Skip to content

Cerita Sang Kakek di Pinggir Jalan

31 Januari 2015

rambu dan kakek

MALAM belum larut. Kendaraan bermotor masih banyak yang wira-wiri. Langit makin gelap dan rintik hujan mulai berjatuhan. Sang kakek dengan tentengan tas plastik masih berdiri di sisi jalan. Sudah hampir satu jam dia berdiri. Tangannya diacungkan ke arah pengendara dengan harapan ada yang memberinya tumpangan.

Satu, dua, hingga ada lima pengendara sepeda motor yang menepi menghampiri sang kakek. Mereka hanya berhenti sesaat lalu melanjutkan perjalanannya. Dan, sang kakek tetap masih berdiri di sisi jalan.

Pengendara motor pertama berujar, “Maaf kek, saya buru-buru, gak bisa mengajak kakek.”

Pengendara kedua berseloroh, “Wah, jalurnya beda kek, saya gak bisa boncengin kakek.”

Pengendara ketiga berseru, “Saya bukannya gak mau, tapi mau jemput teman saya. Maaf ya kek.”

Pengendara keempat berkata, “Saya kira mau ngapain, ternyata mau numpang. Naik angkot aja kek, saya gak bisa boncengin kakek.”

Pengendara kelima bertutur, “Saya sih mau boncengin, tapi saya gak punya helm buat kakek. Maaf ya kek.”

Tibalah pengendara motor keenam yang sudi berhenti dan menghampiri sang kakek.

“Ada apa kek?”

“Kakek boleh numpang gak cu?”

“Kakek mau kemana?”

“Saya mau ke selatan, mau menengok cucu yang sedang sakit.”

Pengendara motor yang keenam pun akhirnya mengajak sang kakek di motornya. Kebetulan dia satu arah dan membawa membawa helm cadangan. Pagi sebelumnya sang pengendara itu baru saja mengantar sang sepupunya melamar kerja. Sang sepupu pulang lebih awal, karena itu langsung ke rumah. Sedangkan sang pengendara keenam ini mesti melanjutkan kerja hingga pukul tujuh malam dan akhirnya bertemu sang kakek di pinggir jalan. Ini adalah hari terakhir dia bekerja karena perusahaannya sedang melakukan pemangkasan karyawan. Esok hari dia menyandang status pengangguran.

“Rumah cucu kakek di sebelah mana jalan Durian?” Tanya sang pengendara motor.

“Tidak jauh, hanya beberapa ratus meter saja. Rumahnya di dekat pos ronda,” ujar sang kakek.

“Bukannya itu ke arah kober ya kek?” Selidik sang pesepeda motor.

“Iya cu, gak jauhlah. Persis di belakang kober,” ujarnya.

Pikiran sang pengendara motor keenam itu pun mengembara. Dia jadi terbayang berbagai cerita soal tukang motor yang mendapat penumpang minta diantar ke daerah dekat kober. Sang tukang ojek bukannya mendapat bayaran malah dikagetkan karena dirinya ditemui masyarakat sedang tertidur di salah satu batu nisan di pemakaman umum milik pemerintah itu. Tukang ojek mengaku tertidur di rumah sang penumpang sambil menunggu hujan reda. Tahu-tahunya dia malah tertidur di atas makam.

Cerita tukang ojek itu pun beredar dari mulut ke mulut. Banyak yang mempercayai, termasuk sang pengendara motor keenam yang sedang membawa kakek tua. Pikiran pengendara motor ini pun jadi melayang kemana-mana.

“Jangan-jangan kakek tua ini….” Gumam sang pengendara motor itu dalam hati.

Sepeda motor terus melaju. Melewati pemukiman di pinggir Jakarta yang cukup padat. Hingga akhirnya masuk ke area dekat pemakaman atau kober. Sang kakek menepuk pundak sang pengendara motor.

“Sudah cu, sampai sini saja, rumah cucu kakek masuk ke gang itu, jalannya becek,” sergah sang kakek.

Bak terhipnotis, sang pengendara motor keenam ini justeru berujar, “Gak apa-apa kek, biar saya antar sampai rumah cucu kakek aja.”

Perjalanan pun berlanjut. Jalan di atas tanah becek dan sesekali ada kerikil. Suasana sekitar minim lampu penerangan. Sedangkan rintik gerimis masih menemani perjalanan.

“Berhenti cu, ini rumah cucu kakek,” ujar sang kakek sambil menunjuk sebuah rumah besar berpagar tinggi.

Sang pengendara motor keenam pun sedikit terkaget. Dia tidak menyangka ada rumah besar dan cukup bersih di dekat kober. Dia coba tetap fokus agar jangan kosong pikirannya. Kata orang, kalau pikiran kosong mudah dirasuki oleh mahluk halus.

“Iya kek, sebentar yah saya parkir dulu,” ujar dia.

“Hujan sudah mulai deras, lebih baik mampir saja dulu yah,” ujar sang kakek setelah turun dari motor.

Sang pengendara motor sebenarnya enggan. Tapi, karena hujan sudah mulai deras, dia berpikir istirahat sejenak sambil memakai jas hujan untuk selanjutnya pulang ke rumah. Dia pun melenggang mengikuti sang kakek masuk ke pekarangan rumah besar itu sambil menenteng jas hujan. Sang kakek masuk ke rumah, sedangkan dia menunggu di teras sambil memakai jas hujan.

Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seorang perempuan muda. Sang pengendara motor keenam menebak-nebak usia gadis muda itu tak lebih dari 25 tahun. Rambutnya panjang sebahu dengan wajah oval. Kulitnya putih cenderung pucat dengan sorot mata yang sendu.

“Terimakasih ya mas sudah mengantar kakek saya. Dia setiap hari ulang tahunnya memang selalu minta pulang ke rumah ini,” kata perempuan itu.
“Iya mbak, sama-sama. Tadi saya lihat kakeknya mbak butuh pertolongan,” ujar sang pengendara motor yang sudah rampung memakai jas hujan.

“Tapi, kalau boleh tahu kemana kakeknya. Saya mau pamit melanjutkan perjalanan,” kata sang pengendara motor.

“Ada di dalam. Saya minta agar ganti baju dan langsung istirahat. Kakek saya sudah pikun. Tadi dia pergi dari Bekasi tidak bawa uang cukup. Hanya uang receh untuk satu kali naik angkot, makanya dia mencari tumpangan. Sekali lagi terimakasih mas,” tutur sang perempuan seraya menyodorkan sebuah bungkusan dan kartu nama.

Belum sempat sang pengendara motor berkata-kata. Sang perempuan muda tadi melanjutkan.

“Saya dengar dari kakek saya, mas baru saja di PHK yah? Ini kartu nama saya, silakan telpon saya besok. Kebetulan perusahaan papah saya sedang membuka lowongan. Semoga cocok dengan mas.”

Malam terus bergulir, hujan turun cukup deras. Setelah mengucapkan terimakasih sang pengendara motor pun pamit. Dia bersyukur. Esok hari bertekad untuk datang ke alamat yang tertera di kartu nama. (edo rusyanto)

Cibubur, akhir Januari 2015

Iklan
13 Komentar leave one →
  1. Zul permalink
    31 Januari 2015 07:18

    Kalau menolong seseorang dengan ikhlas ada saja balasan yg tidak terduga

  2. 2 Februari 2015 16:08

    viva kakek cua

  3. 2 Februari 2015 16:34

    hail Gandalf Al-Munjuli

  4. 2 Februari 2015 18:15

    Cerita yang bagus…

  5. pujo permalink
    3 Februari 2015 10:21

    ending ny gimn??

  6. james permalink
    3 Februari 2015 14:06

    terus bagaimana pak? kentang nih….

  7. hendra nur purnawan permalink
    3 Februari 2015 15:14

    lah terusannya gmana tuh orang

  8. 3 Februari 2015 16:55

    teman2, ceritanya saat ini memang berhenti hingga sang pesepeda motor mengantar sang kakek ke rumah cucunya. trims atensinya.

    • desy permalink
      3 Februari 2015 17:25

      Pikun kok tau alamat dan inget cerita…ceritanya kurang bagus..

  9. Rekha permalink
    4 Februari 2015 08:32

    hahaha.. katanya pikun tapi tau alamat rumah sedetail-detailnya. sampai2 jalan kecilpun si kakek ingat.. tapi pesan dr ceritanya sih bagus.. 😀

  10. irwan permalink
    4 Februari 2015 16:43

    beneran nih eyang?

    • 4 Februari 2015 18:39

      ini fiksi mas.

Trackbacks

  1. Akhir Kisah Sang Kakek | Edo Rusyanto's Traffic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: