Skip to content

Petugas Juga Manusia

2 Februari 2015

polantas bogor atur lalin

SUASANA Kota Bogor pada pagi hari sudah diramaikan oleh kendaraan bermotor. Apalagi di salah satu urat nadinya, Jl Raya Pajajaran. Inilah salah satu pintu masuk kendaraan dari Jakarta, kota tetangga Bogor.

“Makin siang kian ramai kendaraan yang lewat sini,” tutur seorang petugas pengatur lalu lintas jalan yang saya temui, Sabtu pagi, 31 Januari 2015.

Polisi lalu lintas itu sibuk mengatur di perempatan jalan. Dia berdiri sekitar lima meter dari pos kecil. Di samping pos terlihat sepeda motor bebek terparkir dengan tenang. Sedangkan di jalan raya tak henti-hentinya kendaraan bermotor berlalu lalang. Mulai dari sepeda motor, angkutan kota mobil pribadi hingga mobil angkutan barang.

Mayoritas kendaraan yang melintas masih sepeda motor. Tidak sedikit sepeda motor berpelat nomor Jakarta. Maklum, jalur ini adalah poros utama untuk menuju kawasan wisata Puncak, Bogor maupun untuk menuju Cianjur dan Sukabumi. Para pesepeda motor yang melintas tak sedikit yang berkendara dalam iring-iringan kelompok. Mulai dari kelompok kecil yang diisi hitungan jari, hingga kelompok besar yang mencapai puluhan kendaraan.

Nah, hal yang menarik adalah perilaku pengendara mobil, entah mobil pribadi atau mobil angkutan umum. Di ruas Jl Pajajaran ini terdapat ruang henti khusus (RHK) sepeda motor. Area ini ada di pertigaan atau perempatan jalan. Letak RHK di bagian depan jalan, persis di dekat lampu pengatur lalu lintas. RHK yang ditandai dengan warna merah marun itu disediakan untuk sepeda motor untuk berhenti agar lebih tertib. “RHK tujuannya untuk membuat pengguna jalan lebih tertib. Saat ini, pengendara dari kota Bogor sudah banyak yang tertib karena kami sudah sosialisasikan sejak lama,” papar petugas tadi.

Seingat saya, Bogor sudah mensosialisasikan RHK motor sejak 2011 setahun setelah Kota Bandung menerapkan marka jalan serupa. Jadi, Bogor sudah cukup lama untuk urusan RHK motor bila dibandingkan dengan kota lain di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Bahkan, setahu saya, Jakarta hingga awal 2015 belum menerapkan RHK motor. Depok dan Bekasi sudah melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Bogor.

Sang petugas bercerita bahwa saat ini mayoritas pengguna jalan asal Bogor yang melintas di kawasan RHK motor sudah lebih disiplin. Sekalipun ada pelanggaran terhadap RHK motor yang dilakukan oleh pengendara mobil jumlahnya sudah minim. “Pelanggaran pada umumnya dilakukan oleh pengendara dari luar kota,” kata dia.

Dia mengaku langkah yang dilakukan dirinya adalah dengan memberi teguran. Sewaktu-waktu juga dilakukan tindakan refpresif atau penilangan. “Tapi, saya lihat-lihat dulu. Kalau jumlah pelanggar lebih dari satu agak repot. Biasanya yang dilakukan adalah memberi teguran,” paparnya.

Menurut dia, penegakan aturan di jalan tidak serta merta dengan tindakan represif atau penilangan. Ada tiga bentuk, yakni preemtif, preventif, dan represif. “Kalau terlalu kaku kami agak repot. Jadi lihat kondisi di lapangan,” ujarnya.

Dia mengaku memilih untuk menghindari terjadi gesekan dengan pengguna jalan. Misalnya, jika ada dua atau tiga pelanggar RHK motor lantas yang ditilang hanya satu dan yang dua lolos, hal itu tidak bagus.

Ya. Petugas juga manusia. Punya rasa dan hati. Melihat kondisi lapangan sebelum bertindak merupakan hal yang manusiawi. Pendekatan kemanusiaan menjadi penting, yakni lewat preemtif dan prefentif.

Tapi, ada tapinya, bukan berarti langkah represif harus dilewatkan begitu saja. Fakta memperlihatkan bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Artinya, jika pelanggaran bisa ditekan, semestinya celah terjadinya kecelakaan juga bisa direduksi. Untuk memangkas pelanggaran tentu saja salah satu obat mujarabnya adalah dengan langkah penindakan terhadap para pelanggar.

Betul bahwa kesadaran para pengguna jalan untuk mentaati aturan menjadi obat mujarab lainnya dalam menekan pelanggaran aturan di jalan. Eloknya, kesadaran dipadukan dengan penindakan menjadi duet maut dalam menekan angka pelanggaran. Kalau sudah begitu mestinya kasus kecelakaan lalu lintas jalan pun dapat terus ditekan. Sudah barang tentu sekaligus juga angka fatalitasnya bisa dipangkas. Jika tahun 2014 sebanyak 73 jiwa tewas akibat kecelakaan di jalan, semestinya tahun ini bisa lebih diturunkan lagi. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. Zul permalink
    5 Februari 2015 00:58

    Tertib itu indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: