Lanjut ke konten

Akhir Kisah Sang Kakek

15 Februari 2015

jakarta senja hari1

SANTYO bergegas menuju sepeda motor bebeknya. Hujan menyisakan gerimis. Malam terus merangkak saat dia meninggalkan rumah besar bercat putih tempat tadi menumpang berteduh.

Di benaknya hanya satu keinginan, segera tiba di rumah. Biasanya, saat tiba di rumah seusai pulang kerja sang isteri tercinta sudah menanti dengan segelas teh manis hangat kesukaannya. Malam ini agak berbeda. Santyo pulang telat dan hari telah memasuki tengah malam. Isterinya pasti sudah menuju peraduan menjemput mimpi.

Dalam perjalanan, jemari langit kian ramai menjamah bumi. Malam pun terus merangkak menuju dinihari. Jemari langit berlomba-lomba membelai wajah Santyo. Bayangan teh manis hangat pun kian menari-nari di benaknya. Dia mencoba bertahan, menembus dinginnya malam.

Entah bagaimana awalnya tiba-tiba ban sepeda motor yang dikendarainya oleng ke kiri. Si kuda besi meliuk di permukaan aspal yang licin diguyur hujan. Rupanya jalan bergelombang. Andai Santyo lengah kejadian bisa lebih buruk. Berkat konsentrasi yang utuh dia mampu menstabilkan kuda besinya. Kejadian burukpun sirna dalam sekejap.

Dia pernah membaca berita soal faktor alam yang memicu kecelakaan lalu linttas jalan. Sekalipun kontribusinya tida setinggi faktor manusia, aspek di faktor alam yang mesti diwaspadai adalah hujan. Aspek yang satu ini memicu dua kecelakaan per hari di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Santyo merasa bersyukur pernah ikut dua kali dalam pelatihan keselamatan jalan buat pesepeda motor alias safety riding. Di pelatihan pertama yang digelar sebuah lembaga pelatihan safety riding, dia belajar cara mengerem yang aman dan selamat. Juga belajar menjaga keseimbangan serta berbelok yang aman dan selamat.

Di pelatihan kedua materinya hampir sama. Bedanya, dalam pelatihan kedua ada materi tambahan soal aturan lalu lintas jalan. Selain itu, diberi materi etika berkendara yang aman dan selamat..

* * *

Derit pagar besi terdengar nyaring saat Santyo mengesernya. Tubuhnya mulai menggigil. Jas hujan yang dibelinya empat tahun lalu tak mampu membendung serbuan air dari langit.

Sepeda motor diparkirkan di sisi samping rumah kontrakannya. Rumah yang dihuni sejak lima tahun itu menjadi istananya yang hangat. Kontrakannya berukuran mungil. Hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu kecil, kamar mandi, dan dapur yang merangkap ruang makan Sebuah hunian yang oleh pemerintah masuk dalam kategori rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR. Di Indonesia masih ada puluhan juta, bahkan mungkin lebih dari itu orang yang belum mempunyai rumah layak huni. Indonesia kekurangan 15 juta rumah hingga awal 2015.

“Ini teh manis hangatnya. Bersihin badan sana,” sergah Diandry, isteri Santyo.

Mereka pasangan muda yang baru menikah sekitar lima tahun. Diandry adalah adik kelas Santyo. Mereka kuliah di kampus yang sama, namun beda jurusan. Diandry adalah kembang kampus. Banyak mahasiswa yang terpikat dan jatuh cinta. Sebagai gadis desa dia bertekad menyelesaikan kuliah sebaik-baiknya. Urusan pacaran bukan prioritas. Hingga kini keduanya belum dikarunia momongan.

“Ya. Aku mandi dulu,” jawab Santyo.

Di luar rumah hujan masih mengguyur bumi. Malam pun menjelang pagi.

* * *

Gedung perkantoran jangkung itu terlihat megah. Terletak di kawasan pusat bisnis Jakarta yang super sibuk. Banyak mobil hilir mudik dan orang-orang yang bergegas menuju lift. Maklum, pagi baru saja beranjak. Jam-jam sibuk metropolitan. Mesin-mesin ekonomi mulai berputar untuk menggerakkan pertumbuhan.

Santyo menghampiri petugas front desk untuk menanyakan lift yang menuju kantor ekspor impor yang tertera di kartu nama. Dia membawa kartu nama yang diberikan seorang gadis. Saat itu, Santyo mengantarkan seorang kakek yang mencari tumpangan untuk mengunjungi rumah cucunya. “Saya dengar dari kakek saya, mas baru saja di PHK yah? Ini kartu nama saya, silakan telpon saya besok. Kebetulan perusahaan papah saya sedang membuka lowongan. Semoga cocok dengan mas,” kata gadis itu.

Perusahaan tempat Santyo bekerja selama tiga tahun terpaksa gulung tikar. Persaingan bisnis yang keras membuat perusahaan jasa perdagangan itu gulung tikar dan merumahkan para karyawannya. Santyo termasuk yang harus menerima sejumlah pesangon dan menerima pemutusan hubungan kerja.

Suara denting lift membuyarkan lamunan Santyo. Dia sudah berada di lantai kantor yang dituju. Seorang resepsionis menyapanya.

“Ada yang bisa dibantu pak?”

“Saya mau menyampaikan surat lamaran kerja.”

“Oh silakan tunggu. Bapak yang kemarin telepon yah? Saya sampaikan dulu ke Pak Hardy yah.”

Hampir satu jam Santyo menunggu.

“Silakan pak masuk ke ruangan,” kata sang resepsionis.

Ruangan yang cukup luas dengan deretan bangku berwarna kecoklatan. Di tengahnya terdapat meja berwarna hitam dengan alas berupa kaca tebal. Suhu ruangan terasa sejuk, tidak seperti kamar kontrakan Santyo.
“Selamat datang dik. Apa kabar?”

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, pria berjas dan berdasi itu memperkenal dirinya. Santyo menjadi tergugup sedikit.

“Saya sudah baca surat lamaran yang kamu email tempo hari. Tampaknya ada kecocokan dengan yang sedang kami butuhkan,” kata pria itu lagi.

“Ya…pak. Senang sekali jika saya bisa mengisi posisi yang lowong di perusahaan bapak,” sergah Santyo.
Pria yang didepannya ternyata adalah ayah dari gadis yang memberinya kartu nama tempo hari. Artinya, pria ini adalah anak dari sang kakek yang ditolongnya saat itu.

“Oh ya, terimakasih atas bantuannya tempo hari yah. Ternyata masih ada orang yang ikhlas untuk saling menolong tanpa pamrih di Jakarta ini,” kata pria tersebut.
“Sama-sama pak.”

Tiba-tiba Santyo merasa perlu bertanya soal keberadaan sang kakek yang diantarnya malam itu.
“Ngomong-ngomong, kakek apa kabarnya pak?”

Suasana hening sejenak. Pria dihadapannya tidak langsung menjawab. Dia malah meraih air putih yang ada dihadapannya. Usai minumannya barulah dia berujar.

“Ceritanya panjang…”

Pria itu mengela nafas sejenak. Lalu melanjutkan ceritanya.

“Kakek yang kamu antar adalah ayah saya,” katanya.

“Setiap hari kelahirannya, kakek selalu datang ke rumah saya. Hari kelahirannya sama persis dengan hari dia meninggal dunia lima tahun lalu.”

Blarrr!!! Santyo merasa seperti tersambar petir. Ttubuhnya terasa lemas.

“Hari saat kamu mengantarkan kakek adalah tepat lima tahun dimana kakek meninggal dunia. Saat itu, dia hendak berkunjung ke rumah. Namun, dalam perjalanan mobilnya ditabrak pemobil yang mabuk. Jiwanya tak tertolong. Dia tak pernah sampai ke rumah.”

Suara pria di depan Santyo terdengar lirih. Santyo nyaris tak mampu berkata-kata. Pikirannya melayang-layang. Jam di dinding terasa berdetak kencang sekali. (edo rusyanto)

Cipayung, Februari 2015

One Comment leave one →
  1. 16 Februari 2015 10:08

    jeng jeeeng……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: