Skip to content

Nabrak Pedestrian, Pria Ini Jadi Pesakitan

12 Februari 2015

pedestrian nyebrang zebra cross

MASIH ingat tragedi Tugu Tani, Jakarta Pusat tahun 2012? Itulah salah satu fakta bagaimana pedestrian menjadi ringkih di jalan raya. Keselamatan pejalan kaki terancam oleh perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Saat itu, sembilan pedestrian meninggal dunia dan tiga lainnya menderita luka berat. Mereka ditabrak oleh pengemudi yang kedapatan mengonsumsi narkoba saat berkendara. Sang pengemudi pun diganjar hukum 15 tahun penjara untuk kasus kecelakaan maut itu.

Kita juga diingatkan akan nasib pedestrian yang ditabrak oleh sepeda motor pesohor di Jakarta Selatan. Korban seorang kakek berusia 80 tahun meninggal dunia dan dianggap menyeberang jalan tidak hati-hati. Kepolisian mengatakan, korban menyeberang membelakangi jalan dan sang pesohor tidak melihat ada pedestrian yang hendak menyeberang. Sang pesohor pun lolos dari jeratan hukum atas kejadian 10 Juni 2013 itu.

Kejadian nyaris serupa menimpa, Edwardian, kita sebut saja begitu, dua tahun sebelum kasus sang pesohor.
Edwardian adalah pengendara sepeda motor yang menabrak seorang pejalan kaki. Korban yang berusia 70 tahunan menghembuskan nafas setibanya di rumah sakit.

Sang pesepeda motor melihat korban pada jarak lebih kurang 20-30 meter. Saat itu, sang pedestrian telah berada di aspal jalur kiri dan hendak menyeberang ke kanan jalan. Untuk menghindari kecelakaan, sang pesepeda motor mengaku telah menghidupkan klakson sebanyak dua kali dan melakukan pengereman. Korban menunjukan reaksi ragu-ragu untuk menyeberang dan berjalan mundur.

Sayangnya Edwardian tidak bisa menghindar sehingga menabrak korban. Korban tertabrak pada bagian dada kanan akibat tertabrakn setang motor bagian kanan. Saat itu, laju kecepatan sepeda motor berkisar 70-80 km/jam. Kondisi jalan beraspal lebar dan lurus, permukaan jalan kering, dan siang hari.

Sepeda motor sang penabrak dalam kondisi lengkap dan standar pabrikan. Saat terjadi kecelakaan, lampu kecil motor dalam kondisi menyala. Saat kejadian, pedestrian yang tertabrak terseret sejauh lima meter, sedangkan sang penabrak terjatuh sekitar 14 meter dari titik tabrakan.

Melihat korban tersungkur, Edwardian menolong korban. Dia membawa korban ke rumah sakit dengan meminta tolong angkutan desa yang kebetulan melintas pada saat itu.

Dia pun sempat ditahan sekitar 10 hari untuk mengikuti proses mencari keadilan di meja hijau. Sang pesepeda motor diancam oleh pidana dalam pasal 310 ayat (4) UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dan, majelis hakim akhirnya menjatuhkan pidana penjara selama empat bulan dengan masa percobaan selama delapan bulan.

Oh ya, sang penabrak juga sudah berdamai dengan keluarga korban.

Ekstra Waspada

Bagi kita para pesepeda motor konsentrasi adalah harga mati. Fokus dan waspada. Lengah sedikit saja akibatnya bisa fatal. Karena itu, ketika berkendara senantiasa melemparkan pandangan sejauh mungkin ke arah depan.

Konsentrasi akan membantu kemampuan pesepeda motor untuk mengansipasi situasi sekitar, termasuk mengantisipasi kehadiran obyek bergerak. Kemampuan mengantisipasi tersebut untuk mengurangi potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Tentu saja, hal yang terpenting adalah untuk mengurangi fatalitas bila terpaksa terlibat dalam kecelakaan. Inilah bagian penting dari ikhtiar. Selebihnya serahkan kepada Sang Maha Kuasa.

Para pengemudi kendaraan bermotor diwajibkan memberi prioritas kepada pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Di sisi lain, pedestrian juga diwajibkan untuk menyeberang pada tempat yang telah disediakan. Bila tidak terdapat marka dan rambu untuk penyeberangan jalan, sang pedestrian wajib melihat kondisi sekitar dan memberi isyarat untuk menyeberang, misalnya dengan melambaikan tangan.

Kita tahu bahwa pedestrian termasuk kelompok yang ringkih. Apalagi bila pengendara tidak berkonsentrasi atau ugal-ugalan saat berkendara. Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, pada 2014, setiap enam hari satu pejalan kaki tewas akibat petaka di jalan raya itu. Bila dibandingkan periode setahunnya memang cukup baik. Maklum, pada 2013, di Jakarta dan sekitarnya, setiap empat hari ada satu pedestrian yang tewas akibat kecelakaan.

Sekalipun demikian, masih menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, kontribusi pejalan kaki terhadap total korban meninggal dunia jumlahnya terus menyusut. Pada 2013, jumlah pedestrian yang meninggal dunia setara dengan 15,23% dari total korban tewas akibat kecelakaan. Sedangkan pada 2014, prosentasenya turun menjadi 10,22%.

Bisa jadi bermakna bahwa kesadaran para pejalan kaki untuk lebih aman dan selamat kian meningkat. Di sisi lain, bisa juga bermakna bahwa kesadaran pengguna kendaraan bermotor untuk menghargai pejalan kaki juga kian membaik. Semua memiliki kemungkinan-kemungkinan. Pastinya, semoga kita semua kian menyadari setiap hak dan kewajiban masing-masing saat di jalan raya. Semua ada porsinya.

Oh ya, pejalan kaki yang tewas akibat kecelakaan di seluruh Indonesia sedikitnya mencapai sebanyak 18 orang per hari. Sedangkan di seluruh dunia mencapai sekitar 747 pedestrian tewas per hari. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 12 Februari 2015 11:26

    paling bahaya kalau ketemu penyeberang yg ragu-ragu..

  2. 12 Februari 2015 11:31

    yang jadi pesakitan pria yang mana??

    • 12 Februari 2015 13:24

      yg nabrak om.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: