Skip to content

Perempuan Misterius Penunggang Kijang

24 Januari 2015

perempuan dan telaga teratai

Malam terus merangkak menuju pagi. Lalu lintas jalan masih ramai di salah satu sudut Jakarta. Maklum, malam pergantian tahun. Banyak orang yang ingin merayakan tahun baru.

Bagi sebagian orang, pergantian tahun dirayakan dengan berpesta meriah. Menikmati malam dengan berbagai hidangan lezat dan berbalut hiburan yang melenakan. Tentu saja bagi sebagian lainnya dilewati dengan apa adanya. Bahkan, tak sedikit yang membiarkan malam berlalu seperti biasanya. Tak ada yang istimewa, kecuali kalender berganti angka. Walau, jumlah hari tak berubah, 365 hari. Jumlah minggu tak berubah, 52 minggu, dan jumlah hari dalam sepekan tak berubah, yakni tujuh hari.

Bagi Lisdia dan Tonyan malam pergatian tahun juga tak terlalu istimewa. Malam itu mereka lalui seperti malam-malam lainnya. Sepasang kekasih ini memilih melewati pergantian tahun baru di rumah saja, bercengkerama sambil sesekali diselingi canda tawa. Hidup membutuhkan komedi selain kerja keras.

“Ton, anterin aku ke minimarket dong. Mau beli cemilan nih,” seluruh Lisdia.

Tak banyak cincong, Tonyan beringsut dari kursi di teras rumah untuk menyalakan sepeda motor.

“Tapi pakai helm yah, walau cuma ke depan kompleks,” pinta pria karyawan swasta itu kepada sang kekasih.

Lisdia hanya tersenyum sambil memakai helm dan nangkring di bagian belakang. Di dalam hati dia menggerutu, cuma satu kilometer aja pake helm. Minimarket yang dituju gak jauh dari kompleks perumahan tempat dia tinggal. Jaraknya tak lebih dari satu kilometer. “Sok tertib nih cowok,” gerutu perempuan muda itu dalam hati.

“Nah kan keren kalau pake helm hadiahku,” seru Tonyan kepada sang kekasih.

Lisdia yang digoda begitu cuma tersenyum kecil. Sambil memeluk erat agar tak terjatuh, dia mencubit kecil paha sang idola sekaligus pacarnya yang mengendarai motor bermesin 250cc.

Senyum kecil tadi mencuat lantaran dia teringat soal helm yang dijadikan hadiah ulang tahunya ke dua puluh tiga. Sang pacar membelikan helm full face yang cukup keren. Agak unik juga, saat orang lain ngasih hadiah baju atau tas, pacarnya malah ngasih helm.

“Ini buat melindungi kamu, sekaligus mengganti helm kamu yang sudah kadaluarsa. Udah tiga tahun kan helm yang lama?” Seloroh Tonyan saat menghadiahkan helm dua minggu lalu.

“Tadi mamah nitip beli apa aja?” Tanya Tonyan.

“Gak ada. Aku cuma…,” belum sempat Lisdia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba dia merasa terbang dan menyentuh permukaan aspal. Suara derit ban mencakar aspal terdengar dan diakhiri suara benturan. Motor yang mereka tumpangi menabrak mobil yang tiba-tiba berbelok arah.

Lisdia panik. Dia merasa ada yang sakit di bagian kaki dan tangan. Ada tetesan darah di jemari tangan. Kepanikan bertambah manakala melihat sang kekasih telungkup di atas aspal dan tertimpa motor. Warga mulai berdatangan, berkerumun untuk menolong. Lisdia terisak. Khawatir nasib buruk menimpa sang kekasih.

“Tolong pak. Tolong bawa ke rumah sakit,” ujar Lisdia sambil terisak.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan membantu menyetop kendaraan yang melintas untuk membawa Tonyan. Satu, dua, hingga mobil yang kelima tak ada yang mau membantu. Bahkan, taksi yang melintas pun enggan berhenti. Hingga akhirnya sebuah mobil Kijang berhenti menghampiri. Sang pengemudi yang ternyata seorang perempuan sebaya dengan ibu Lisdia rela menolong mengantar ke rumah sakit.

Tak sampai disitu, sang ibu tadi juga menyodorkan uang muka yang diminta petugas rumah sakit saat hendak memberikan tindakan medis. Lisdia terpaku pada sang kekasih yang tak sadarkan diri.

“Tinggal dimana dik? Sudah kontak orang tua?” Tanya sang perempuan penolong.

“Belum, saya panik,” kata Lisdia.

Setelah Tonyan ditangani dokter, Lisdia baru mengontak orang tuanya. Suasana hatinya menjadi sedikit tenang. Dia baru sadar belum mengucapkan terimakasih kepada perempuan sang penolong. Bahkan, dia tidak tahu nama dan alamat sang ibu tadi. Dia merasa malu.

“Mbak, ini ada titipan kertas dari ibu yang tadi mengantar mbak kesini. Ibu itu langsung pergi,” ujar seorang perawat kepada Lisdia yang sedang celingukan mencari sang penolongnya.

Lisdia membuka lipatan kertas dan mulai membaca tulisan di atasnya.

“Dik, sabar dan doakan kekasihmu agar cepat pulih. Ibu pernah merasakan kehilangan. Anak ibu tak tertolong akibat kecelakaan karena terlambatnya pertolongan. Tidak ada yang membawanya ke rumah sakit terdekat. Semoga Tuhan menyelamatkan kekasih adik. Salam.”

Cibubur, 24 Januari 20145

(edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 29 Januari 2015 13:44

    Indonesia sekarang mulai kehilangan jati diri

  2. Zul permalink
    31 Januari 2015 07:48

    Menolong sesama dengan ikhas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: