Skip to content

Berteduh di Bawah Beringin Tua

20 Februari 2015

jalan dan pohon kota

MATAHARI tak pernah letih mengguyur energinya kepada bumi. Miliaran penduduk bumi merasakan kehangatan sumber pijar paling menyala diantara gugusan planet yang dikenal saat ini. Salah satu yang menikmati belaian sang mentari adalah sebuah pohon beringin di sudut alun-alun kota tempat Karwadian bermukim.

Masyarakat menyebut pohon beringin tua itu sebagai simbol aura kota. Bagi Karwadian, pohon itu punya kisah panjang. Sedari kecil saat diajak ayahnya ke alun-alun kota, tempat favorit yang selalu tak dilewatkan adalah bermain di bawah pohon beringin itu.

Pernah suatu ketika saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar dia bermain dengan teman sebayanya. Permainan anak-anak yang paling digemari kala itu adalah petak umpet. Anak yang kalah hompimpa akan bertugas menjaga pohon. Matanya terpejam dengan wajah ditempelkan ke batang pohon. Sedangkan yang lainnya berlarian mencari tempat bersembunyi di sekitar lapangan alun-alun yang saat sore hari ramai dijejali pedagang yang mengais rezeki. Biasanya, anak yang bertugas menjaga pohon bakal keliling hingga berkeringat untuk menemui mereka yang bersembunyi. Kadang berhasil, tak jarang gagal sehingga dia harus terus menjaga pohon hingga waktunya ada “tertangkap”.

Hampir setiap hari Karwadian melintas di depan pohon beringin itu. Sang pohon seperti menyapanya. Seperti mengajak untuk singgah dan menikmati keteduhan yang dimilikinya. Setiap mau berangkat sekolah atau sepulang sekolah dia pasti melintas di depan pohon itu. Sesekali dia berhenti untuk sekadar membeli minuman segar dari pedagang yang di dekat pohon.

Bertahun-tahun dia melihat pohon itu setia menemani warga yang ingin sekadar berteduh. Daunnya yang rindang memberi kesegaran tersendiri di tengah teriknya mentari di siang hari. Oksigen yang dikeluarkan daun-daun beringin memberi keteduhan bagi yang berada di bawahnya. Apalagi diselingi belaian angin, sempurnalah keteduhan yang disuguhkan sang pohon.

Kini, nyaris dua puluh tahun Kawardian mengembara ke seberang lautan dia kembali ke kampung halaman. Kota kecil tempat dia dibesarkan sudah amat berubah. Kenangan lama berseliweran saat menjejakan kaki di kota senja itu. Sanak keluarga maupun kerabat menyambut dengan kehangatan cinta mereka. Kian mengobati kerinduan pada kampung halaman yang selama ini ditinggalkan untuk menggapai mimpi.

“Memangnya di negeri seberang tidak ada taman kota yang nyaman yah?” Sergah Adit, kerabatnya yang menemani Kawardian menyambangi pohon beringin suatu senja.

Dia bercerita, alun-alun kota sudah berubah. Pohon beringin yang kian renta kian menyendiri di tengah derap pembangunan kota. Disana-sini tumbuh hutan beton. Di sekeliling pohon beringin tak lagi dihijaukan oleh rerumputan, tapi sudah diisi dengan paving block yang menyekat daya serap bumi terhadap tumpahan air dari langit.

“Kangen aja untuk main kesini,” jawab Karwadian sekenanya.

Senja itu keduanya bersenda gurau dan mengobati rindu sambil berdiri di dekat pohon beringin yang terus menua. Malam pun berlalu dengan nostalgia penuh cerita.

* * *

Hari kedua Karwadian mudik di kampung halaman mulai terasa membosankan. Di negeri tempatnya bermukim saat ini setiap denyut membawa gairah kehidupan kota. Disana-sini bertebaran tempat untuk mengubar adrenalin. Serigala kota tampil dengan beragam wajah termasuk di lantai bursa tempatnya menggais rezeki. Sebagai pialang muda dia tahu betul keserakahan kota dalam memangsa lawannya yang lemah. Setiap keberhasilan memetik gain dari transaksi saham harian bak auman serigala di tengah purnama. Sikuat memangsa silemah menjadi potret ekonomi liberal. Dalam bahasa teknis menjadi, salah perhitungan sedikit saja bisa membuat bisnis gulung tikar.

Siang itu Karwadian melangkahkan kaki ke alun-alun kota. Sepeda angin dia kayuh dengan irama perlahan. Di sekelilingnya berseliweran kuda besi maupun gerobak besi. Kepulan asap dan raungan suara mesin menjadi nafas baru bagi kota yang membesarkan Karwadian. Masih lekat diingatannya dua puluh tahun lalu wajah kota masih ramah dengan suara andong atau atau canda bocah di atas sepeda angin. Kini, bersepeda angin lebih menjadi gaya hidup, bukan semata kebutuhan sebagai alat transportasi. Jumlahnya terus menyusut. Sebagai gantinya, kuda besi dan gerobak besi alias kendaraan bermotor.

“Minggir mas! Jangan meleng kalau naek sepeda.”

Tiba-tiba terdengar cercaan dari seorang pengendara sepeda motor. Karwadian nyaris terserempet motor yang ditunggangi sang pemaki tadi. Rupanya sepeda kayuh Karwadian terlalu ke tengah jalan karena sisi jalan dipakai berdagang. Tak ada jalur khusus untuk pesepeda kayuh. Dia hanya bisa mengehela nafas panjang.

Karwadian memarkirkan sepedanya di bawah beringin tua setiba di alun-alun. Terik mentari membuat tenggorokannya terasa haus. Persis di sebelahnya seorang pedagang es cendol sedang melayani pembeli. Dia pun mendekati untuk memesan segelas minuman pelepas dahaga di siang bolong itu.

“Mas, es nya satu gelas yah,” seru Karwadian.

“Pakai susu gak?” Tanya sang pedagang.

Belum sempat Karwadian menjawab. Sang pedagang tadi kembali berujar.

“Loh! Kamu Wian yah? Apa kabar? Wah ada angin apa nih.”

Wian adalah panggilan akrab untuk Karwadian. Hanya teman-teman di SMA yang tahu sapaan akrab tadi.

“Eh…kamu Tikno? Bukannya kamu di Bandung?”

Tikno adalah teman satu SMA Karwadian. Sudah dua puluh tahun keduanya tak pernah bertemu. Kini waktu mempertemukan mereka di bawah pohon beringin tua.

Lazimnya dua sahabat mereka pun akhirnya mencurahkan rasa kangen dengan berbincang-bincang tentang kenangan masa lampau. Tikno adalah sahabat Kadarwian. Anaknya ramah dan selalu mampu membuat suasana menjadi hidup lewat kelakar dan pernyataannya yang membuat orang tersenyum. Selepas SMA, ketika Karwadian memilih ke negeri seberang untuk kuliah dan selanjutnya mengais rezeki, Tikno memilih kota Bandung untuk melanjutkan kuliah. Sejak itu komunikasi kian berkurang hingga akhirnya mereka sama sekali tak pernah bertemu.

“Selepas kuliah aku kerja di Bandung. Terus dapat isteri teman satu kampus. Kami menetap di kota kembang itu.”

“Kalau aku masih di negeri seberang, sekarang lagi pulang kampung, kangen. Sekarang kamu jualan es?”

“Ya. Ceritanya panjang,” sergah Tikno sambil menyodorkan gelas es cendol yang langsung diseruput Karwadian.

Tikno mulai bercerita.

Semuanya bermula dari suatu malam. Saat itu, dirinya sedang dalam perjalanan pulang seusai lembur di kantor tempatnya bekerja. Sepeda motor empat tak yang dikendarainya melaju tidak terlalu cepat. Maklum, tubuhnya terasa sedikit lelah setelah bekerja seharian. Lagi pula lalu lintas jalan masih ramai. Hingga akhirnya menjelang memasuki gang rumah kontrakan tempat dia tinggal, sebuah mobil menyeruduknya dari belakang. Brak!!!

Dua minggu dirawat di rumah sakit, proses penyembuhan luka-lukanya berjalan lancar. Tapi persoalan belum selesai. Kasus tabrakan itu pun bergulir ke meja hijau. Tikno vonis bersalah. Dalam persidangan dia terbukti tidak memberir lampu isyarat saat hendak berbelok sehingga menimbulkan kecelakaan dan menyebabkan kerusakan barang serta orang terluka. Sang pengendara mobil juga terluka walau tak separah Tikno.

“Hakim memvonis kurungan badan tiga bulan dengan masa percobaan delapan bulan,” ujar Tikno lirih.

Sejak itu, Tikno kian terpuruk. Pekerjaan yang ditekuninya selama lima tahun terakhir harus berantakan. Kehidupan ekonominya morat-marit.

“Sejak diamputasi kedua kaki ku ini, aku tak bisa lagi bekerja kantoran. Akhirnya pulang kampung dan berjualan es cendol karena hidup harus terus bergulir. Aku punya isteri dan dua anak yang kini sudah memasuki jenjang SMP,” sergah Tikno.

Suasana menjadi hening di tengah keramaian alun-alun kota. Karwadian tak bisa melanjutkan pertanyaannya. Pikirannya mengembara. Dia hanya berpikir satu hal, apa yang bisa dibantu untuk sahabatnya itu.

Pohon beringin tua masih setia menemani mereka. Sinar mentari kian menyengat. Daun-daun beringin menahan sengatan mentari merasuk ke kulit Tikno dan Karwadian.

Cipayung, Jakarta Timur, Februari 2015

(edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: