Lanjut ke konten

Abai Konsentrasi Berujung ke Meja Hijau

29 Januari 2015

cristopher laka 2015_viva

BANYAK konsumen media massa yang dikejutkan oleh berita kasus kecelakaan maut Pondok Indah, Jakarta Selatan. Khususnya dengan pemberitaan yang terkait dengan sang pelaku. Semula ramai diberitakan sang pelaku dalam pengaruh narkoba jenis LSD. Namun, pada Selaa malam, 27 Januari 2015, Kepolisian RI menyatakan sang pelaku negatif narkoba.

Kecelakaan yang menewaskan empat orang tersebut, menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningrat lanjut Wahyu, didasari kurangnya pengendalian diri dan konsentrasi sang pelaku. “Sehingga bertindak hanya bedasarkan alam perasaannya saja dan kurang berpikir dampaknya,” kata Wahyu, seperti dilansir viva.co.id, edisi Rabu.

Ironisnya, kecelakaan maut pada Selasa malam, 20 Januari 2015 itu merenggut empat pengendara sepeda motor dan melukai dua orang lainnya. Duka anak negeri.

Lagi-lagi, masalah konsentrasi mengoyak-ngoyak lalu lintas jalan di Indonesia, khususnya di Jakarta. Konsentrasi yang terganggu saat berkendara amat mudah menjerumuskan sang pengendara dalam lubang kecelakaan jalan. Konsentrasi mestinya menjadi harga mati. Mutlak saat berkendara.

Seseorang yang terganggu konsentrasinya bakal lengah saat mengemudi. Apa pun jenis kendaraannya, kelengahan saat berkendara amat ringkih untuk terjadinya petaka jalan raya.

Faktanya, pada 2014, mayoritas pemicu kecelakaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah aspek lengah. Sekitar 56% kecelakaan dipicu oleh aspek lengah. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, setiap hari rata-rata terjadi 10 kasus kecelakaan gara-gara sang pengemudi yang lengah. Mengerikan.

Banyak aspek yang bisa merusak konsentrasi seorang pengendara. Kalau kita merujuk pada Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), beberapa aspek utama. Aspek itu mencakup sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan. Selain itu, meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan.

Melihat fatalnya gangguan konsentrasi saat mengemudi, Negara mewajibkan seluruh pengendera untuk senantiasa mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Tentu saja ada sanksi bagi mereka yang melanggar aturan itu. Tinggal pilih mau denda maksimal Rp 750 ribu atau penjara maksimal tiga bulan.

faktor manusia jkt 2014

Cerita menjadi berbeda manakala konsentrasi yang berantakan membuahkan kecelakaan yang merenggut korban, apalagi menimbulkan korban jiwa. Sang pelaku kecelakaan seperti itu bisa diganjar oleh hukuman penjara maksimal 12 tahun. Tuduhannya adalah berkendara secara sengaja mengancam keselamatan pengguna jalan yang lain dan sudah barang tentu juga mengancam keselamatan dirinya sendiri.

Dalam kasus kecelakaan maut Pondok Indah, sang pelaku yang mengemudikan mobil itu terancam sanksi hukuman penjara maksimal 12 tahun. Walau, kita semua belum tahu apa keputusan yang akan diambil oleh majelis hakim terhadap mahasiswa berusia 23 tahun itu. Pastinya, gara-gara konsentrasi yang terganggu, berujung ke meja hijau dan bisa jadi membuat sang pelaku menginap di hotel prodeo.

Jadi, masih mau main-main soal konsentrasi? (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 30 Januari 2015 19:54

    ngeri Eyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: