Skip to content

Jika Ini Benar, Lampu Kuning untuk Berponsel

18 Januari 2015

ponsel bermobil

PERNAH menjumpai pengendara mobil maupun sepeda motor sambil berponsel di jalan raya? Apa yang ada di benak Anda?
Pasti beragam respons seseorang saat menjumpai pengemudi yang asyik berponsel sambil menyetir. Ada yang merasa kesal, prihatin, hingga acuh tak acuh. “Mobil-mobil dia, motor-motor dia, ponsel-ponsel dia, biarin aja dia mau ngapain,” kata seorang teman mengomentari pengemudi yang seperti itu.

Betul, itulah kira-kira respons apatis atas perilaku berponsel sambil mengemudi.

Pertanyaannya, apa yang ada di benak sang pengemudi yang asyik berponsel? Apakah dia tahu ada risiko tinggi akibat perilakunya itu? Bukan hanya risiko mencelakan dirinya, tapi juga mencelakan orang lain. Jika jawabannya tahu, kira-kira inilah apa yang disebut bahwa tahu saja tidak cukup. Tahu, tapi tidak peduli. Gawat.

Terkait perilaku berponsel sambil mengemudi, baru-baru ini ada yang cukup mengejutkan saya. Bagaimana tidak, dalam lima tahun terakhir terjadi lonjakan luar biasa kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh aktifitas berponsel. Bila pada 2010 kontribusinya baru sekitar 1%, pada 2014 menyumbang hingga 12%. Artinya, melonjak hingga sekitar 1.100%. Miris.

Oh ya, kasus itu terjadi di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek). Sebuah wilayah yang dihuni tak kurang dari 15 juta jiwa dengan puluhan juta pergerakan tiap harinya. Tentu saja pergerakan atau mobilitas ini mayoritas memakai jalan raya. Baik untuk sekadar beranjangsana, mencari nafkah, hingga menuntut ilmu.

Kembali lagi soal kecelakaan yang dipicu akibat aktifitas berponsel. Data Ditlantas Polda Metro Jaya yang saya peroleh baru-baru ini membuat saya terperangah. Setidaknya menimbulkan dua pertanyaan besar. Pertama, apakah kian banyak pengendara yang sibuk berponsel sambil mengemudi? Dan, kedua, apakah sistem pendataan kasus kecelakaan sudah kian komprehensif sehingga mampu mendeteksi suatu kecelakaan dipicu oleh aktifitas berponsel?

Apa pun itu jawabannya, jika data ini benar, menjadi sebuah lampu kuning bagi pengemudi yang nekat berkendara sambil berponsel. Sebuah fakta bahwa risiko berponsel sambil nyetir bisa menghadirkan sang jagal jalan raya di tengah-tengah kita.

ponsel dan ngantuk jakarta 10 14

Berponsel, apapun bentuknya, entah menulis pesan tertulis atau berbicara, amat mungkin mengalihkan konsentrasi seorang pengemudi. Apalagi jika pesan yang dikomunikasikan merusak perasaan sang pengemudi, bisa-bisa konsentrasi kian buyar. Kalau sudah begini, kecelakan mudah terjadi.

Saking seriusnya masalah berponsel, Negara mengaturnya di dalam perundangan yang berlaku saat ini. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) melarang pengemudi berponsel. Alasannya, aktifitas berponsel bakal merusak konsentrasi pengemudi. Untuk itu, ancaman sanksi yang diberikan kepada pelaku ini cukup serius, yakni kurungan penjara maksimal tiga bulan. Atau, denda maksimal Rp 750 ribu. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 28 Januari 2015 13:51

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: