Skip to content

Pembelajaran dari Rarka dan Pedestrian

24 Februari 2015

pedestrian nyeberang jalan

LAGI, pesepeda motor nabrak pedestrian berujung ke meja hijau. Rarka, kita sebut saja begitu, baru saja pulang dari acara ulang tahun temannya. Malam terus bergulir. Lalu lintas jalan cukup ramai, sesekali terdengar suara klakson dari kendaraan bermotor yang melintas.

Sepeda motor yang dikemudikan Rarka melaju tak lebih dari 50 kilometer per jam (kpj). Dari jarak sekitar 15 meter dia melihat pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Reflek, pelajar usia kelas dua sekolah menengah atas (SMA) itupun membunyikan klakson. Dia tak sempat menghindar. Sang pedestrian yang sempat melambaikan tangan tanda hendak menyeberang terlihat agak panik, begitu juga Rarka. Dan, brakkk!!!

Setang sepeda motor Rarka menyerempet pedestrian. Dia terjatuh, begitu juga sang penyeberang jalan. Keduanya terluka. Tapi, pedestrian tadi tak tertolong, meninggal dunia.

Lima bulan kemudian, perkara pun bergulir ke meja hijau. Sambil menanti persidangan dan selama menjalani persidangan, Rarka mesti menjalani tahanan kota. Hampir dua bulan dia dijadikan tahanan kota.

Sang Jaksa Penuntut Umum meminta hakim memvonis Rarka hukuman penjara satu tahun kurungan dipotong masa tahanan. Anak di bawah umur itu dituduh lalai dan melanggar pasal 310 Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Setelah melewati beberapakali sidang, Majelis Hakim punya pandangan lain. Tepat sekitar sembilan bulan setelah kejadian kecelakaan, Rarka divonis tahanan kota selama tiga minggu. Siswa yang belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) itu pun dikembalikan ke orang tuanya.

Prioritas dan Konsentrasi

Kita tahu bahwa pedestrian atau pejalan kaki termasuk yang harus didahulukan. Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib mendahulukan pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Hal itu diatur dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ. Walau, tentu saja menyeberang jalannya sesuai dengan tempat yang ditentukan dan mengikuti lampu pengatur lalu lintas jalan.

Bila tidak ada marka dan rambu jalan yang mengatur hal itu, pedestrian wajib memperhatikan situasi sekitar. Setelah memastikan cukup aman, ketika menyeberang pun mesti memberi isyarat kepada pengguna kendaraan bermotor, salah satunya dengan melambaikan tangan ke arah kendaraan yang datang dari arah kanan atau kiri jalan.

Pedestrian termasuk kelompok yang ringkih kecelakaan. Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, pada 2014, setiap enam hari satu pejalan kaki tewas akibat petaka di jalan raya itu. Di seluruh Indonesia setiap hari belasan pedestrian tewas akibat kecelakaan, sedangkan di dunia mencapai 700-an tewas per hari.

Di sisi lain, kita para pengendara mutlak berkonsentrasi. Misal, pesepeda motor wajib melemparkan pandangan sejauh mungkin ke arah depan yang akan dilintasi. Pandangan yang ke arah depan tadi membantu untuk mengantisipasi munculnya obyek bergerak atau obyek tidak bergerak seperti lubang.

Konsentrasi diatur dengan tegas dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ. Pengemudi yang tak berkonsentrasi bisa dijerat sanksi. Pilihannya merepotkan, bisa dikurung penjara maksimal tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu.

Lantas, bagaimana untuk tetap menjaga konsentrasi?

Ada dua hal penting untuk tetap mampu berkonsentrasi penuh. Pertama, kondisi pengemudi mesti dalam keadaan sehat. Tubuh yang sehat bisa membantu konsentrasi dan kemampuan mengantisipasi situasi. Tubuh yang bukat membuat seseorang bisa berpikir lebih nyaman.

Kedua, tetap fokus dan waspada. Mengemudi adalah pekerjaan serius. Lengah sedikit saja bisa berakibat fatal. Bagaimana tidak, kecelakaan lalu lintas jalan bisa terjadi dalam hitungan detik. Ketika mengemudi tak perlu tergoda oleh aktifitas lain, misal, menelepon, melihat obyek memikat di sisi jalan, bahkan bersenda gurau.

Sudah terlalu banyak korban kecelakaan lalu lintas jalan yang bergelimpangan di Indonesia. Setiap hari, rata-rata sebanyak 70-an jiwa melayang lantaran kecelakaan di jalan. Rasanya tak perlu kita masuk dalam statistik tadi.

Kecelakaan lalu lintas jalan merepotkan. Banyak pihak yang dirugikan. Apalagi, bila perkara masuk ke ranah pengadilan. Ada waktu yang terbuang, ada uang yang melayang, belum lagi persoalan gangguan kejiwaan. Kalau potensi kecelakaan dan fatalitas kecelakaan bisa dikurangi, kenapa tidak? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: