Skip to content

Menabur Bunga di Tugu Tani Jakarta

22 Januari 2015

rsa dan koalisi pejalan kaki 2015_halte

LANGIT Jakarta seakan bersedih. Wajahnya muram oleh awan kelam dibarengi rintik hujan yang sambung menyambung. Udara Kamis, 22 Januari 2015 pagi itu terasa menjadi lebih dingin.

Wajah Jakarta bermuram durja mengenang tragedi pedestrian pada 22 Januari 2012 pagi. Tiga tahun lalu, sebuah minibus yang dikendarai perempuan muda menabrak 12 pedestrian di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Sang penabrak belakangan diganjar hukuman penjara 20 tahun, sebanyak 15 tahun untuk kasus kecelakaan dan lima tahun untuk kasus narkoba. Saat menabrak pedestrian, sang pelaku dalam pengaruh narkoba, bahkan belum tidur seusai begadang.

Tiga tahun setelah tabrakan maut, belasan aktifis keselamatan jalan dari Koalisi Pejalan Kaki dan Road Safety Association (RSA) Indonesia berkumpul di lokasi itu. Mereka tak gentar sekalipun hujan mengguyur tubuh Kamis pagi itu. Mereka berkumpul di halte Tugu Tani, lokasi kecelakaan maut yang merenggut sembilan korban jiwa dan tiga korban luka berat. Berkumpulnya para pegiat keselamatan jalan itu dalam rangka merenung pada Hari Pejalan Kaki yang ditetapkan oleh Koalisi Pejalan Kaki dan RSA Indonesia pada 22 Januari 2013. “Kali ini temanya adalah Wujudkan kota yang ramah bagi pejalan kaki dan penyadang disabilitas,” papar Alfred Sitorus, ketua Koalisi Pejalan Kaki, Kamis pagi.

Acara kali ini diisi sejumlah kegiatan. Setelah para perwakilan tiap entitas para pegiat keselamatan jalan menyampaikan pernyataannya, acara dilanjutkan dengan berdoa dan tabur bunga di lokasi kecelakaan maut itu. Selanjutnya, para pegiat berjalan kaki dari Tugu Tani menuju Kantor Gubernur DKI Jakarta yang berjarak sekitar 500 meter. Sambil jalan kaki, hujan tak henti menyapa mereka.

“Kami punya hak trotoar yang aman. Mari cegah korban kecelakaan karena akan membebani negara juga,” ujar Cucu, perwakilan disabilitas dari atas kursi roda.

Alfred mengatakan, saat ini pejalan kaki masih menghadapi masalah dalam melakukan mobilitas sehari-hari, utamanya di kawasan perkotaan. Bahaya senantiasa mengancam, mulai dari tak tersedianya fasilitas pejalan kaki, ancaman tertabrak atau terserempet kendaraan bermotor, hingga ancaman kriminal seperti penjambretan maupun pelecehan seksual. Karena itu, sudah seharusnya pemerintah dan pemerintah daerah untuk segera melengkapi dan memperbaiki kota yang dipimpinnya untuk diberi fasilitas bagi pedestrian.

“Fasilitas tadi harus memenuhi syarat walkable atau laik untuk dilalui, yakni aman, nyaman, informatif, dan non-diskriminatif,” tegasnya.

Sementara itu, bagi RSA Indonesia pemerintah daerah wajib menyediakan fasilitas bagi pedestrian sesuai amanat Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Negara wajib melindungi warganya di jalan raya, termasuk para pedestrian. Apa lagi di Indonesia setiap hari 18 pedestrian tewas akibat kecelakaan di jalan.

Tanah Abang-20150122-03953

Khusus di wilayah Polda Metro Jaya, yang didalamnya termasuk Jakarta, pada 2014 setiap enam hari satu pedestrian tewas akibat kecelakaan. Bila dibandingkan setahun sebelumnya terjadi perbaikan, mengingat pada 2013, setiap empat hari satu pedestrian tewas di jalan.

Ringkihnya pedestrian sebagai korban kecelakaan lalu lintas jalan bukan hanya persoalan Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’, menyebutkan bahwa hampir seluruh dunia punya problem soal pedestrian. Rentannya pedestrian terlihat dari laporan tersebut, yakni sebanyak 22% dari 1,24 juta korban tewas akibat kecelakaan adalah para pedestrian. Artinya, tiap hari 747 pedestrian tewas, atau sekitar 31 orang per jam.

WHO bilang, berkendara ngebut dinilai meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan parahnya dampak kecelakaan terhadap pedestrian.

Dalam kesempatan kali ini Koalisi Pejalan Kaki dan RSA Indonesia serta seluruh elemen yang ikut mendatangi kantor Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang kondang disapa Ahok. Namun, rombongan pegiat keselamatan jalan tak bisa bertemu sang Gubernur. Mereka diterima oleh perwakilan Gubernur. “Kami menyerahkan potongan trotoar jalan kepada perwakilan Gubernur agar mereka mengingat nasib pejalan kaki. Penyerahan dilakukan oleh perwakilan disabilitas,” ujar Alfred.

Hingga kegiatan rampung di kantor Gubernur, hujan belum juga henti mengguyur Jakarta. Ketika saya melenggang ke kantor untuk kembali mengais nafkah, hujan masih saja mengiringi perjalanan. Bahkan, curahnya semakin deras. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: