Skip to content

Kehebohan “Ichiro” dan Jazz Merah

6 Februari 2015

ichiro di medsos

PEMBERITAAN soal aksi “penegakkan hukum” ala “Ichiro” masih mencuat beberapa hari terakhir pada awal Februari 2015. Bahkan, kian jelas duduk persoalannya. Misal, ada niat baik sang pelaku yang ingin menertibkan pengguna jalan yang ugal-ugalan. Lalu, ada tindakan dari Kepolisian terhadap pemilik “Ichiro”. Hingga, mencuat kabar bahwa Ditlantas Polda Metro Jaya mempertimbangkan si empunya “Ichiro” didapuk sebaga Duta Lalu Lintas.

Tak ada yang keliru tentang niat pihak kepolisian menjadikan pemilik “Ichiro” sebagai Duta Lalu Lintas. Tentu hal itu jika dilihat dari alasan yang mencuat di media massa bahwa sang empunya “Ichiro” ingin tertib berlalu lintas jalan. Hanya saja, jangan sampai mendistorsi persepsi publik atas “gelar” yang disandangnya tadi.

Oh ya, “Ichiro” adalah nama mobil Suzuki Vitara yang dimodifikasi oleh sang pemilik, yakni Hubert Andi Wenas. Dengan menggunakan “Ichiro” tadi, sang pemilik melakukan aksi “penertiban” di jalan. “Menertibkan” para pelanggar lalu lintas jalan dengan menggunakan kata-kata dan tindakan kasar. Aksi itu pun menghebohkan dunia maya dan publik di Jakarta. Aksi itu menjadi perbincangan di sudut-sudut kota, di warung-warung kopi.

Gagasan menjadikan Duta Lalu Lintas kepada sosok yang bikin heboh di jalan raya bukan kali pertama. Tiga tahun lalu, sempat mencuat gagasan serupa. Bedanya, predikat bakal disandangkan kepada pelaku tabrakan yang cukup heboh di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sekadar menyegarkan ingatan kita. Pada Sabtu, 28 Januari 2012, seorang anak di bawah umur menabrak empat motor, tiga becak, dan satu mobil yang menimbulkan belasan korban luka-luka. Buntutnya, dia ditetapkan sebagai tersangka dan dikenai pasal 310 UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Walau, belakangan karena di bawah umur, pelaku tidak dipenjara. Justeru sang pelaku yang berusia 14 tahun itu lalu digadang-gadang untuk menjadi duta Lalu Lintas Polrestabes Makassar.

Siswa kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP) itu dinilai jujur dan mengaku tidak ingin melakukan tindakan serupa pada masa mendatang. Karena itu, Kepolisian setempat merasa perlu mengangkat Hadi Reski Ramadhani sebagai Duta Lalu Lintas.

Anak itu diharapkan mensosialisasikan pentingnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat kepada warga, khususnya kepada para remaja di Kota Makassar. Duta Lalu Lintas juga diharapkan mensosialisasikan agar remaja tidak melanggar lalu lintas, termasuk tidak mengemudi sebelum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Oh ya, siswa SMP itu mengemudi mobil Honda Jazz warna merah tanpa seizin orang tuanya. Dan, ketika menabrak korban yang pertama langsung melarikan diri hingga akhirnya tertangkap dan mobilnya dirusak oleh warga.

Belakangan, gagasan menjadikan siswa SMP itu untuk menjadi Duta Lalu Lintas pun dianulir. Kapolda Sulsel Irjenpol Johny Wainal Usman mengatakan, ”Saya batalkan karena tidak sesuai. Seorang Duta Lantas itu harus sudah dewasa, punya surat izin mengemudi (SIM), berkelakuan baik, dan mengerti UU Lalin, penampilan menarik, dan ada izin dari orang tua,” papar Kapolda, dalam sebuah dialog yang disiarkan secara langsung oleh salah satu televisi swasta, Jumat, 3 Februari 2012.

Belajar dari Pengalaman

Jurus menjadikan “Ichiro” maupun pengemudi Jazz merah sebagai pengabar kebaikan tampaknya mengajak publik untuk belajar dari pengalaman. Maksudnya, belajarlah dari kekeliruan yang sudah terjadi.

Pada kasus pengemudi Jazz merah, sang pelaku sudah mengaku salah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Karena itu, teman-teman seusianya bisa belajar dari kekeliruan yang ada. Sedangkan dalam kasus “Ichiro” publik juga bisa belajar bahwa menegakkan aturan tidak harus dengan melanggar aturan. Dunia bisa runyam jika pola menegakkan aturan dengan cara melanggar hukum dilestarikan.

Niat baik sang pengemudi “Ichiro” untuk menertibkan para pengguna jalan tentu sebuah itikad mulia. Bisa jadi banyak warga frustasi karena banyaknya pengguna jalan yang dengan enteng melanggar aturan di jalan. “Masih banyak pengguna jalan yang kurang sabar,” kata Duta Lalu Lintas Polda Metro Jaya tahun 2010-2011, Sheila saat berbincang dengan saya beberapa tahun lalu.

Gadis yang pernah menjadi None Jakarta itu bilang bahwa petugas juga harus terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai peraturan lalu lintas jalan. “Penegakan hukum sudah dilakukan dan saya melihat petugas berusaha bertindak tegas,” katanya.

Dia menyayangkan pengendara yang tidak sabaran dan mengabaikan peraturan lalu lintas jalan.

Menegakkan aturan dengan melanggar peraturan tentu bukan solusi. Jalan keluar yang mujarab sejatinya adalah hadirnya Negara.

Tampilnya Negara secara dominan dalam persoalan karut marutnya lalu lintas jalan, termasuk dalam masalah kecelakaan lalu lintas jalan bisa menjadi solusi.

Kita tahu bahwa buah dari karut marut itu semua adalah tingginya kasus kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Bagaimana tidak, tiap hari, 70-an jiwa melayang sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya.

Kehadiran Negara bisa lewat program yang tepat sasaran, konsisten, dan sinergis. Para pemangku kepentingan mesti bersatu padu. Bergerak dengan itikad mulia bukan semata menjalankan program kerja. Terpenting, mereka bersinergi dan membuang jauh-jauh ego sektoral yang ada. (edo rusyanto)

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. 6 Februari 2015 00:13

    jiah … ini apaan kamsudnya . malah dijadi in duta segala . oy yang ngelanggar siapa yang bener mana … rakyat pusing dibuat gini . kalo gini caranya mah tabrakin oknum polisi yang ngelanggar ajalah . biar sekalian jadi diangkat jadi anggota polisi bukan duta lagi . masih mendingan batman . menegakan yang ekstrem ekstrem . terus dibalik topeng kagak buat pamer dll . duh … lama lama aturan jadi aturan rimba .

  2. 6 Februari 2015 06:02

    Saya beberapa hari yang lalu bertindak kayak andi wenas gara-gara lagi jalan pelan di jalan yang ada airnya.. eee ada anak muda malah ngebut.. nyiprat deh… saya kejar dia, untung kepalang bus berhenti.. saya memarahi dia akhirnya.. hhhmmm

  3. Detektif Fariz Edgar permalink
    6 Februari 2015 07:25

    Reblogged this on detektif fariz edgar and commented:
    ” Menegakkan aturan dengan melanggar peraturan tentu bukan solusi. Jalan keluar yang mujarab sejatinya adalah hadirnya Negara. “

  4. henki permalink
    6 Februari 2015 12:34

    saya tidak setuju sama sekali apabila si ichiro jadi duta lalu lintas… memang maksudnya baik tetapi caranya yang sangat amat salah dan bisa mengakibatkan kecelakaan dan merugikan orang lain. harap polisi mempertimbangkan menjadikan si ICHIRO (ANDI BANGSAT) menjadi duta lalu lintas, seharusnya yang menjadi duta lalu lintas adalah orang yang melakukan penertiban lalu lintas dengan cara santun dan tidak merugikan orang lain yang bukan pelaku pelanggar lalu lintas.

  5. 6 Februari 2015 15:36

    adanya masyarakat yang berupaya menegakkan aturan sendiri menunjukkan ketiaadaan aparat negara disana. Seandainya aparat penegak hukum benar-benar menjalankan tugasnya, maka saya yakin kejadian seperti ini tidak perlu terjadi..

  6. lucky junan subiakto permalink
    6 Februari 2015 15:45

    Reblogged this on Lucky's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: