yang tinggal di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

Ketika rasa aman menjadi mahal di jalan raya, kita bertanya-tanya kemana peran para penegak hukum seperti dilontarkan para mahasiswa yang berunjuk rasa di Polresta Depok, Rabu. Padahal, Negara semestinya wajib hadir menjamin keselamatan warganya, termasuk di jalan raya. Menjamin rasa aman, nyaman, dan selamat. Walau, di sisi lain, para pengguna jalan dituntut dapat bertahan hidup di tengah intaian serigala kota.

Sejarah bangsa kita mengenal kekerasan demi kekerasan. Kisah begal sudah ada sejak zaman penjajahan. Aksi rampas merampas menjadi bagian denyut kehidupan negeri yang berjuluk Zamrud di Khatulistiwa. Seiring perputaran waktu, kemasannya saja yang berganti-ganti. Esensinya hampir sama, perampasan hak orang lain.

Jurus Penangkal

Dalam kisah kekinian yang meruyak belakangan ini, kita para pesepeda motor mesti ekstra waspada. Selain menghindari diri menjadi korban petaka jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan, juga harus berjibaku menjaga diri dari terkaman serigala kota yang buas. Walau, keganasan petaka jalan raya lebih mengerikan dengan merenggut 70-an jiwa per hari. Inilah teror sejati di jalan raya. Siap menjagal siapa saja tanpa mengenal waktu, apalagi status sosial sang korban.

Sejumlah tips pun bergulir untuk mempertahankan hak hidup ketika berlalu lintas jalan. Jurus penangkal dari cabikan taring sang pemangsa merupakan wujud ikhtiar.

Senantiasa berdoa sejenak menjelang berkendara menjadi bagian upaya menangkal malapetaka. Berserah diri kepada Yang Maha Kuasa bisa membuat rasa nyaman. Walau, hal itu juga mesti diiringi dengan sejumlah ikhtiar.

Seorang teman berseloroh, cara paling efektif adalah menghindari titik-titik rawan. Berbekal pengetahuan yang maksimal atas rute yang dilintasi, bisa memanfaatkan jalur alternatif yang diindikasi kian rawan menjelang dinihari. Tentu saja yang lebih efektif lagi adalah tidak berkendara saat malam memeluk pagi. Namun, ketika kebutuhan memaksa berkendara menjelang pagi, jurus-jurus penangkal pun mesti disiapkan. Salah satunya tadi, hindari rute yang diindikasi rawan.

Langkah lain adalah tidak berkendara sendirian. Asumsinya, bila ada teman dalam perjalanan bisa saling berbagi beban bila mendapat ancaman. Di bagian lain, senantiasa waspada dengan melihat kaca spion dan menggunakan lampu utama sepeda motor yang cukup terang. Bahkan, memastikan suara klakson dalam kondisi berfungsi dengan baik. Maklum, saat ancaman mendekat, salah satu tips adalah membunyikan klakson sambil mengarah ke area yang banyak orang. Suara klakson tadi bisa mengundang perhatian orang sehingga bantuan yang diharapkan bisa datang tepat waktu.

Disinilah kian pentingnya memakai alat perlindungan diri yang mumpuni ketika bersepeda motor, seperti helm dan jaket yang menunjang.

Pada bagian lain, memiliki nomor kantor polisi terdekat di sepanjang rute perjalanan menjadi salah satu bagian jurus penangkal. Ketika terpaksa menghadapi ancaman kekerasan dan masih memiliki kesempatan meminta bantuan, nomor telepon tadi bisa sedikit membantu keluar dari kepiluan yang ada.

Proses meminta bantuan tentu juga dilakukan dengan cara menarik perhatian warga. Salah satunya dengan cara berteriak. Untuk melakukan hal ini juga pertimbangkan keselamatan diri mengingat keselamatan menjadi segalanya. Harta bisa dicari, tapi nyawa tak datang dua kali. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 26 Februari 2015 02:02

    beli jaket kevlar ajaa … nyang anti tembus senjata tajam … sama pistol blank boleh ga sih …

  2. 26 Februari 2015 08:47

    Makin serem. Pemerintah kerjanya cuma narik paja doang…
    http://blog.inochisoftware.com

  3. 26 Februari 2015 14:16

    Deket tempat saya juga ada jalur rawan begal seperti itu, cari aman si lewat jalan yang ramai aja 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: