Skip to content

Anak-anak Kita Bergelimpangan di Jalan Raya

17 Februari 2015

anak di motor berjubel

SETIAP hari, rata-rata satu anak di bawah umur menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan di wilayah Polda Metro Jaya. Data tahun 2014 dari Ditlantas Polda Metro Jaya itu bisa jadi lebih kecil dari realitas yang ada. Maksudnya, amat mungkin masih ada jumlah korban yang tidak tercatat.

Saat ini kita merujuk pada data milik Kepolisian tersebut. Korban kecelakaan dari kalangan usia 1-10 tahun ternyata kontribusinya meningkat pada 2014. Kontribusi anak-anak yang menjadi korban kecelakaan tercatat sekitar 4,21% pada 2014, sedangkan setahun sebelumnya tercatat 3,69%. Dari segi jumlah korbannya meningkat sekitar 1% menjadi 309 anak-anak.

Pertanyaannya, kenapa jumlah anak-anak sebagai korban kecelakaan lalu lintas jalan kian meningkat?

Pikiran kita pun mengembara pada fakta yang terlihat di depan mata. Untuk melihat anak-anak di bawah umur yang berkendara, saat ini tak perlu jauh-jauh. Cukup melangkah ke lingkungan hunian sekitar kita, pemandangan itu langsung muncul di depan hidung. Terlebih mereka yang berkendara dengan sepeda motor. Entah sebagai pengendara atau menjadi penumpang.

Meningkatnya jumlah anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan bisa jadi karena penggunaan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, juga meningkat. Barangkali diantara kita masih ada yang ingat kecelakaan fatal di Jakarta, awal Desember 2014. Saat itu, seorang bapak bersepeda motor bersama empat orang anaknya yang berusia 3 hingga 12 tahun. Sepeda motor tertabrak truk, dua dari empat anak meninggal dunia, termasuk sang bapak yang mengendarai motor.

Anak-anak menjadi korban dari sistem masyarakat kita. Bagaimana orang tua mengaku terpaksa membawa anak-anaknya di dalam satu kendaraan dengan dalih efisiensi. Begitu juga ketika orang tua mengizinkan anak-anak di bawah umurnya untuk menunggang kuda besi. Permisifnya masyarakat menelorkan fakta bergelimpangannya anak-anak di bawah umur di jalan raya.

Kelompok Muda

Di Jakarta dan sekitarnya, pada 2014, rentang usia 21-30 tahun menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban. Kelompok ini berkontribusi sekitar 27% dari total korban kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari, rata-rata terdapat lima anak muda berusia 21-30 tahun yang tumbang karena kecelakaan di jalan.

Berbeda dengan kelompok usia anak di bawah umur, di kelompok usia muda ini kondisinya justeru menurun. Rentang usia 21-30 tahun kontribusinya menurun menjadi 27,04% dari semula 28,26%. Maklum, dari jumlah orang yang menjadi korban juga menurun, yakni dari rata-rata enam orang per hari, menjadi lima orang per hari.

Secara umum, korban kecelakaan lalu lintas jalan mayoritas mengincar anak-anak muda. Pada 2014, kelompok usia 11-40 tahun menyumbang sekitar 67,57% atau setara dengan rata-rata 13 orang per hari. Bila dibandingkan dengan setahun sebelumnya angka itu menurun, maklum 2013 kontribusinya 68,20% setara rata-rata 15 orang per hari.

Melihat data-data tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa menyelamatkan pengguna jalan sama dengan menyelematkan generasi muda. Mari! (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: